Kenangan Baik Berupayalah

Beberapa hari belakangan aku iseng dengan semeluap-meluapnya keinginan membongkar arsip lama. Hahaha berasa tua. Memang. Melihat lagi tugas-tugas, foto-foto sekolah. Ada yang lain, ada yang berkelebat di kepala. Apa? Kejadian beberapa tahun lalu (waktu TK hahaha). Berdua dengan ayah di rumah. Beliau memasak telur dadar dan gosong. Waktu itu aku mengidentikan ayah dengan telur dadar, sebab dikit-dikit telur dadar. Jika ibu keluar, ayah masak telur dadar atau jika ibu agak kurang sehat, ayah dengan senyum sumringahnya masak telur dadar. Aku masih ingat ekpresi ayah saat masakannya dikritik, “Yah, kurang masak dalamnyo yah”, “Kurang masako nyo kayaknyo yah”, “Yah, janlah talua ka talua jo aa”. Lain lagi ekpresi beliau saat, “Yah, lamak bana yah”, bahagia yang gimana gitu.

Ayah, yang fotonya tak banyak ku punya ini berhasil merapikan diri dalam memori. Membuatku percaya dan yakin bahwa kenangan itu adanya di dalam, bukan di tumpukan album, bukan di arsip-arsip melainkan itu hanya penunjang. Banyak kejadian-kejadian yang tak sempatlah diabadikan entah karena waktu itu belum ada kamera, entah terlalu bersahajanya, entah terlalu mencekam atau apalah namun terekam detail dalam ingatan. Bisa diputar dimana saja kapan saja kita mau dan seolah mengalaminya lagi, lagi, lagi dan sekali lagi. Betapa menakjubkannya memori. Masyaa Allah. Saat sebuah kenangan teringat tak lantas hanya kenangan itu saja, namun juga sekaligus rasanya menyertai. Menakjubkan. Entahlah apa yang ingin ku sampaikan, namun aku hanya berharap Allah ijinkan aku menciptakan sesuatu baik yang bisa ku kenang nanti, menciptakan sesuatu baik yang bisa orang lain kenang nanti.

Untukmu yang sedang membaca jika ada aku dalam kenanganmu maka aku mohon, maafkan aku jika kenangan itu bukanlah sesuatu yang baik. Terlalu dangkal dan naif rasanya jika meminta maaf seperti ini, maka bila menurutmu itu bisa diperbaiki, tinggalkan pesan untukku. Dan terima kasih padamu jika itu adalah kenangan yang baik, selalulah adakan aku di dalamnya, jangan di skip.

Moga Ramadhan ini bisa menjadi kenangan manis di masa depan. Mintalah bimbinganNya dan berupayalah.

Advertisements

(Bukan) Nde, Dak Lamak Se Kaniang Den E 

Terkadang terpikir apa sebenarnya yang membuat makanan terasa sangat nikmat, minuman sangat melegakan. Di lain waktu makanan dan minuman yang sama walaupun tetap berasa tapi tetap saja terasa kurang nikmat, kurang badaso. Apa yang membedakannya? Pasti ada.

Sebelumnya aku juga pernah bercerita tentang makanan, yakni tentang satu bumbu yang kadang kurang, yakni syukur. Kali ini selain syukur, sepengamatanku pada diri sendiri, hal yang juga berperan adalah suasana hati. 
Bagaimana dengan suasana hati? 
Saat suasana hatiku tak enak, seenak apapun hidangan, setinggi apapun harganya tetap saja tak terasa nikmat tak terasa enaknya. Aku pribadi yang menyukai mie, martabak mesir, saat suasana hatimu tak enak sama sekali tak berkesan martabak mesir yang dicicipi. Lain hal saat susana hatiku baik, enak. Hidangan sederhanapun terasa sangat berkesan dan nikmat. Apa itu yang sederhana? Ku contohkan yang pernah ku coba: sekali waktu makan siang dengan nasi hangat, sambal lado hijau, goreng ikan asin dan air putih dingin. Sungguh terasa nikmat, hati dan pikiranku di sana menikmati tiap kunyahannya. Apa ya istilahnya, aku makan dengan kusyuk. Badaso

Lalu apakah penting sebenarnya apa yang kita makan? Maksudku seberapa enak dan berapa harganya? Jika itu semua bisa berubah hanya karena tak syukur dan suasana hati? 
Bisalah kiranya makan nasi putih tambah indomie dengan suasana hati yang baik lebih nikmat dari makan KFC dengan suasana hati yang kurang baik.
Lalu apa yang membuat suasana hati kurang baik? Banyak hal tentunya semisal; banyak pikiran, samak pangana, ingat kesalahan, dll. Teringat sabda Rasulullah, “Sesungguhnya benar-benar ada perasaan tak enak atas hatiku dan aku benar-benar meminta ampun pada Allah dalam satu hari lebih dari 100 kali [HR. Abu Daud]”.



Bisa jadi perasaan tak enak itu lantaran adanya dosa. Maka banyak-banyaklah beristighfar (wahai diri). Lah kenapa bisa sampai sini ya? 😮 Hanya karena ingin hati ini tenang dan yang tak mengenakannya lenyap. Agar, makan dan minumpun bisa terasa nikmat. 

“Saat tempat kita duduk kotor, apakah ada yang merasa tak enak? Apakah yang merasa tak enak itu hidung atau kening? Ndee, dak lamak se  kaniang den e. Bukan. Tapi hati yang tak enak. Dak lamak se perasaan do. Lalu bagaimana jika hati itu (bana) sendiri yang kotor? [Ust. Hamdi ~ Bukittinggi]”

Mengakui Sembari Angkat Topi

Bolehkah aku mengakui kelemahan diri sekali lagi tentang dia? Dia. Orang asing itu berhasil menggoda otakku untuk bermain-main dengan khayalan, keinginan dan harapan. Aku dibuatnya harus mengakui kebodohan diri berkali-kali. Aku dibuatnya seperti dua orang dalam satu kepala. Aku dibuatnya putus asa berkali-kali. Aku dibuatnya ingin berkali-kali lupa ingatan dan menyesal lagi. Dia, orang asing itu teramat jauh untuk bisa mendengarku. Saat ini aku masih penasaran dan mengamati ambang batas kebodohanku. Seberapa lama lagi dan sejauh mana aku akan bodoh, membodohkan diri dan mengakui kebodohanku. Berbanding terbalik denganku, sementara si orang asing itu terus bertambah kepintarannya. Ketimpangan yang nyata. Manusia satu ini bertambah bodoh sementara manusia asing itu bertambah pintar hingga takkan bisa lagi disetarakan. Yang seperti ini adalah kebodohan, dan sekali lagi aku mengakuinya sembari angkat topi. 

A 2017

Assalamu’alaikum, long time no see. Moga kamu yang membaca dalam ‘afiyat. 

Selayaknyalah pada tiap kesempatan, harapan baru, awal baru yang diberi kita bersyukur. Kesempatan untuk memperbaiki diri, memohon ampun dan kesempatan untuk menjadi sesuatu. Tahun 2018, betapa tak menyangkanya bisa sampai di tahun ini. Mengingat banyaknya kesalahan di 2017. Tak berarti di tahun-tahun lain kesalahanku tak banyak, hanya di 2017 hal itu makin menjadi-jadi. Ba galemak peak. Banyak hal yang terjadi. 

Namun di 2017 jugalah banyak hal yang ku dapat. Salah satunya, diberi kesempatan melihat sisi lain dari dua terkasih yang selama ini tak kunjung terlihat. Jadilah lebih mengenal, lebih memahami serta lebih mencinta mensyukuri. 

Salah dua, dipertemukan dengan orang-orang tua baru yang tak segan menasihati, memarahi dan nyinyir. Di antaranya ada guru yang bisa menyentil bagian terdalamku, mengajari untuk melihat sesuatu secara lebih dalam dengan sudut pandang yang beda. Betapa bersyukurnya dipertemukan dengan beliau-beliau. Menyadari betapa menakjubkannya Rabb-ku dan dengan Segala KemahaanNya, betapa menakjubkannya juga diri ini sebagai ciptaanNya, betapa menakjubkannya segala keterkaitan di alam semesta ini. Seluruhnya!

Salah tiganya, melihat, mendengar dan membaca kisah-kisah nyata tentang cinta sejati, seseorang yang mencintai dengan tulus serta kisah nyata tentang cinta lainnya yang membuatku haru. “Jikalau kamu tak mendapati sesuatu yang ideal, bukan berarti sesuatu yang ideal itu tak ada”.

Jadilah di 2017 lebih mengenal diri sendiri. Dengan sudut pandang berbeda, melihat posisi diri berada dimana di antara mereka, beliau-beliau. Sungguh, sebenar-benar sungguh tak ada apa-apanya. 

Tak ada selain syukur atas kesempatan yang telah diberi. Moga bisa lebih baik dari diri yang lalu, moga bisa mensyukuri tiap kesempatan yang diberi baik dalam wujud syukur hati, lisan dan perbuatan. Amiin ❤😇 Begitu jugalah hendaknya denganmu. 

Yang Sulit Itu

Assalamu’alaikum. How are you? Hope you are awesome! Wanna tell (share) something to you. Its personal but never mind. 

Dulu aku termasuk orang yang tidak bisa sama sekali sarapan walaupun hanya segelas air putih, terlebih makanan berat. Memangnya apa yang terjadi jikalau sarapan? Lebih tepatnya dipaksa? Berakhir dengan berlama-lama di toilet. 

Lalu saat SMA aku belajar untuk sarapan walau hanya segelas teh hangat. Bisakah itu disebut sarapan? And then what? Seperti yang lalu, berakhir si toilet but it was makes me happy. Sampai akhirnya aku mencoba kopi dan fallin love with. Until now, all of them. Aroma, warna serbuknya, pusaran air saat mengaduknya, sensasi saat menyeruputnya dan lain dan lain. 
Aku tahu cintaku pada kopi keterlaluan dan akupun tahu suatu saat harus berhenti. “But not now, not now”, sesuatu berbisik. Bukannya aku tak tahu dampak dari cinta keterlaluan ini. Magh? Yep. Panas dalam? Yep. Ketagihan? Yep. Deg-degan? Yep kadang. Aku tahu, aku percaya tapi tak kunjung meyakini. Sampai beberapa waktu lalu aku bertemu seorang yang sudah kuanggap orang tua sendiri. “Sia yang maagiah wak kopi ko?” (I am) “Wak dak minum kopi, pi dak baa do”. Saat itu hanya tak habis pikir kenapa beliau tidak minum kopi? Jujur baru sekali itu aku bertemu orang yang tak minum kopi, at least beliau adalah laki-laki. Tak lama kemudian aku ditegur oleh seorang ibu dokter. “Minum kopi?”. “Yo Buk”. “Jan minum kopi jo lai dak. Wak mudo baru”. “Parah bana Buk?”. (I mean my heartbeat. Are you kidding me? She is a doctor and tell me to stop. What exactly? I am scared!). “Dak lo do. Pi baranti minum kopi labiah ancak”. 
Sampai dua hari yang lalu aku merasa, mungkin ini saatnya (Oh drama queen!). What you say? Sulit bukan untuk berhenti atau katakanlah menjauh dari sesuatu yang dicintai dengan luar biasa? Teringat saat berhenti mencintai mie instan. Sulit di awal pasti, tapi sukses and I proud of. Tapi, berhenti mencintai bukan berarti membenci ya. Memang benar ya kata orang-orang tua, “Yang sulit itu membiasakan sesuatu yang tak biasa dan menidakbiasakan yang biasa. Wisely to choose your (gonna be) habbit. 

Taragak (kan iko ;))

Assalamu’alaikum, pagiiiii. . . Lama tak bersua ya. Rasa-rasanya belum ada sesuatu bermanfaat yang bisa kubagi. Tapi, tapi. . . Taragak! Ka dipangakan (lai). Kan iko. 😉
Sehatkah kamu? Semoga baik, membaik dan lebih baik. Apapun kegiatan urusanmu (yang baik) semoga dilancarkan saja serta dipermudah. 

Beberapa waktu belakangan aku sering membuka Wattpad, membaca beberapa tulisan. Bedanya tulisan-tulisan di sini (yang telah dibaca) lebih ringan dibanding buku dan terkesan dramatis juga sepertinya. Tapi bagaimanapun itu, selalu bisa diketemukan sesuatu yang priceless. 
Ada beberapa ‘sesuatu’ ingin kubagikan. Saat membacanya, mengimajikannya, sesuatu itu terasa sangat menyentuh bagiku. Berbekas hingga berhari-hari lalu berubah wujud hingga tersimpan di memori. Aziiiiii 😱 Entahlah jangka panjang atau tidak, yang jelas bukan jangka pendek. Harapanku adalah agar kamu mendapatkan yang sama sebagaimana aku.

★ Tiap-tiap orang punya sejarahnya sendiri hingga ia bisa berwujud, berperilaku, bersikap, berkepribadian sebagaimana ia sekarang. 

Sebagaimana juga kita bukan? Sah-sah saja bagi kita untuk menilai orang lain. Timbal baliknya sah-sah saja juga bagi kita untuk dinilai orang lain. Bagi kita yang menilai terbedalah secara sadar atau tidak bagaimana kita dari cara kita menilai orang lain. Menilai dari yang terdengar(saja)kah, dari yang tampak(saja)kah, menilai dari mendengar melihat mengamati. Menilai dengan matakah, menilai dengan telingakah, menilai dengan hati dan otakkah. Menilai dengan ‘karek kayu’kah, menilai dengan mencoba mengertikah. Menilai dengan tujuan asal ada yang ‘ka dipakecekan’kah, menilai dengan tujuan ingin membantukah, menilai dengan tujuan ingin memahamikah, menilai dengan tujuan ingin bergaulkah. Semua itu berbalik ke diri kita masing-masing juga.

★ Hati sekeras apapun, pintu yang tertutup serapat apapun, luka separah apapun akan luluh juga dengan kasih sayang yang istiqamah. Namun bagaimanapun itu, tentu dengan izinNya jua.
Dua di atas adalah yang paling berbekas dari sekian banyak. Semoga harimu menyenangkan dan diberkahi. Untukmu yang sedang dihadapkan pada pilihan, moga Allah beri petunjuk serta dimantapkan hatinya. Untukmu yang sedang berbahagia, bersyukurlah terus dengan cara yang sesuai dan akupun turut berbahagia. Untukmu yang sedang dalam susah, moga Allah tebalkan yakinmu menghadapinya hingga mudah saja bagimu melaluinya. Untukmu yang sedang berjuang dalam sesuatu, moga niatmu diluruskan dan keyakinanmu dimantapkan. Aamiiiin ❤

(pasaweknyo) Yakin

Terngiang-ngiang di telinga ucapan seorang guru sebagai penutup sebuah analogi yang disampaikannya saat menjelaskan sebuah doa. “Tapi yo, yakin pasaweknyo. Yakin wak atau indak. Sajauah ma ma’rifatullah wak”.
“Jam tangan baru wak rusak, dak bisa iduik. “Baa ka aka ko?”. Tarago bapikia takana, “Eh, si ano (tukang jam) ado”. (1)Takana itu se lah lapang pangana. “Nyo bisa tu mah”, (2)wak yakin nyo bisa melokan. 

(1)Baa kalau pas wak ado masalah, wak langsuang takana ka Allah. “A, dek Allah bisa tu”, “Ado tu (jalannyo) dek Allah”. Padahal Allah tu Maha Atas Segala Sesuatu, segala sesuatu itu ado dalam kuaso Allah.

(2)”Lai bisanyo tu?”. Tapi iyo pasaweknyo yo yakin. Ka tukang jam ge kok wak dak yakinnyo bisa, dak bisa juo.