A 2017

Assalamu’alaikum, long time no see. Moga kamu yang membaca dalam ‘afiyat. 

Selayaknyalah pada tiap kesempatan, harapan baru, awal baru yang diberi kita bersyukur. Kesempatan untuk memperbaiki diri, memohon ampun dan kesempatan untuk menjadi sesuatu. Tahun 2018, betapa tak menyangkanya bisa sampai di tahun ini. Mengingat banyaknya kesalahan di 2017. Tak berarti di tahun-tahun lain kesalahanku tak banyak, hanya di 2017 hal itu makin menjadi-jadi. Ba galemak peak. Banyak hal yang terjadi. 

Namun di 2017 jugalah banyak hal yang ku dapat. Salah satunya, diberi kesempatan melihat sisi lain dari dua terkasih yang selama ini tak kunjung terlihat. Jadilah lebih mengenal, lebih memahami serta lebih mencinta mensyukuri. 

Salah dua, dipertemukan dengan orang-orang tua baru yang tak segan menasihati, memarahi dan nyinyir. Di antaranya ada guru yang bisa menyentil bagian terdalamku, mengajari untuk melihat sesuatu secara lebih dalam dengan sudut pandang yang beda. Betapa bersyukurnya dipertemukan dengan beliau-beliau. Menyadari betapa menakjubkannya Rabb-ku dan dengan Segala KemahaanNya, betapa menakjubkannya juga diri ini sebagai ciptaanNya, betapa menakjubkannya segala keterkaitan di alam semesta ini. Seluruhnya!

Salah tiganya, melihat, mendengar dan membaca kisah-kisah nyata tentang cinta sejati, seseorang yang mencintai dengan tulus serta kisah nyata tentang cinta lainnya yang membuatku haru. “Jikalau kamu tak mendapati sesuatu yang ideal, bukan berarti sesuatu yang ideal itu tak ada”.

Jadilah di 2017 lebih mengenal diri sendiri. Dengan sudut pandang berbeda, melihat posisi diri berada dimana di antara mereka, beliau-beliau. Sungguh, sebenar-benar sungguh tak ada apa-apanya. 

Tak ada selain syukur atas kesempatan yang telah diberi. Moga bisa lebih baik dari diri yang lalu, moga bisa mensyukuri tiap kesempatan yang diberi baik dalam wujud syukur hati, lisan dan perbuatan. Amiin ❤😇 Begitu jugalah hendaknya denganmu. 

Advertisements

Yang Sulit Itu

Assalamu’alaikum. How are you? Hope you are awesome! Wanna tell (share) something to you. Its personal but never mind. 

Dulu aku termasuk orang yang tidak bisa sama sekali sarapan walaupun hanya segelas air putih, terlebih makanan berat. Memangnya apa yang terjadi jikalau sarapan? Lebih tepatnya dipaksa? Berakhir dengan berlama-lama di toilet. 

Lalu saat SMA aku belajar untuk sarapan walau hanya segelas teh hangat. Bisakah itu disebut sarapan? And then what? Seperti yang lalu, berakhir si toilet but it was makes me happy. Sampai akhirnya aku mencoba kopi dan fallin love with. Until now, all of them. Aroma, warna serbuknya, pusaran air saat mengaduknya, sensasi saat menyeruputnya dan lain dan lain. 
Aku tahu cintaku pada kopi keterlaluan dan akupun tahu suatu saat harus berhenti. “But not now, not now”, sesuatu berbisik. Bukannya aku tak tahu dampak dari cinta keterlaluan ini. Magh? Yep. Panas dalam? Yep. Ketagihan? Yep. Deg-degan? Yep kadang. Aku tahu, aku percaya tapi tak kunjung meyakini. Sampai beberapa waktu lalu aku bertemu seorang yang sudah kuanggap orang tua sendiri. “Sia yang maagiah wak kopi ko?” (I am) “Wak dak minum kopi, pi dak baa do”. Saat itu hanya tak habis pikir kenapa beliau tidak minum kopi? Jujur baru sekali itu aku bertemu orang yang tak minum kopi, at least beliau adalah laki-laki. Tak lama kemudian aku ditegur oleh seorang ibu dokter. “Minum kopi?”. “Yo Buk”. “Jan minum kopi jo lai dak. Wak mudo baru”. “Parah bana Buk?”. (I mean my heartbeat. Are you kidding me? She is a doctor and tell me to stop. What exactly? I am scared!). “Dak lo do. Pi baranti minum kopi labiah ancak”. 
Sampai dua hari yang lalu aku merasa, mungkin ini saatnya (Oh drama queen!). What you say? Sulit bukan untuk berhenti atau katakanlah menjauh dari sesuatu yang dicintai dengan luar biasa? Teringat saat berhenti mencintai mie instan. Sulit di awal pasti, tapi sukses and I proud of. Tapi, berhenti mencintai bukan berarti membenci ya. Memang benar ya kata orang-orang tua, “Yang sulit itu membiasakan sesuatu yang tak biasa dan menidakbiasakan yang biasa. Wisely to choose your (gonna be) habbit. 

Taragak (kan iko ;))

Assalamu’alaikum, pagiiiii. . . Lama tak bersua ya. Rasa-rasanya belum ada sesuatu bermanfaat yang bisa kubagi. Tapi, tapi. . . Taragak! Ka dipangakan (lai). Kan iko. 😉
Sehatkah kamu? Semoga baik, membaik dan lebih baik. Apapun kegiatan urusanmu (yang baik) semoga dilancarkan saja serta dipermudah. 

Beberapa waktu belakangan aku sering membuka Wattpad, membaca beberapa tulisan. Bedanya tulisan-tulisan di sini (yang telah dibaca) lebih ringan dibanding buku dan terkesan dramatis juga sepertinya. Tapi bagaimanapun itu, selalu bisa diketemukan sesuatu yang priceless. 
Ada beberapa ‘sesuatu’ ingin kubagikan. Saat membacanya, mengimajikannya, sesuatu itu terasa sangat menyentuh bagiku. Berbekas hingga berhari-hari lalu berubah wujud hingga tersimpan di memori. Aziiiiii 😱 Entahlah jangka panjang atau tidak, yang jelas bukan jangka pendek. Harapanku adalah agar kamu mendapatkan yang sama sebagaimana aku.

★ Tiap-tiap orang punya sejarahnya sendiri hingga ia bisa berwujud, berperilaku, bersikap, berkepribadian sebagaimana ia sekarang. 

Sebagaimana juga kita bukan? Sah-sah saja bagi kita untuk menilai orang lain. Timbal baliknya sah-sah saja juga bagi kita untuk dinilai orang lain. Bagi kita yang menilai terbedalah secara sadar atau tidak bagaimana kita dari cara kita menilai orang lain. Menilai dari yang terdengar(saja)kah, dari yang tampak(saja)kah, menilai dari mendengar melihat mengamati. Menilai dengan matakah, menilai dengan telingakah, menilai dengan hati dan otakkah. Menilai dengan ‘karek kayu’kah, menilai dengan mencoba mengertikah. Menilai dengan tujuan asal ada yang ‘ka dipakecekan’kah, menilai dengan tujuan ingin membantukah, menilai dengan tujuan ingin memahamikah, menilai dengan tujuan ingin bergaulkah. Semua itu berbalik ke diri kita masing-masing juga.

★ Hati sekeras apapun, pintu yang tertutup serapat apapun, luka separah apapun akan luluh juga dengan kasih sayang yang istiqamah. Namun bagaimanapun itu, tentu dengan izinNya jua.
Dua di atas adalah yang paling berbekas dari sekian banyak. Semoga harimu menyenangkan dan diberkahi. Untukmu yang sedang dihadapkan pada pilihan, moga Allah beri petunjuk serta dimantapkan hatinya. Untukmu yang sedang berbahagia, bersyukurlah terus dengan cara yang sesuai dan akupun turut berbahagia. Untukmu yang sedang dalam susah, moga Allah tebalkan yakinmu menghadapinya hingga mudah saja bagimu melaluinya. Untukmu yang sedang berjuang dalam sesuatu, moga niatmu diluruskan dan keyakinanmu dimantapkan. Aamiiiin ❤

(pasaweknyo) Yakin

Terngiang-ngiang di telinga ucapan seorang guru sebagai penutup sebuah analogi yang disampaikannya saat menjelaskan sebuah doa. “Tapi yo, yakin pasaweknyo. Yakin wak atau indak. Sajauah ma ma’rifatullah wak”.
“Jam tangan baru wak rusak, dak bisa iduik. “Baa ka aka ko?”. Tarago bapikia takana, “Eh, si ano (tukang jam) ado”. (1)Takana itu se lah lapang pangana. “Nyo bisa tu mah”, (2)wak yakin nyo bisa melokan. 

(1)Baa kalau pas wak ado masalah, wak langsuang takana ka Allah. “A, dek Allah bisa tu”, “Ado tu (jalannyo) dek Allah”. Padahal Allah tu Maha Atas Segala Sesuatu, segala sesuatu itu ado dalam kuaso Allah.

(2)”Lai bisanyo tu?”. Tapi iyo pasaweknyo yo yakin. Ka tukang jam ge kok wak dak yakinnyo bisa, dak bisa juo. 

Hujan

Hujan. Terlalu anggun untuk dibenci. Walaupun harus pontang panting mengangkat jemuran. Walaupun harus menunggu lama berteduh hingga reda, walaupun genangan air sana sini. 

Menyenangi hujan bukan karena saat ia turun turut serta membawa kenangan. Oh tentu bukan. Menyenangi hujan karena dia turun turut serta dengan alunan nada yang syahdu. Tenang menenangkan. Ia mengudarakan aroma tanah, rumput, jalanan dan kawan-kawannya. Aroma yang menenangkan. Aku menyukainya bukan karena kenangan, tapi karena dia menjadi salah satu waktu sabab diijabahnya do’a. Mataku senang melihatnya karena ia begitu memukau. Aku menyenanginya karena ia adalah hujan.

Tapi hujan acapkali membuatku galau. Mempertengkarkan antara ingin menikmatinya dan harus dewasa. Aku tahu berjalan di bawah hujan tanpa payung itu sangat menyenangkan, tapi ku juga tahu akan basah. Aku tahu menjentikkan kaki di genangan hujan itu seru, tapi ku juga tahu akan kotor. Aku paham saat berjalan di bawah hujan itu terasa seakan dunia milikmu, tapi ku juga tahu orang lain akan melihat. Tahu saat menikmati hujan itu aku akan merasa jadi yang paling bahagia tapi juga tahu aku bukan anak-anak lagi. Pada akhirnya pun acapkali ssesuatu dalam kepalaku berteriak, “Behave Sa!”. “Ok, fine!”, menggerutu.

D I B O H O N G I

Bohong, salah satu dari sekian banyak kata yang tak disukai. Namun semakin ke sini rasa-rasanya ada jalan lain untuk melihatnya. Tak serta merta tak suka, bisa juga kecewa, sedih, tapi setidaknya bisa jadi antisipasi diri serta gambaran bagaimana berlaku diperlakukan. 

Kamu pernah berbohong? Dibohongi? Jawablah 😁 Kalau aku, dibohongi pernah disamping pernah berbohong (entah mungkin lebih banyak). Eh tapi terkadang bohong dan tak menyampaikan yang sebenarnya sudah saling bergelinca saja. Padahal ada bedanya, yaaaa barang sedikit. Bohong ~ menyampaikan yang tak sebenarnya. Tak menyampaikan yang sebenarnya ~ menyampaikan sesuatu tapi tak sampai-sampai pada yang sebenarnya. Hmm, misal: *sebenarnya: tadi pagi ke pasar, bertemu kawan, singgah ke toko buku, membeli beberapa alat tulis, minum aia tawa lalu pulang. *bohong: tadi siang ke Rumah Sakit menjenguk teman, sebelum pulang ke pasar dulu beli buku. *tak menyampaikan yang sebenarnya: tadi pagi ke pasar membeli alat tulis, minum aia tawa lalu pulang. 

Ada perbedaanya walau selayang. Kadang karena pernah berbohong dan saat tau dibohongi, aku menerka-nerka penyebabnya kenapa. Sebab saat kuberbohong juga ada alasannya. Apakah ia berbohong karena sedang ingin berbohong atau karena aku yang menyebabkan ia bohong?

Aku kecil sering berbohong dan atau bergelinca dengan tak menyampaikan yang sebenarnya pada beberapa orang dewasa. Bagi aku kecil, berbohong bukanlah perkara mudah. Bohong butuh pertimbangan, ingatn yang kuat, kerjasama dengan berbagai emosi (pernah nonton Lie To Me?). Lalu apa?

Hm, untuk kita yang dibohongi kadang boleh juga sesekali diresapi bayang diri. Apa terlalu banyak menuntut, jarang mau mendengarkan apalagi mau mengerti. Apa kerap membuat orang lain merasa terintimidasi? Nan ka lamak di awak saja? Kalau benar demikian, bisa jadi dia berbohong dipicu karena kita sendiri. Ya di samping ada juga orang yang tanpa dipicu dia akan tetap berbohong sebab telah bergelimang terbiasa.

Trust, mau mendengarkan dan mau mengerti. Ini sedikit dari sekian yang penting. Dalam hubungan yang bagaimanapun. Orang tua anakkah, teman temankah, pasangankah, kakak adikkah, aradan bawahankah dan sebagainya.

Aku tak mengatakan kita jadi penyebab untuk setiap kebohongan. Bukan. Tapi bisa jadi ada yang berbohong karena dipicu kita. Tahu dibohongi itu tak enak rasanya. Lain kalau tak tahu. Jadi kalau bisa diperbaiki, baguslah.

Untuk yang akan berbohong dan dibohongi. Boleh jadi sekarang berbohong, tapi nanti akan juga merasakan bagaimana itu dibohongi.

  

Hanya (boleh) dengan Jujur

Jika kau datang hanya saat kau bisa, tak sama sekali bermasalah untukku. Jika kau bicara hanya saat kau ingin, itu juga tak masalah. Walaupun ini dan walaupun itu. Jika kau menatapku hanya saat kau mau, tak apa-apa. Bagiku, tidak akan masalah selama engkau melakukan apa yang ingin kau lakukan. Bagiku tak akan masalah sejauh kau tak apa-apa. Aku tak ingin menuntut, tak ingin memaksa, tak ingin membebanimu, maka jadilah dirimu sendiri. Hanya saja aku ingin kita melangkah ke yang lebih baik setiap waktunya, sambil tetap saling menggenggam. Kau takkan tahu betapa berharganya kamu bagiku. Aku sendiripun tak menemukan kata untuk membahasakan. Jangan menderita karenaku, jangan terluka karenaku, jangan. Kau boleh mencintaiku dan hanya boleh mencintaiku dengan jujur.