Diri Sendiri

Bagaimana kabarmu? Semoga dalam ‘afiyat. Puasamu? 😀

Banyak cara yang tersedia sebagai jalan mengenal diri sendiri. Kalau orang lain? Ya, pandai-pandai kamu lah. Kepo aja. Bisa dengan bertanya bagaimana pendapat orang mengenai kita. Bisa dengan mengamati diri sendiri saat melakukan perjalanan. Bisa dengan ini dan itu. Dan, cara yang paling rahasia adalah dengan jalan ujian dari Pemilik diri. Bagaimana saat dihadapkan dengan suatu yang tak disukai? Katakanlah kejadian, keputusan, hasil dari usaha. Pun bagaimana saat dihadapkan dengan suatu yang disukai? Berada dalam kesehatan dan materi yang cukup, seberapa bersyukurkah atau tidaknya. Berada dalam sakit, seberapa sabarnya? Pengenalan diri yang seperti ini tidak dapat dibohongi. Melalui jalan ini, kita tahu seberapa kadar sabar, seberapa kadar syukur, seberapa kadar rida, seberapa kadar iman, seberapa kadar yakin dan seberapa kadar diri sebagai manusia yang diharapkan. Tak perlu orang lain tahu, sebab tak pula ada gunanya. Maka dari itu barangkali, ujian tiap orang itu berbeda-beda. Sesuai dengan kadarnya diri. Entahkah tepat dijadikan contoh atau tidak. Ujiannya sama-sama sakit. Namun bagi diri yang satu antok-antok saja, sementara diri yang lain mengeluh kepanjangan.

#JumatMubarak 😀

Advertisements

Dia Terlalu Elegan Untuk Yang Seperti Dia

Mengamatinya dari jauh akhir-akhir ini menjadi rutinas baruku. Dan aku suka. Yah tak lantas kukatakan ini hobi baruku. Hanya saja suka jika ada dia dan mengamati dia. Setelah beberapa lama inipun, tiap kali mengamatinya dari jauh tak pernah berkurang rasa deg-deganku. Terkadang takut jika tertangkap basah sedang mengamatinya. “Creepy”, aku tak ingin ia berpikir demikian. Terkadang juga takut ia akan berubah sikap terhadapku, terkadang juga takut membuat ia merasa canggung. Setiap pagi dia telah ada di sana, bernafas di udara yang sama denganku, melihat gunung yang sama denganku, pun setiap sorenya ia masih bermain di sana kadang dengan burung dan kadang dengan padi. Aku tahu dia merasakan itu. Perasaan saat diperhatikan oleh seseorang. Ouch! Kadang dia curi-curi melihat ke arahku. Kadang ia bersuara yang tak ku mengerti namun seakan aku paham maksudnya, dan aku senang dia berespon.

Jika aku tak salah mengingat, ini masuk tahun kedua ku begini. Waw, aku sebut begini. Like I’m fall in love. Tidak tepat juga begitu. Hanya saja aku merasa ia menjadi temanku untuk tahun-tahun lesuku. Tahun-tahun ini cukup banyak pergolakan tak tampak dalam hati dan pikiranku. Pergolakan yang kadang membuatku ingin bersembunyi di gunung. Pergolakan yang membuatku teramat sangat menginginkan jika bangun tidur aku berubah lagi menjadi aku yang berusia 5 atau 6 tahun. Usia dimana tak ada yang kutakuti, bahkan hantu sekalipun, karena aku sungguh percaya dengan ibu dan ayah yang pernah mengatakan bahwa Allah Pencipta Segala Makhluk. Pergolakan yang kadang membuatku lupa sudah berapa hari tidak makan dengan benar, pergolakan yang membuat orang berkomentar, “Kamu kurusan Sa”. Aku tidak suka saja dengan kalimat itu. Entah mengapa. Aku lebih senang jika ada yang bilang, “Gapuak sa kini”. Sekali waktu aku bertemu seorang teman yang berkata demikian, “Gapuak sa kini”, “Syukurlah”. “Eh, nio gapuak Sa?”. Oke, aku tahu ini tak seperti yang dia prediksi. “Iyo, nio gapuak”. Kembali kepada ia yang kuamati tadi. Gilakah jika aku katakan aku bahkan beberapa kali curhat padanya, ya walaupun ia tidak memberikanku perhatian penuh. Dia tetap saja membelakangi ku dan asyik dengan apapun aktivitasnya. Namun aku senang jika dia merespon dengan suara yang hanya dia yang bisa dan aku telah paham maksudnya, dengan tatapan yang sesekali itu. Aku tak pernah tahu apa ia juga menganggapku teman atau tidak hanya saja di setiap senja menjelang magrib, di setiap perpisahannya, di setiap aku harus masuk ke dalam rumah dan menutup jendela kami berpisah dengan cara yang unik. Jika diingat sekarang aku juga amazed dibuatnya. Adakah perteman semacam itu? Atau hanya aku saja? Pertemanan bertepuk sebelah tangan. Uh.

Aku pindah, dan tak lagi pagi dan senja menjadi waktuku bertemu dan berpisah dengannya. Dia hanyalah dia dengan segala yang ada padanya. Aku meghargainya dengan segala yang ada padanya. Mengamatinya dalam waktu yang cukup lama itu, membuatku banyak merenung tentang dia dan aku, tentang hidup dan tentang mati. Bertemu dan berpisah tiap pagi dan senja dengannya membuatku teringat lagi bahwa hidup tak hanya tentang materi, aku belajar mencintai melaluinya. Hebat bukan, dari dia aku belajar lagi mencintai. Mencintai diriku sendiri, lingkungan, dia, keluargaku, kehidupanku, dan pasti Tuhanku. Melalui dia aku berlatih kembali melihat ke dalam mata, ya paling tidak matanya dan mataku. Melalui mata itu, aku belajar tahu bagaimana perasaaanya hari ini. Mungkin kamu akan bertanya, “dia punya perasaan?”. Aku dengan lantang menjawab, “Iya, sama sepertiku”.

Di bawah ini aku menyertakan gambar dirinya yang tertangkap olehku. Saat mengambil gambar ini aku hanya berpikir untuk bisa mengabadikannya, karena firasat untuk berpisah itu semakin kental. Kamu tahukan, terkadang kamera membidik tidak sebaik mata, ingatan dan hati ini membidik? Dalam ingatanku, sebelum mengambil gambarnya aku yang sedang gloomy berhasil ia buat tersenyum dengan pose ini. Dia terlihat sangat elegan olehku, maaf aku teringat waktu itu membayangkan ia berlenggok di panggung. Sebelum pose yang tertangkap kamera ini ia terlihat sangat asyik bermain dengan burung-burung, dia senang berteman, dia senang berlari-lari kecil. Sore itu dia cukup ceria walaupun cuaca tidak begitu cerah. Aku lalu memangginya dengan nama yang hanya aku yang memanggilnya itu, lalu ia perlahan berpaling dan melihat ke arahku. Dan kubidiklah. Aku akui aku kalah anggun jika dibandingkan.

 

Si Kabau

Si Kabau Nan Elegan

Iya, dia si Kabau nan elegan :))

Disigi

“O Buk. Ibuk punyo onde-onde saasoi. Tasasak karaia dengan kondisi dak mungkin mambaok onde-onde ko. Ba carilah tampek manitipan. Baa Ibuk mancari urang nan bisa dititipan onde-onde ko? Bapikiakah? Atau sumbarang tumpangan se? Amuah Ibuk manitipan onde-onde nan saasoi tu ka urang nan rambuiknyo kusuik, sarawa cabiak sana sini, ma ilia-ilia salemonyo, banyak tindiak-tindiaknyo, garumbuih tumbuih se gayanyo? Amuah Ibuk?”. “Lah ka jaleh se dak amuah Ustad”. “A, itu lai onde-onde nan saasoinyo. Kunun lah ka kunun. Apolai anak gadih wak batitipan ka sumbarang urang. Pariso banalah dulu, di sigi elok-elok. Kok agamonyo, parangainyo, a karajonyo, sia se kawannyo dan lain sabagainyo”.

Analogi sekali ini benar-benar nanar panganaku dibuatnya. Hampir setahun yang lalu memang, tapi tetap saja membekas. Secara tidak langsung pesan ini teruntuk orang tua dan wali dari seorang anak perempuan (gadih). Ku transkripkan dalam bahasa aslinya, agar tidak hilang rasanya.

Siapa Kita Hingga Harus Didengarkan?

Ada kalanya, atau lebih tepatnya sering kalanya ucapan kita tidak didengar. Jangankan akan dilakukan, dipertimbangkan, didengarkan saja tidak. Ucapan yang seperti apa? Ya, dimulai dari yang sederhana-sederhana saja hingga berangsur berat. Mulai dari ,”Banyak-banyak minum air putih”, pada adik. “Rajin-rajin membaca”, nasihat guru pada murid, “Pabanyak zikir”, pesan guru pada muridnya di lain waktu. “Jan batandang ka batandang juo”, nasihat suami pada istrinya. Ada lagi kutipan-kutipan yang ingin ditambahkan?

Bosanlah, beratlah, muaklah jika telah berulang kali menasihati tidak kunjung ada perubahan, tidak kunjung dilaksanakan. Marah. Lalu tak sengaja muncul pertanyaan ini, “Siapa kita hingga harus didengarkan?”. Akan menjawablah kita (juga), “Ibunya/ayahnya, gurunya/kakaknya/temannya/suaminya/istrinya/lain sebagai lain sebagai”. Jangankan kita sebagai ini itu, sedangkan Nabi kadang juga tak dihiraukan. Jangankan kita sebagai ini itu, sedangkan Tuhan kadang juga tak didengarkan. Lalu? Aku menyamakan ini dengan apa yang Nabi dan Tuhan sampaikan? Jelas tidak. Sama dengan kalimat ini, “Jangankan lurah, Presiden saja tak ia dengar”. Nah begitu.

Processed with VSCO with p5 preset

Lalu pada akhirnya, sampaikanlah jika sesuatu harus disampaikan. Jangan berhenti menasihati hanya karena tidak didengarkan. Menyampaikan yang baik bukan untuk didengarkan, bukan untuk memaksa orang berubah, bukan untuk memastikan dilaksanakan. Namun menyampaikan yang baik dengan niatan Lillah. Entah akan didengar atau tidak, dijalankan atau tidak, bukan kewajiban kita. Tugas kita menyampaikan. Oh, perkara ia sadar, perkara ia paham bukan tanggungan manusia. Jadi mulai ini ke depan jangan lagi kecewa jika tak didengarkan. Jangan lagi berhenti. Karena jika kamu kecewa dan berhenti wahai diri, berarti ada yang terkilir dengan niatmu menyampaikan.

(Karena) Kenaikan Tiket Pesawat

Cukup lama lalai, assalamu’alaikum 🙂 semoga yang membaca dalam keadaan ‘afiyat. Bagaimana hari-harimu yang telah dilalui di tahun ini? Moga selalu ada suatu kebaikan yang engkau dapat.

Amat berkesan sekali rasanya perjalanan beberapa waktu lalu. Aku pribadi sangat menyukai sebuah perjalanan menuju suatu tujuan. Dari yang sederhana, berjalan kaki, naik angkot, naik motor, perjalanan dengan pesawat ya walau baru menyeberang pulau saja. Dan kemarin perjalanan dengan bus pertama yang benar-benar sendiri. Dalam tiap-tiap perjalanan yang kunantikan adalah hal apa yang diperlihatkan, diperdengarkan dan dirasakan padaku. Pelajaran yang ku dapat pada tiap-tiap perjalanan biasanya lebih meresap ke dalam dibanding yang penutur bahasa-bahasa langit sampaikan. Dan kemarin, sekali lagi sangat berkesan. Selain pengalaman pertama, aku berkali-kali dibuat haru akan KeMahaHalusan Allah dalam segala sesuatunya. Terasa alaykah jika menceritakannya? Biarlah ya, aku hanya tidak ingin melupakannya. Dan jika lupapun nanti, ini setidaknya bisa mengingatkan.

Beberapa menit sebelum berangkat masih protes dalam hati sebab kenaikan harga tiket pesawat. Bus stand by di Taluak. Datang terlambat beberapa menit karena biasanya kalau, “Bisuak barangkek jam 09.15 yo. Lah tibo di siko jam satangah 9”, biasanya berangkat paling tidak jam 10. Jam sembilan kurang ditelpon lah, “Lah dima kini?”, “Di jalan pak”, “Eh, baa kok talaik? Bus lah stand by yo”, “Maap pak, sakik paruik (beneran)”. Sesampai di sana memang sudah ramai hampir tak ada tempat untuk parkir. Malu jadinya sekaligus senang akan tepat waktunya. Rasa-rasanya lebih emosional dari pada naik pesawat. Bolak balik peluk ibu, sampai akhirnya duduk di bus saja dari pada ibu lihat ada yang menggenang. Bus dinyalakan, ibu naik ke atas, pelukan lagi. Syukur matanya masih bisa kompromi. Di depan ku duduk ibu dengan anak gadisnya serta di depannya sepasang suami istri dengan gadis kecilnya, dua apak-apak di belakang, laki-laki seusia di sebelah, ante-ante dan suaminya di seberang yang di depannya seorang ibu dengan anaknya dan di belakangnya duduk seorang ibu dan uda-uda. Beberapa menit sebelum berangkat beberapa orang di luar melambai-lambai ke arahku. Oh bukan, ternyata teruntuk yang di sebelahku. Dan dia juga melambai-lambai (mandadah-dadah). Pemandangan langka dan aku sangat menikmati.

Pemberhentian pertama tidak pada tempat biasa berhenti. Kali ini di masjid pinggir jalan. “Baa kok baranti pak?”, ada yang bertanya. “Mambasuah anak dulu”. Sekalian shalat. Perjalanan berlanjut dengan pemberhentian berikut di Gunuang Medan sorenya. Tidak ada persiapan selain minum yang kubawa, di sana aku beli masker dan tisu. Dari pagi sampai sore diam-diam saja dengan teman sebangku rasanya kurang nyaman. Ingin memulai sedari tadi sebenarnya saat scene lambai melambai, tapi banyak tapi. Tak lama setelah jalan lagi dia memulai (akhirnya). Orangnya cukup terbuka hingga banyak yang ia otakan (atau aku yang banyak tanya?). Lewat ota aku dibuatnya tertarik kedua kalinya setelah scene lambai melambai. Merasa tak ada apa-apanya aku. Saat tahu tujuanku ia menimpali, “wuiiih”, “Ado niaik dak untuak lanjuik sakola?”, “sananyo wak nio bana lanjuik sakola”, “Iyo lanjuiklah, kan ado paket. Mentri se ambiak paket a”. Dia marantau setamat SMP ke kota B sendiri (baru sampai situ saja aku sudah waw), sudah merintis usaha sendiri (waw lagi), dia juga menekuni photography dan programmer (waw lagi), hasil kerjanya disisihkan untuk memperbaiki rumah (waw lagi), selama beberapa bulan di kampung ia juga maolah gamis (waw lagi) dan satu waw lagi, dia tidak terlihat tidak percaya diri melainkan juga optimis. Semoga Allah berikan yang terbaik untuknya. Sebenarnya banyak hal yang ingin ku tanyakan, terlalu banyak malah hingga takut akan membuatnya tidak nyaman. Akhirnya mulut di rem dan bertanya-tanya sendiri lalu menjawab kemungkinan-kemungkinan saja sendiri.

Ante-ante dan suaminya yang di seberang, terlihat sangat manis berdua. Si om menyelimuti, mereka melakukan hal-hal biasa saja sebetulnya hanya caranya terlihat manis bagiku. Berbagi makanan, mengobrol, turun bus bersama, menunggu ante yang ke kamar mandi dan lainnya. Sekitar jam sebelas malam berhenti selanjutnya. Kami shalat, aku akhirnya makan bekal tadi pagi. Ada yang berubah memang aromanya, tapi tak apa. Telur dadar ibu masih terasa enaknya. Ibu dan anak gadis di depan ku manis sekali sedari Gunuang Medan, mereka makan bekal berdua. “Pai liburan”, terang beliau. Pemberhentian selanjutnya subuh di Lahat. Karena tidak membawa perlengkapan bersih-bersih jadilah beli di tempat. Selesai shalat aku beli teh manis hangat. Kembali ke bus, si teman sebangku tiap kali naik setelah berhenti selalu terlihat segar lagi (waw lagi). Lah aku, peduli penampilan saja tidak, turun hanya untuk yang wajib-wajib saja.

Sumatera Selatan memang cukup panjang. Siang sebelum Jumat berhenti dulu. Aku lapar tapi tak berani makan, takut-takut perut tak bisa diajak kompromi. Jadilah membeli susu dan sari kacang hijau (maha!) saja. Berhenti cukup lama, lebih sejam ditambah lagi ganti ban. Mengobrol di rumah makan dengan ante dan suami serta ibu di belakangnya. Tak banyak yang bisa diotakan dengan ante sebab ada suaminya, segan aku. Banyak mengobrol dengan ibu. Ternyata urang mangaleh. Sepanjang maota, beliau hanya menyinggung tentang anak dan bagaimana ia manggaleh. “Apak baa buk?”, gatel. “Apak dak ado lai, lah pisah”, aku tak berani timpali lagi, beliau yang banyak cerita. Beliau terlihat tenang dengan cerita hidup yang tak kalah berat menurutku. Seorang ibu itu memang teramat luar biasa. Banyak pelajaran yang kudapat dari beliau. Di antaranya bahwa tiap-tiap orang berhak atas kebahagiaannya. Benar ada kewajiban yang harus dilakukan, namun juga ada hak yang harus diterima. Allah Maha Adil dalam segala sesuatunya, Maha Halus dalam mengatur segala sesuatu hingga segala sesuatu itu berhubungan langsung tidak langsung dengan hidup kita. Ada satu lagi gadis yang sedari tadi sendiri dan tak tampak mengobrol dengan siapapun. “Surang se? “ Angguk. “Ka pai kama?”. “B”. “Manga tu?”. “Kuliah”. “Akak?”. “D”. “Lah bara kali naiak Bus?”. “Lah duo kali kak”. Dari bahasa tubuhnya bisa dikatakan dia masih was-was tapi berusaha yakin berani. Satu lagi yang aku baru tahu, tenyata jika makan di sini, mengisi baterai hpnya tidak bayar.

Perjalanan selanjutnya cukup melelahkan untukku. Selain cukup jauh jarak pemberhentiannya, entahlah kenapa mood juga tidak begitu baik. Lampung ternyata cukup panjang. Aku menyandarkan kepala ke jendela untuk beristirahat. Banyak mengeluh saja sepanjang jalan, walau memang dalam hati tetap saja mengeluh. Leher yang sakit karena keseringan miring ke kanan, tulang pipi dan pelipis mata kanan sering terantuk saat tertidur yang akumulasinya cukup sakit juga. Mau miring ke kiri takut yang di sebelah kena kalau ketiduran. Dan lagi epanjang jalan pemandangannya tercemar foto-foto caleg, cahayanya cukup silau. Entah kenapa moodnya bertambah tidak baik saat orang sebelah telponan dengan ibunya. Terdengar sangat akur dan manis, mungkin sebenarnya aku iri. Ingin sekali juga bercakap dengan ibu hanya aku takut akan badarai dan dilihat orang. Pemandangan penghiburnya adalah saat melihat ke luar, ada hamparan laut dan siluet kapal-kapal yang tersusun tambah menawan dengan warna langit saat matahari berangsur-angsur tenggelam. MasyaaAllah. Hingga akhirnya sekitar delapan malam, berhenti di rumah makan sebelum naik kapal. Sebelumnya shalat, lalu makan. Hmm, aku masih ingat nasi badatuihnya yang terkesampingkan karena saking litak. Ditambah teh manis hangat, Alhamdulillah akhirnya merasa lengkap kembali. Ibu menelpon dan tak bisa tidak, badarai juga akhirnya. Tak tertimbang lagi ada ibuk-ibuk dan bapak-bapak yang melihat. “Manangih ca? Jan manangih lo”. “Lain lo sadiahnyo pai naiak bus ko Bu. Mungkin dek lamo di jalan. Patang tu mungkin dek pulang jadi bisa jo galak”. “A bisuak pai jo pesawat se lah kalo gitu”. “Ee, dak gitu lo do Bu, dek pertamo mah”. “Yo lah, jan manangih jo lai. Apuih aia mato tu. Ati-ati di kapa yo”.

Setelah makan moodnya lebih baik, bisa senyum dan maota lagi. Masih Lampung Selatan, sisa perjalanan menuju pelabuhan banyak berlubang, terlebih malam dengan penerangan yang cukup minim goncangannya lebih “sering”. Tiba di pelabuhan sekitar jam sepuluh malam. Di awali pemeriksaan bagasi lalu antri. Karena merasa waktu berpisah semakin dekat, akhirnya memberanikan diri bertanya hal yang sebenarnya tidak penting ditanyakan. “Bara lamo wak di kapa A (anggap inisialnya)?”. “Bisa duo jam atau duo satangah jam kalaunyo baranti di tangah beko”. “Manganyo baranti? (seriously)”. “Yo antri untuak manapi, kalau ado beko kapa yang alum kamanapi tu ditunggu dulu, bongka muatan lo nyo dulu”. “Oo iyo-iyo (pertanyaan bodoh)”. “Sakali ko sa naiak kapa baru?”. “Lah duo kali tapi dulu kapa yang duo tingkeknyo”. “A kini tigo tingkek. Bla blab la”. Berakhirlah dengan penjelasannya tentang kapal tingkat tiga ini dan nasihat-nasihat agar nanti aman di kapal. Rasanya seperti anak yang dinasihati bapak-bapak. Jauh di dalam aku ucapkan terima kasih. Turun dari kapal aku pegangan dengan ibu dan adik gadis yang ku lupa namanya (tapi lah taujuang). Tak seperti kapal dua tingkat yang hanya naik satu tingkat, di kapal ini naik dua tingkat agar bisa istirahat di tempat yang sudah disediakan. Ada TV nya pula, toiletnya bersih, ya bersih dan bersih. Kami nonton di dalam, dua film.

Beberapa lama, aku ijin keluar melihat laut. Pemandangan pertama yang ku lihat adalaaaaaah ante dan suaminya sedang maota uh dan itu membuatku senyum-senyum kagum. Moga Allah berkahi keluarga mereka. “Jak tadi ante siko?”. “Iyo, mancaliak lauik”. Hilang, kami sama-sama menikmati lampu berkelip-kelip di tepian sana, menikmati riak air laut yang terlihat berwarna keemasaan terkena cahaya lampu dek kapal. Angin laut malam yang cukup sejuk walau masih terasa hangatnya tapi tak seberat siang atau sore hari. Sejenak aku lupa perpisahan, lupa bahwa tadi menangis, lupa masih ada perjalanan lagi hingga ante sentakan dengan pertanyaan, “Jak tadi lai jalan wak goh?”. Senyum. “Lai nte, kan tingga kapa sabalah nampak dek ante tu a. Caliak aia lauik ko nte, taraso wak jalan mah”. “Yo bana lah”. Senyum. Suaminya menimpali, “Cubo tanang Ta santa, taraso kapa bajalan tu”. Mengganggu rasanya. Ingin segera meninggalkan mereka, ku keluarkan hp dan mulai mengambil beberapa gambar. “Elok-eloklah, jatuah hp tu dak bisa diambiak lai. Sakik paruik om mancaliak a”. “Aman InsyaaAllah om, pacik kuek-kuek”. “Ntah iyo sakik paruik nte mancaliak a”. Karena tak ada yang terlihat selain lampu-lampu kecil, akhirnya aku hanya merekam air laut yang terkena sinar lampu kapal.

Tak beberapa lama oom yang sakik paruik keceknyo tu pun mengeluarkan hp dan mengambil gambar laut, “Tagak lah ta sinan a, bapoto ciek tando naiak kapa”. “Dak dek uda tu do”. Senyum diam saja kita. “Om, nte sa kaliliang dulu dih.”. “Dih”. Memang agak canggung berjalan sendiri sebab kebanyakan yang memenuhi jalan adalah laki-laki. Mereka ada yang tidur di lantai, ada yang merokok sembari menatap laut. Tak berani lama-lama, menghampiri ante lagi untuk pamit masuk ke dalam. Di dalam ternyata tak kalah seru, hampir sebagian besar lantai dipenuhi orang-orang tidur. Raso ka lamak lo. Maota dengan ibuk dan pak (ku lupa namanya, hanya ingat beliau tinggal di Inkorba). Tujuan kami sama, D. “Urang mangaleh apak?”. “Ndak. Baa tu? Bantuak urang mangaleh gaya apak yo?”. Seterusnya aku lanjutkan menonton, meninggalkan tetua untuk mengobrol yang mulai terdengar berat. Jam setengah tiga pagi akhirnya kapal menepi dan kami kembali ke bus. Tidak tidur di kapal, berniat harus tidur di bus. Berusaha tidur namun was-was waktu Subuh masuk.

Tiba-tiba terbangun saat hujan dan beberapa orang naik ke bus. Ternyata hanya berhenti makan, masih jam 4 pagi. Tidak melanjutkan tidur lagi. Jalanannya cukup sepi, semakin dekat dengan perpisahan. Sedikit sedih. Dua malam tiga hari menurutku adalah waktu yang cukup untuk tidak menjadi asing lagi. Jikalau nanti bertemu lagi walaupun lupa nama, namun mereka bukan orang asing lagi bagiku. Terminal pertama, Kali Deres. Banyak yang turun di sini. Ante dan om, apak-apak dengan tiga anaknya, banyak lagi. Seketika menjadi sepi. Teman sebelah pindah bangku agar bisa duduk dengan nyaman. Dia melanjutkan tidur, banyak juga yang demikian. Tidak ada berhenti shalat subuh, jadi shalat di bus saja. Sesampainya di Pulo Gebang, mataharinya sudah cukup naik. Tujuan kota B pindah ke bus satu lagi, sementara bus ini tujuan D. Akhirnya berpisahlah dengan ibuk, adik gadih, teman sebangku, ibu dan anak gadih dan ante-om dengan bayi mungilnya. Cukup sedih, sebab telah banyak cerita dengan ibuk. Semoga dan InsyaaAllah Allah pelihara mereka dimanapun berada. D, perjalanan selanjutnya. Pak Inkorba yang kulupa nama beliau, turun pertama. “Apak turun siko yo sa. Doakan lancar se urusan apak. Sa pun elok-elok yo”, disertai senyum kebapakannya. Pemberhentian terakhir, dan perjalanan dengan bus selesai dengan, “Makasi banyak yo pak”. Karena cukup banyak barang, selanjutnya dilanjutkan dengan Grab. Jam setengah delapan mendarat di kosan. Akhirnya, Alhamdulillah walau cukup penat dan kaki bengkak namun menyenangkan.

Tidak semua yang terjadi dapat kuceritakan. Namun pada akhirnya, kenaikan harga tiket pesawat ketika itu aku syukuri. Sebab diperantarai itulah aku bisa naik bus, bertemu beliau-beliau yang ku temui, melihat hal-hal yang kulihat, mendengar hal-hal yang kudengar dan merasakan yang kurasa. Bajelo kok dirantang. Dak dirantangpun lah bajelo-jelo. Hahaha XD Naik bus yang semula menjadi momok bagiku, setelah dijalani ternyata tidak seperti itu. Seorang guru pernah berkata, “Allah itu Maha Halus (Al Latif), Mengetahui yang Tersembunyi. Kita terkadang tidak sadar bahwa sedang diarahkan kepada sesuatu. Coba tilik lagi ke belakang, bagaimana perjalanan hidup kita. Apakah banyak yang sesuai dengan yang direncanakan?”. Kalimat ini kudengar tepat seminggu setelah perjalanan. Dan kesemrautan berpikirku terwakilkan dengan kalimat beliau.

Takanai

#JumatMubarak

Seminggu belakangan ada beberapa peristiwa atau katakanlah momen yang cukup menyita perhatianku. Tidak hanya perhatian namun juga pikiran dan perasaan. Bahkan sebenarnya tidak hanya aku, mungkin kita semua. Tsunami di Selat Sunda dan Natal. Tsunami Selat Sunda, selain bencana fisik yang terjadi tiba-tiba dengan berjuta duka didalamnya, untukku pribadi menjadi bencana mental juga. Aku tidak ingin mengurui, hanya saja rasanya patut untuk menyampaikan sesuatu yang kuyakini benar. Jika dilihat berita, dilirik sosial media sangatlah teramat sangat menguras emosi, berkali-kali keningku dibuatnya berkerut 14 dan kepala geleng-geleng. Komentar dan asumsi-asumsi yang beredar itu menurutku keluar dari mulut dan ketikan jari orang-orang yang tidak tahu adab. Tak perlu kuulas lagi apa dan bagaimananya, teman-teman bisa mengakses itu dimanapun. Bagaimana mungkin berkata, “ini azab”, “Jelas saja ini terjadi, musik kan sudah jelas haram tapi masih dilakukan”. Subhanallah kawan, sebelum mengkaji sedalam itu bagaimana dengan nuranimu? Ini disampaikan tidak lama setelah bencana terjadi. Tidakkah terpikir bagaimana perasaan mereka yang menjadi korban tsunami? Tidakkah terpikir bagaimana perasaan ibu yang anaknya menjadi korban membaca itu? Bagaimana perasaanmu membaca itu, jika anggota keluargamu sendiri yang menjadi korban tsunami tersebut?! Sedih sekali membayangkan itu. Bagaimanapun mereka saudara kita juga yang memang ditakdirkan demikian. Jadi jangan tambah beban mereka. Terkait azab, bukanlah hak kita menentukan suatu bencana itu azab atau tidak. Kita hanya diberitahu tanda-tanda dan bagaimana azab pada kaum-kaum terdahulu. Jangan demikian, jangan.

Natalpun begitu, kita masih sibuk dengan boleh tidak mengucapkannya pada yang merayakan. Yang mengucapkan seolah telah sangat toleransi sekali ia hanya dengan mengucapkan pada yang merayakan. Apakah disana letak toleransi? Seolah-olah terkesan itu sesuatu yang esensi. Bukan sungguh bukan itu yang esensi. Toleransi itu bukan diucapan, tapi ditindakan, pada pergaulan hidup. Dan bagi yang berkeyakinan mengucapkan itu tidak diperbolehkan, juga ada adabnya menurutku. Sosialisasikanlah bukan di hari H, tapi jauh-jauh hari sebelumnya, agar tidak usak ati (menyakiti) mereka yang merayakan. Dan untuk kedua pihak baik yang mengucapkan dan tidak, saling toleransilah terhadap apa yang orang lain yakini. Jangan memaksakan pandangan kita.

Lagi, sekilas aku melihat postingan beberapa orang tentang seorang cendekiawan dengan diselipkan kalimat permohonan agar beliau tidak diridhai Allah. Permohonan demikian sama saja dengan melaknat. Dan melaknat sendiri adalah menjauhkan seseorang dari rahmat Allah. Subhanallah kawan, biarlah menjadi HAK MUTLAK ALLAH saja perkara meridhai dan tidak meridhai seseorang. Kita siapa? Kita hanya manusia biasa yang belum tentu pula akan diridhai Allah. Sedih sekali rasanya membaca postingan tersebut sampai malamnya susah tidur.

Pada akhirnya banyak sekali yang bisa dipelajari dari kejadian di atas. Aku juga meminta maaf jika ada yang takanai.

Dak Bisa

Banyak hal yang sebelumnya tidak bisa kita lakukan. Entah karena memang belum pernah mencoba, baru melihat, tidak mau mencoba, sebagainya dan lain sebagainya. Saat lahirpun belum bisa apa-apa selain menangis, makan, buang air dan hal dasar lain. Bisa duduk dan berjalanpun ada prosesnya. Aku (SD-SMA) dan ibu dulu seringkali sedikit batangka jika jawabku akan suatu hal “dak bisa”. Sejadi-jadinya ibu menceramahi hingga aku hafal narasi tersebut. “Yang paliang mudah di dunia ko yo ngecek dak bisa tu. Mudah se nyo ngecek dak bisa. Dicubo dulu, diusahokan. Pasti bisa. Dak ado awak ko nan bisa langsuang se do”. “Yo tapi kan bu………..”. “Dak ba tapi lai do”. Akibat respon (handeeh respon :’0) tersebut, jadilah mencoba banyak hal pun belajar banyak ya walaupun awalnya dengan rentetan rutok-rutok tak berbunyi. Saat-saat sekarang, saat-saat ibu tidak lagi sering menceramahi panjang, narasi yang terhafalkan itu acapkali membantu menguatkan entah di hal-hal yang sederhana ataupun sangat tidak sederhana. Saat ingin memulai sesuatu pun saat terasa ingin menyerah akan sesuatu.

Seorang ibu itu memang (amat) luar biasa ya. Menurutku, salah satu orang yang paling tegaan pada kita sebenarnya adalah ibu. Tegaan dalam arti untuk mendidik. Sebagian ayah mungkin juga demikian, namun tidak denganku. Jadi ingat pepatah Minang, “sayang anak dilacuik i…….”. Bukan karena ibu kejam, tentu bukan. Mana mungkin (!). Beliau yang melahirkan, beliau juga yang paling heboh saat kita terluka ya sebenarnya hanya luka kecil di lutut. Beliau juga yang memperjuangkan kita, saat tak seorangpun berani memperjuangkan. Beliau juga yang punya firasat kuat terkait anaknya. Cerewet, karek kayu, bangih, dan segala macam tegaan itu adalah salah satu bentuk sayang ibu.