Mereka Bawa Nama Islam

Hari ini aku tidak masuk sekolah karena satu dan lain hal. Beruntung ibu mengajak ku pergi, dari pada hanya sekedar diam di rumah. Baik, sekitar jam sembilan pagi kami berangkat. Tidak seperti biasanya, ibu yang santai dan cuek kali ini agak sedikit tegang dan banyak diam seperti sedang berpikir. Melihat kondisi yang demikian, akupun enggan untuk memulai pembicaraan dengan beliau.

Sepanjang perjalanan beliau hanya diam, dan sesekali tersenyum. Mungkin beliau tahu apa yang aku pikirkan. Cukup lama, sekitar dua puluh menitan kami berada di kendaraan umum. Turun di pertigaan dan jalan ke kiri sedikit hingga sampailah kami di sebuah Rumah Sakit. Aku binggung, “Katanya mau ke pasar, tapi malah di bawa ke Rumah Sakit. Ya iya sih, Rumah Sakit ini terletak di wilayah keramaian juga”. Biasanya kalau sudah berada di Bukittinggi, nah itu namanya sudah ke pasar. “Ibu sakit?”. “Nggak kok”. “Terus kenapa mesti ke rumah sakit?”. “O, ada teman ibu yang sakit”, jawab beliau sambil berjalan menuju sebuah ruangan yang jelas bukan ruang pasien. “Mau ngapain bu?”. “Bentar ya, duduk di sini dulu”. Jadilah aku duduk di bangku luar sementara ibu masuk ke dalam ruangan. “Assalamu’alaikum buk, …………”, dan lantas perbincangan basa basi pun berlangsung.

Kira-kira sekitar lima menitan pembicaraan berlangsung dan mulai terdengar nada-nada bicara yang kurang wajar. “Iya maaf buk, manager kami masih belum berada di tempat”. “Lah, gimana sih. Sudah dua kali saya ke sini managernya selalu nggak ada. Kemarin dibilangnya hari ini beliau bisa, tapi sekarang saya datang untuk ketiga kalinya pula anda bilang manager belum berada di tempat. Ada apa sih sebenarnya? Anda mempermainkan saya?”. Aku langsung berdiri dan masuk ke dalam. Memegang tangan beliau, yang tengah berdiri tepat di depan wanita yang aku tidak kenali sama sekali, tapi ada tulisan ‘sekretaris’ di mejanya. Dilihat dari ekspresi wajahnya, perempuan itu tampak sedang tidak bicara dengan jujur. Melihat itu pikiran ku langsung melayang membayangkan apa yang akan dilakukan oleh ibu. Belum selesai aku membayangkan, ibu langsung memperaktekan imajinasi tersebut. Beliau menghardik perempuan itu dengan berkata, “Saya Tanya sekali lagi, benar manager Rumah Sakit ini tidak berada di tempat?”, sambil memukul lamban meja. “Benar buk, manager kami tidak di tempat”. “Baik kalau begitu, tampaknya saya hanya akan menghabiskan waktu di ruangan ini. Saya akan cari sendiri Manager Rumah Sakit ini sampai ketemu, hari ini juga. Terealisasikan sudah semua imajinasiku.

Ibu mengajakku masuk. Aku ingin sekali bertanya apa sebenarnya yang hendak beliau lakukan. Binggung. Tapi aku takut kena semprot. Aku turuti saja. Ibu tampak sama sekali tidak tenang. Sepanjang jalan beliau seperti orang hendak marah sekaligus ingin mengontrol diri sambil juga melirik-lirik kiri kanan, mungkin mencari dimana ruangan menager rumah sakit ini. “Lin..”, perempuan itu mendekat. “Uni, ngapain di sini?”. “Ini mau menemui orang”. Dan ota basa basi lagi. “Oh ya Lin, ruangan manager rumah sakit ini dimana yah?”. “Ada perlu apa Ni?”. “Giko a. Nasabah Uni masuk rumah sakit. Kemarin itu dia di masukan ke kamar VIP, terus dia pindah ke bangsal. Satu hari di VIP besoknya langsung pindah. Jadi bermasalahnya itu pas di tagihan”. Aku pun turut mendengarkan dengan cermat. “Jadi beliau kan di rawat empat hari, sehari di VIP, tiga hari di bangsal. Lin tahu kan berapa jauh beda biaya kamar bangsal dan VIPnya. Nah. Masa dia di tagih dengan biaya sebesar di kamar VIP selama empat hari itu? Sementara dia hanya sehari di sana. Kalau tahu gitu ya dia nya juga nggak bakal pindah ke bangsal mungkin. Sedangkan kalau dari kamar bangsal ke kamar VIP juga bayar senilai di kamar VIP. Jadinya kan sama aja. VIP-bangsal dan bangsal-VIP. Setahu uni di situ ada kesalahan Lin, maka itu uni mau meluruskan ini dengan menemui managernya sekalian. Nasabah uni sih nggak masalah, tapi uninya yang masalah dengan hal ini. Malu uni Lin, malah ini rumah sakit bawa-bawa nama Islam. Rumah Sakit Islam I*** ***a”. “Oh, gitu Uni. Ancak tu uni mau memperlurusnya. Ruangan beliau ada di lantai tiga. Semoga dimudahkan ya Ni. Lina pai dulu, ka dinas”. “Oh, iya. Makasi banyak Lin”.

Tampak ada sebercak kelegaan. “Tadi tu siapa bu?”. “Kawan ibu, ante tu karajo di siko”. Kami menaiki tangga sampai ke lantai tiga seperti yang disampaikan oleh tante tadi. “Bu, tu ada tulisan ‘Manager’”. Kami pun masuk, tanpa ijin siapapun. Banyak ibuk-ibuk di sana. Ibu terkesan agak nekad, dan aku ikut-ikutan nekad. “Duduk nak”, malah ibu yang mempersilahkan duduk. “Ada apa ya buk?”. “Maaf sebelumnya kalau saya kurang sopan masuk ruangan ibuk tanpa ijin terlebih dahulu. Sebelumnya saya sudah beberapa kali mendatangi kantor sekretaris di bawah agar bisa di jadwalkan kapan saya bisa bertemu dengan ibuk. Sudah dua kali saya balik ke sana tapi beliau bilang ibu sedang tidak ada di tempat, begitu juga tadi. Saya nekad mencari dan ternyata ibuk sedang duduk di ruangan ibuk. Saya juga di buat ragu apakah juga begini di saat kemarin beliau bilang anda tidak ada di tempat”, ibu sedikit senyum sinis. “Langsung saja buk, ada apa?”, wajah beliau tampak agak kurang senang, malu mungkin. “Oh tentu. Begini nasabah saya baru kemarin selesai rawat inap. Beliau dirawat empat hari. Hari pertama di VIP dan besoknya beliau langsung pindah ke bangsal, memperhitungkan masalah biaya. Dan kemarin juga, setelah dilihat ternyata beliau ditagih dengan keseluruhan biaya rawat inap itu setara ruangan VIP. Padahal kan beliau hanya satu hari saja di VIP. Saya ingin konfirmasi langsung dari ibuk selaku manager rumah sakit ini. Apakah memang demikian sistem pembayarannya atau ada kesalahan”. “Sebelumnya boleh saya tahu siapa nama nasabah ibuk tersebut?”. “Oh, tidak perlu buk. Karena bagi beliau hal ini tidak dipermasalahkan. Justru saya pribadi yang mempermasalahkannya”. “Kenapa demikian yah?”, suasana mulai sedikit tegang. “Karena saya pikir ini tidak sesuai dengan semestinya. Tidak adilah”. “Kalau dari sistem pembayarannya memang demikian buk …….”. “Apa! Memang demikian?”, ibu langsung memotong. “Dengar dulu buk, ini sudah ketetapan. Sebenarnya kenapa anda mepermasalahkan hal ini?”. “Anda masih bertanya? Oh tidak. Saya mempermasalahkan ini karena rumah sakit ini membawa nama Islam agama saya, tapi memakai sistem yang sama sekali tidak Islam. Mungkin pasien-pasien serupa malas untuk menggurus ketidakadilan ini. Lagi pula, mereka masuk rumah sakit ini karena sakit. Mana sempat mereka mengurusi hal-hal seperti ini. Walaupun anggota keluarga mereka sekalipun tentu sudah sibuk dengan mengurusi keluarga yang sakit tersebut. Kebetulan saya mau dan sempat mengurusinya. Bukankah demikian dikatakan membohongi? Dari VIP-bangsal tapi bayarnya VIP semuanya, bangsal-VIP bayarnya juga VIP semua. Apa itu namanya? Mencuri? Membohongi?”. “Maaf ya buk, ngomongnya tolong sopan sedikit”. Aku mulai berkeringat dingin menyaksikan drama yang cukup hebat ini. Akupun asik berpikir sebenarnya. Posisi ibu cukup kuat dan benar. Bukan cukup tapi memang. Kan memang ada ketidakadilan di situ. Tapi sayangnya karena aku masih kecil, yah masih SMP jadi mending nggak usah ikut berpendapat dari pada mereka nantinya memperjelas bahwa aku anak kecil yang nggak usah ikut-ikutan. “Saya pikir, seperti ini sudah cukup sopan untuk anda. Lagi pula untuk apa saya sopan pada orang yang telah membohongi banyak orang, banyak pasien. Membawa nama Islam tapi ah… tidak usah di sebut lagi”. “Jadi mau anda apa?”. “Mau saya, rumah sakit ini merubah sistem yang seperti itu. Tetapkan sesuai dengan yang semestinya. Jika satu hari VIP ya biaya VIPnya dikenakan untuk sau hari. Jika bangsal yah biayanya sesuai bangsallah”.

Dan perdebatan berlangsung sangat lama, hampir kira-kira satu jam an. Dan ruangan berAC itu terasa sangat panas sekali. Aku hanya bisa mengangguk jika ibu butuh pemebenaran. Masak satu lawan empat?!!! Nggak sebanding. Tapi ibu sangat kekeh dan sering memotong jika sang lawan sedang berbicara. Berkali-kali pembicaraan berulang-ulang di situ-situ saja tidak ada kemajuan. Aku yang sebenarnya juga sudah sangat gerah, melihat adegan pengeroyokkan ini akhirnya memberanikan diri angkat bicara. “Maaf ibuk-ibuk sekalian”, dug dug dug jantungnya serasa berada di samping telingga begitu terdengar. “Saya datang bersama ibu dengan tujuan yang jelas dan sudah beliau sampaikan dari tadi. Bukannya saya tidak sopan. Tapi saya sendiri sangat setuju dengan beliau dan sekaligus sangat kecewa dengan rumah sakit ini. Saya lahir di sini. Adalah sedikit banyaknya saya peduli. Walaupun saya masih kecil jika dibanding anda-anda semua, tapi saya pikir tidak butuh berjuta pengalaman hidup untuk bisa menentukan mana yang salah dan mana yang benar. Orang awam sekalipun bisa memutuskan dengan mata terpejam. Sekarang begini saja, dari pada berbelit-belit dan mutar-mutar seperti tadi, apa langkah selanjutnya yang akan manager rumah sakit ini ambil dengan adanya peristiwa ini?”, aku memegang tangan ibu. “Kami tidak akan mengubah apapun setelah ini. Tetap seperti biasa”. “Baik kalau begitu, saya bisa melaporkan  hal ini kepada yang berwajib dan bisa menuntut agar anda dipecat, rumah sakit ini di tutup. Selamat siang”, ibu memegang tanganku mengajak berdiri dan pergi. Sementara ruangan dan sekitarnya terdengar hening tanda suara apapun.

Belum jauh kami melangkah, “Baik buk, silahkan masuk lagi”, himbau manager. Ibu tidak merespon sedikitpun dan aku mengikut. Kami melangkah turun dengan perasaan yang mungkin sama-sama kecewa. Sesampai di lantai dasar, entah kebetulan entah apa namanya, lewatlah seorang inyiak-inyiak dengan pakaian gamis dan jenggot putihnya yang dipanjangkan. “Assalamu’alaikum pak”, spontan ibu menghampiri. Dan beliaupun menceritakan hal yang sama pada kakek tersebut. “Bagaimana menurut bapak?”, terlihat rasa penuh harap di wajah ibu. “Kalaulah itu kato ibuk manager itu, berarti lah itu ketetapannyo mah”. “Yo tapi apokah sasuai jo Islam pak”. Kakek itu terdiam dan mengalihkan pandangan seakan tidak berani menatap ibu dan juga kehilangan kata-kata. Lantas beliau langsung berlalu.

Ibu kecewa. “Itu tadi penasehat rumah sakik ko nak. Lai nampak tadi tu, padahal apak tu tampak luanyo begitu siak. Kalau awak caliak dari lua begitu alim wak sangko. Tapi nampak dek ca, manjawek sasuai atau indak jo Islam se baliau ndak bisa, aniang sajo. Dak barani. Nampak tu nak. Urang ko dak sadonyo saroman jo panampilannyo do. Itu dek gara-gara pariuak nasinyo bapacik ka rumah sakik ko nyo, a dag bisa nyo mambedaan yang batua jo salah lai. Kalau inyo mangecekan salah tu kok di pecat rumah sakik nyo beko. Tampak dek ca, lah tabali didiri urang tu agamo jo pitih”. Spontan aku memeluk ibu. Air mata yang jatuh ntyah karena alasan aku bangga pada ibu, aku sedih karena mereka, entahlah.

“Benaran ibu mau melaporkan rumah sakit?”. “Yo indaklah. Akan banyak orang yang dirugikan nanti. Orang yang sedang dirawat, sedang operasi, dan lainnya yang tidak kita ketahui. Setidaknya kita sudah diberi kesempatan untuk ini”, sambil ibu mengelus-ngelus kepalaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s