Ingin Berbuat

Ternyata, sampai saat ini pun, di saat masih terus mencoba untuk mengerti dan paham dunia ini, sampai saat ini pula aku belum bisa memahaminya. Baru benar-benar sadar bahwa dunia ini terlalu luas untukku pahami. Keinginan untuk memahami dan bergerak di banyak bidang membuat kaki ini tak cukup mampu untuk berpijak dengan kuat. Bergerak mesti dengan ilmu, tekad dan keberanian agar mantap. Dan untuk bergerak di banyak bidang tersebut, tidak semua hal ‘agar mantap’ itu kupunyai.Image

Begitu juga lah agaknya sebuah negara, INDONESIA. Tidak harus setiap orang bergerak di banyak bidang, cukup di bidang yang ia senangi, atau yang ia kuasai atau apapun yang penting totalitas, tidak setengah-setengah. Mungkin memang banyak hal yang ingin kita wujudkan untuk negeri ini. Sangat banyak. Dan itu butuh gotong-royong. Saling berbagi peran, saling membantu, dengan totalitas. Namun tentu semua itu butuh koordinasi. Penyatuan arah tujuan, visi misi, landasan berpijak dan lainya agar tidak berbenturan. Bukan proses yang mudah dan sebentar. Jangan kan untuk INDONESIA, bagiku pun, itu bukan proses yang sebentar. Namun kan, terus berjalan.

Teringat seorang ayah yang kala itu menjemput anaknya, temanku (masa SD). Aku duduk di taman sambil (entah, lupa) dan dihampiri oleh beliau. Tanya menanya dan sampailah beliau bercerita. Beliau adalah seorang petugas kebersihan di kota kami. Setiap harinya beliau berhadapan dengan sampah, dari pagi hingga sore. Memang benar, dalam perjalanan ke sekolah pun aku sering melihat beliau sedang bertugas. “Awalnya saya merasa jijik”, kata beliau. Lanjut. Lama kelamaan beliau menyenangi dan mensyukuri tugasnya tersebut. “Paling tidak walaupun saya tidak bisa duduk di tempat para pejabat duduk, saya bisa menyumbangkan sesuatu untuk negeri ini, khususnya kota Bukittinggi ini. Yah, walaupun hanya dengan membersihkan sampah. Meski saya tidak menjadi orang intelektual seperti para Menteri dan Mahasiswa di sana, setidaknya saya bekerja untuk dapat menyekolahkan seseorang yang nantinya akan menjadi Mahasiswa”. Aku masih ingat mimik sang ayah bercerita. Dengan wajah yang sayu tapi penuh pengharapan. Aku tidak menyangka, ayah bercerita hal yang demikian pada seorang siswa Sekolah Dasar. Baru beberapa tahun setelah itu aku paham, bukan tanpa maksud beliau menceritakan itu padaku. Menurut pemikiranku saat di SMP, barangkali beliau ingin aku juga turut berbuat sesuatu untuk negeri ini. Dan pemikiran ku yang sekarang, mengartikan itu sebagai, . . Berbuatlah dengan apapun latar belakang, dengan apapun kemampuan mu. Karena tidak dilihat besar kecilnya apa yang dilakukan, tapi ada atau tidak, peduli atau tidak kita pada negeri ini. Boleh jadi kita berbeda. Dengan berbagai profesi, dengan berbagai passion,dengan berbagai ide, dan berbagai-berbagai lainnya asalkan itu semua baik untuk negeri ini, lakukanlah. Tak perlu menjadi orang lain untuk bertindak. Seorang petugas kebersihan tidak perlu menjadi Menteri Kesehatan agar bisa berbuat untuk negeri ini. Seorang Guru tidak perlu menjadi Menteri Pendidikan dulu, agar bisa berbuat untuk negeri ini. Seorang anak SD tak perlu jadi Mahasiswa terlebih dahulu agar bisa berbuat untuk negeri ini. Semua orang bisa, jika mau. Semua orang bertanggungjawab atas negeri ini, jika sadar. Semua orang berhak atas kesejahteraan negeri ini, jika merasa memiliki.

 

Sekarang aku benar-benar sadar, bahwa bisa berbuat apapun untuk negeri ini di bagaimanapun keadaannya. Tak perlu harus aku menjadi orang besar dahulu, tapi dari sekarang lah, dan dari hal-hal kecil bahkan sepele sekalipun. 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s