Minang dalam Ceramah

Malam ini masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, malam ke dua puluh tiga. Seperti biasa aku shalat Isya dan Tarawih di rumah, demi ketidakbertahanannya air wudhu ini. Jarak yang dekat, bahkan sangat dekat antara rumah dan Mushala menyebabkan setiap gelombang suara yang dikirimkan ke microphone terdengar jelas sampai ke rumah melalui toa.

Shalat Isya berjamaah telah selesai dilaksanakan, dengan imam Ustadz Habiburrahman yang sehari-hari beliau dipanggil Sutan Rajo Ameh oleh bapak-bapak sekitar atau juga biasa di panggil Abi. Beliau berusia sekitar enam puluh delapan tahunan. Di lingkungan tempat tinggal Nyiak Abi begitu aku memanggilnya, cukup disegani. Baru Ramadhan tahun kemarin Nyiak Abi menimang cucunya yang ke sembilan belas.

Sebelum Tarawih, ceramah agama terlebih dahulu. “Kepada Ustadz kami persilahkan waktu dan tempat”, demikian terdengar protokol mengakhiri. “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatu”. “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wa barakatu”, jawaban keroyokan. “Syukur Alhamdulillah Allah masih memberi kita kesempatan untuk bernafas, menikmati hidup dan bergiat di malam-malam terakhir Ramadhan ini. Shalawat semoga disampaikan kepada Nabi besar Muhammad SAW, yang telah menjadi penyempurna akhlak manusia di muka bumi ini. Berhubung kita telah berada di ujung Ramadhan, hari ini malam yang ke dua puluh tiga, agar lebih rajin dalam beramal karena kita tahu di bulan penuh berkah ini amalan dilipatgandakan. Terlebih lagi di sepuluh malam terakhir ini. Dijanjikan datangnya Lailatul Qadar. Di malam sepuluh terakhir ini jugalah dilaksanakan I’tikaf. Semoga Allah meridhai”.

Terdengar dari toa suara gaduh mushala yang di dominasi suara anak-anak. Biasa, pada tiap ceramah dimulai mushala mulai ramai dengan anak-anak yang hendak mencatat isi ceramah. “Ehem ehem. . Adik-adik, suaranya disimpan dulu, nanti di keluarkan saat selesai shalat Id, InsyaAllah”. Suara mulai berkurang. “Ambo mungkin akan sedikit bereksis-eksis di kesempatan kali ini. Boleh kah demikian bapak-bapak, ibu-ibu dan adik-adik sekalian? Boleh donk, boleh. Hahaha”, sudah bertanya dan Nyiak Abi jawab sendiri. “Hu….”, sahut ku di rumah.

“Perasaan itu muncul saat pertama kalinya ambo satu kelas dengannya. Saat pertama kali mendengar dia mempresentasikan materi kelompoknya. Dengan gaya dan intonasi yang tegas dan anggun saat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman dan dosen. Sejak saat itu ambo mulai mengamatinya. Mencari tahu tentang dia. Mulai mengumpulkan informasi dari teman-temannya, dari ibu kantin di kampus. Yah, walau informasi yang terkumpul belum bisa dikatakan lengkap tapi cukuplah untuk bisa membuat kesimpulan bahwa dia gadis yang baik”. “Aziiii, Aziiii. . . “, suara anak-anak kembali bergema dan kali ini diramaikan juga oleh ibu-ibu. Terdengar tanggapan Nyiak Abi yang secara tidak langsung memperlihatkan wajahnya sedang memerah.

Ambo lebih dulu dua tahun lulus dari dia. Ya iyalah, secara senior. Hahaha”, beliau bicara dan tertawa sendiri. “Bukannya berhenti mengumpulkan informasi tentang dia, tapi malah semakin menjadi-jadi. Setelah tahu dia lulus dan kembali ke daerah asalnya di Bukittinggi ini, saya mulai pasang niat untuk menikahinya setelah nanti mental ini siap. Singkat cerita, ambo datang ke rumahnya. Sebelumnya ambo tahu alamatnya dari salah satu dosen yang ternyata masih saudaranya. Di luar dugaan, sang Bapak malah orang yang menurut ambo sangat ramah dan menyenangkan di ajak maota. Kalau perkiraan sih Bapaknya bakalan lebih tegas dari anaknya, malah mungkin galak. Tapi itu salah besar. Lebih singkatnya cerita, akhirnya ambo menikah dengan sang gadis setelah melalui beberapa kejadian yang sama sekali baru untuk saya yang kebetulan berasal bukan dari daerah yang sama dengan sang isteri. Tapi melalui dialah saya mulai mencintai daerah ini, tidak terkecuali sejarah, budaya dan orang-orangnya. Melalui dia jualah saya mengeneralisasikan bahwa gadis-gadis MinangKabau itu gadis-gadis yang tegas dan tahu agama. Jadi, mana ceramahnya Ustadz ? Pasti ada yang bertanya demikian, terlebih nih adik-adik yang mencatat ini. Justru di sinilah ambo baru akan memulai”.

Jujur, ambo sedikit banyaknya tahu bagaimana Adat MinangKabau. Tidak hanya mendapat ilmu tersebut dari isteri tapi dari berbagai sumber. Falsafah negeri ini Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Dari sana saja bisa tergambar bagaimana kondisi negeri ini saat Falsafah itu diciptakan. Miris sekali melihat bagaimana kondisi Ranah Minang sekarang ini. Orang Minang yang dahulunya terkenal karena budi pekerti, budaya dan intelektualnya, kini apa masih karena hal tersebut kita di kenal? Anak gadis pergi ke luar rumah dengan celana jeans yang ketat, rambut terurai, jalan bersama laki-laki yang bukan muhrim, apalagi sampai ada yang rangkul-rangkulan, duduk berdua, pegang-pegangan. Dan banyak lagi yang sepertinya sudah menjadi tontonan sehari-hari. Walau pribadi bukan berdarah Minang, ambo berasal dari Medan tapi karena akhlak dan agamanya lah ambo jatuh cinta pada sang isteri yang notabenenya urang Minang. Dahulu gadis Minang itu terkenal akan baju kuruangnya. Jadi asal bilang baju kurung aja, nah itu orientasinya sudah jelas, Minang. Bisakah itu di lihat sekarang? Bisa. Yang kebanyakan bisa dilihat sekarang ini adalah orang Sumatera Barat yang keBarat-baratan. Celana jeans, tidak menutup aurat, berkeliaran semena-mena dengan yang bukan muhrim. Walau juga tidak bisa dielakan bahwa tidak semuanya yang demikian, namun ini kebanyakan. Dan ini sudah bahaya, gawat, danger. Mungkin saat ini kita para orang tua telah sibuk dengan urusan masing-masing, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi ada satu hal urgen yang mungkin sedikit terabaikan yaitu penanaman agama pada anak. Saatnya kita mulai berbenah untuk masa depan. Tanpa ingin mengurui bapak-bapak dan ibu-ibu, saya di sinipun juga sebagai seorang orang tua dan seorang kakek yang sama-sama belajar. Saya takut nanti pada pertumbuhan cucu-cucu saya kelak, hal ini akan terus berlanjut, berlanjut, berlanjut dan semakin menjadi-jadi. Tidak begini ajaran Islam yang saya tahu, dan juga tidak begini budaya Minang yang saya kagumi. Pada anak-anakku, adik-adik, dan seluruh kita yang berada di sini, untuk bermuhasabah diri. Pelajari agama ini lebih jauh, lebih dalam dan lebih lagi. Islam itu indah dan mengindahkan, Islam itu Rahmatan Lila’lamin. Tidak akan ruginya kita mempelajari Islam DAN, menerapkannya. Jangan menjadi generasi Islam yang sekuler. Memperlihatkan keIslamannya di saat-saat tertentu saja, tidak di setiap kesempatan. BerIslamlah secara keseluruhan”.

“Meskipun sistem yang digunakan dalam berbagai bidang kehidupan di Indonesia sekarang ini mengarah atau bisa dikatakan mengadopsi sistem Barat yang sekuler, namun apakah kita akan tetap mematuhi sistem tersebut di kala telah tahu apa dan bagaimana dampaknya dalam bermasyarakat? Sekulerisme adalah paham yang memisahkan antara urusan dunia dan agama. Sementara kita tahu semestinya kita menjadikan agama sebagai sebuah landasan berpikir, landasan berpijak dalam mengambil setiap keputusan dalam bertindak atau singkatnya agama itu dijadikan sebagai ideology kapanpun dan dimanapun kita berada”.

Ambo pernah dibuat binggung oleh cerita salah seorang teman yang ingin sekali anaknya menjadi seorang yang gaul lah istilah sekarang. Ba a ka ba a supaya sang anak diterima di kelompoknya. Walau dengan penampilan dan gaya hidup yang kurang mencerminkan keIslamian. Dan saya binggung, ini malah orang tua yang mengarahkan anaknya masuk ke jalur yang salah. Sementara nanti, orang tua jualah yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Ambo pribadi memang dibuat sangat sedih oleh hal ini. Rasanya sudah melenceng pengamalan Islam sekarang”.

“Baiklah, sampai di sini mungkin sudah bisa dibayangkan bagaimana keadaan negeri kita sekarang ini. Bisa diingat kembali apa saja kontribusi yang sudah diberikan di masyarakat terhadap penanaman nilai-nilai Islam. Apakah kita ambil peran di dalamnya atau hanya sebagai penonton saja yang tidak mau tahu bagaimana proses pelaksanaannya? Kita bisa renungkan. Memperbaiki itu dimulai dari diri sendiri, keluarga dan baru masyarakat. Jangan ditunda lagi, mulai dari sekarang”, terdengar suara tegas Nyiak Abi yang semakin lama semakin keras intonasinya.

Mendengar ceramah Nyiak Abi, sambil tervisualisasikan apa yang beliau ucapkan. Benar apa yang beliau sampaikan. Bisa jadi kekurangjelimetan dalam memfilterisasi budaya luar menjadi salah satu penyebab terjadinya hal-hal yang beliau jabarkan tadi. Ada dari kita yang menganggap ini sebuah masalah dan banyak juga yang malah melihat hal ini sebagai suatu hal yang biasa, tidak perlu dipermasalahkan. Dikaitkan dengan Hak Asasi Manusia, setiap orang itu bebas untuk memilih bagaimana dia beragama, bergaul, dan ber-ber yang lain. Semuanya toh tergantung pribadi orang itu masing-masing. Yang penting kita menyampaikan dan mengingatkan. Perkara dia memaknai ataupun tidak memaknai, ya sudahlah. Seperti kata Nyiak Abi, “Memperbaiki itu dimulai dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Jangan ditunda, mulai dari sekarang”.

“Demikian, semoga bermanfaat untuk kita semua yang mendengarkan. Maaf bila ada salah kata. Sesungguhnya kesalahan itu datangnya dari saya sendiri dan kebenaran itu datangnya dari Allah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu”. “Terima kasih pada Ustadz yang telah menyampaikan ceramah agama yang amat menggelitik. Baiklah, kita akan segera melaksanakan shalat Tarawih berjamaah”.

 

 

 

Catatan:

Ambo              : Saya

Ba a ka baa   : Bagaimanapun

Baju Kuruang :Baju kurung (baju muslim)

Nyiak              : Kakek

Sutan              : Gelar bagi laki-laki di Minang yang sudah menikah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s