Menemukannya

Hari ini kembali terdengar keributan di rumah itu. Terdengar suara caci maki, luapan amarah dan kata-kata kasar yang keluar dari mulut si penghuni rumah. Entah apa sebenarnya yang menjadi permasalahan, hingga hampir setiap hari keributan itu terjadi. “Sadarlah! Apa yang sudah kamu berbuat, lihat dampaknya nak”, bentak si ayah. “Ah, tidak usah sok-sok menasihati yah. Bukannya selama ini ayah tidak pernah memperhatikan aku, ayah menganggap aku ini orang lain bukan anak ayah”, balasnya dengan meneteskan air mata. “Bukannya ayahmu bermaksud demikian, tapi kau bisa lihat sendiri ayahmu ini sibuk banting tulang untuk anak-anaknya juga. Tolonglah kau mengerti, kau kan sudah besar lihat dirimu, umurmu sudah 14 tahun”, tambah sang ibu. “Tapi bu, selama ini aku sudah bisa membaca dan juga sudah bisa mengerti semua gerak gerik kalian terhadap ku. Memang mungkin aku tidak se cerdas saudara-saudaraku, tidak se sempurna mereka dan mungkin menurut ibu dan ayah, aku ini tidak membanggakan sedikitpun bagi kalian. Aku mengerti itu, dan aku bisa lihat diskriminasi itu. Aku sangat ingat jika aku meminta sesuatu pada ayah, ayah tidak lantas segera memenuhi, tapi jika saudaraku yang meminta sesuatu ayah sangat berusaha keras dan secepat mungkin untuk memenuhinya. Sudahlah bu, agar ibu dan ayah tidak lagi terbebani oleh tingkah laku ku, agar ayah dan ibu tidak lagi malu jika orang tahu bahwa si pembuat ulah bahkan bisa dikatakan penjahat ini, aku adalah anak kalian. Biarkan aku pergi, bawa semua malu yang telah pernah aku tumpahkan di wajah keluarga yang terhormat ini”, tuturnya sambil mengemasi beberapa helai pakaiannya yang tersisa, karena sebagian besar pakaiannya telah dibakar oleh kakaknya. “Kalau begitu pikir mu, silahkan pergi!”, balas sang ayah.

Melangkah pergi beberapa jauh, dia berpaling ke belakang melihat rumahnya. “Tidak ada yang mengejarku, mungkin benar tidak ada yang sayang padaku walaupun itu orang tuaku sendiri”, ucapnya menahan air mata. “Aku laki-laki, yang harus kuat dan tidak boleh cenggeng sedikitpun!”.

Dalam kegalauan hatinya entah ingin ke mana, tapi yang jelas saat itu ia hanya ingin pergi menjauh dari keluarga dan orang-orang yang mengenalnya. Berjalan tanpa tujuan, dengan menyandang sebuah tas kecil sambil berpikir, hendak kemana aku? Hanya itu. Disaat melihat mobil angkutan umum, terbersitlah di pikirannya hendak ke terminal menumpangi bis jurusan Medan. Dia berjalan kaki ke terminal sejauh kira-kira 10 km, karena teringgat sisa uang yang dimilikinya sangat tipis dan hanya cukup untuk ongkos bis dan makan selama seminggu saja.

Sesampai diterminal, menaiki bis menunggu penumpang, bus mulai bergerak. Sepanjang perjalanan, dia melihat keluar jendela berkhayal tentang apa-apa saja yang hendak ia perbuat kelak, dan terkadang tertidur. Perjalanan ke Medan itu cukup jauh, hingga rasa lelah menyapa ditambah lagi kesedihan karena merasa sebagai orang terbuang. “Kenapa aku seperti ini?”, dia bertanya sendiri. “Terlalu buruk kah aku untuk mereka?”. “Turun, turun, istirahat sebentar”, teriak knek bis. “Tidak turun dik?”, sapa seorang penumpang yang terlihat masih berumur dua puluhan. “Hmmm , hmmm”, jawabnya sambil menggaruk kepala. “Turun yuk, kita shalat Ashar bareng habis tu kita makan dikit buat ganjal perut. Mau?”, tawar pemuda itu. Dia hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Mereka turun dan shalat. Di akhir doanya, dia kembali meneteskan air mata teringat apa yang terjadi padanya. Pemuda itu berdiri di pintu dan melihatnya menangis. Dia menghampiri pemuda itu, “Kak, aku nggak ikut makan ya, setelah dipikir-pikir nanti uang aku nggak cukup”. “Udahlah, makan aja”, balas pemuda itu sambil menarik tangannya. Disaat makan, terjadilah percakapan yang agak mendalam antara dua orang itu. Dan barulah jelas, ternyata pemuda itu adalah seorang pedagang asal Bukittinggi yang dulunya kabur dari rumah karena tidak mau sekolah. Namanya Arif Aditya berusia 21 tahun dan sekarang dia telah berani pulang ke rumah orang tuanya di Bukittinggi karena telah berhasil menggarap usaha sendiri di rantau orang tanpa bantuan orang tua.

“Sebenarnya aku juga kepikiran kayak gitu kak, tapi nggak tahu apa yang mesti dilakuin”. “Yang dibutuhkan itu hanya keberanian, keyakinan dan satu yang paling penting ingat kalau kita punya Allah sebagai tempat bergantung dan mengadu”, pesan Arif. Lama berbincang, knek pun memberi aba-aba bis akan segera berangkat. Penumpang kembali ke bis dan bersiap melanjutkan perjalanan.

Tiga jam berlalu, bis sampai di tujuan. Penumpang turun. Sementara dia termenung melihat hamparan kota Medan di pandangannya. “Kemana aku?”. “Aku pergi dulu, selamat mencoba, assalamu’alaikum”, ucap Arif seraya memeluk dia, adik yang baru dikenalnya. “Wa’alaikum salam”.

Langit di terminal telah bewarna hitam, lampu-lampu jalan bewarna coklat keemasan sangat indah menghiasi jalanan di kota Medan. Berjalan dan terus berjalan menyisiri jalanan kota, sampai dia merasa letih. “Mudah-mudahan dekat sini ada masjid, aku bisa numpang tidur di sana”, pikirnya. Memang benar, tidak beberapa jauh lagi ada sebuah masjid yang lumayan besar, tampak sangat indah dikelilingi hijau-hijauan dan didampingi sebuah menara. Dia melangkah ke masjid, ternyata tidak dikunci, masuklah dia kedalam dengan membawa tas sandang kecilnya. Sangat lelah, lantas ia membaringkan tubuhnya di sudut masjid dekat pintu masuk. Teringat olehnya akan peristiwa tadi pagi yang menjadi penyebab mengapa sekarang dirinya ada di sini. Dia menghela nafas, “Untuk apa masih berpikir tentang itu, mereka saja mungin tak sedih sedikitpun atas kepergianku, malah mungkin senang karena tidak ada lagi yang akan mempermalukan mereka”. Sementara pikirannya berbicara, diapun terlelap.

“Allahuakbar Allahuakbar”. “Allahuakbar Allahuakbar”, lantunan adzan oleh muadzin membangunkannya. “Sudah subuh ya?”, ia bangkit sambil mengucek- ngucek matanya. Dia pergi mengambil air wudhlu dan bergabung dengan syaf laki-laki. Seusai shalat, “Maaf dek, kamu siapa kok tidur disini?”, sapa muadzin. “Maaf kak, aku. . . Aku nggak punya rumah di sini, aku pergi dari rumah”. “Hmm, ambil dulu tasnya kita bicara ya”. Dia menganguk.

“Aku Rahmat Alif garin di sini, kamu bisa panggil kak Rahmat. Aku mahasiswa asalnya dari Pasaman, umurnya masih 19 baru mau masuk 20 tahun. Nah sekarang kamu yang cerita”. “Nama aku Abbi Rahman, pendeknya Abi 14 tahun asal Bukittinggi, tidak menyukai sekolah dan selalu buat onar yang hanya membuat malu keluarga makanya aku pergi dari rumah dan di sini tanpa ada tujuan yang jelas namun yang pasti aku ingin berdiri sendiri tanpa bantuan orang tua”. “Ceritanya cukup, sekarang Abi tinggal di sini aja temanin kakak, biar ntar aku bilang sama pengurus masjid”, tuturnya disertai senyuman.

Setelah pengurus masjid menyetujui, barulah secara resmi Abbi menjadi garin di masjid itu, mashid Almusanif. Karena sekarang garinnya ada dua orang, maka ada pula pembagian tugas agar bisa saling membantu. Untuk segala aktifitas dimasjid sejak subuh sampai zuhur menjadi tanggung jawab Abbi, sedang ashar sampai isya dipegang oleh Rahmat.

Setelah tiga hari tinggal di masjid, dia mulai berkeliling kota Medan untuk mencari pekerjaan apapun itu asal halal. “Gimana Bi ?”. “Belum dapat kak, mungkin besok dihari ke 6 aku cari kerja”, jawabnya dengan senyum. “Ya udah, sabar ya, ambil wudhu yuk dah mau isya”. “Allahuakbar Allahuakbar”, suara Rahmat adzan. Usai shalat, ”Kak, hari ini belajar apa?”. “O iya, untung diingatkakn Bi, ambil aja buku kakak di rak sana materinya masih dalam buku yang kemarin, kakak capek banget duluan tidur”. “Iya”.

Hari ke tujuh mencari kerja, akhirnya dia mendapat pekerjaan juga walau tidak tinggi-tinggi yaitu sebagai seorang knek bis kota. Empat bulan bekerja, gajinya sudah mulai bisa ditabung. Dan iseng-iseng dia mencari pekerjaan tambahan yang tidak begitu menyita tenaga. Sekarang dia punya dua pekerjaan, menjadi knek dan pelayan rumah makan Padang.

Saat sedang bekerja di rumah makan, dia bertemu lagi dengan Arif teman sebisnya saat menuju kota Medan. “Kak Arif?”, sapanya. “Abbi? Ngapain disini?”. “Aku kerja disini kak, silahkan dinikmati kak tamu”. Selesai membasuh tangan, Arif menghampiri Abbi yang tengah mengemasi piring-piring bekas makan tamu. “Bi, bisa kita bicara diluar sebentar?”. “Bisa kak, aku izin dulu”. “Gini Bi aku kan dagang, kamu mau kerja sama aku nggak? Biasanya aku bisa urusin semua sendiri, tapi sekarang karena daerah pasarnya sudah agak meluas, jadi butuh tenaga lebih”. “InsyaAllah bisa kak”, jawabnya semangat. “Oke, 2 minggu lagi kamu bisa langsung kerja sama kakak. Kalau ada apa-apanya hubungi nomor ini”, penjelasan Arif sambil memberi selembar kartu nama. Pulangnya, dia langsung memberi berita bagus itu pada Rahmat. Dia minta pendapat. “Kalau menurut kakak, kamu baiknya berhenti aja jadi knek, karena kalau dilihat-lihat kamu ada jiwa dagangnya. Kan kerja-kerja kayak gitu bisa ngasah bakat kamu”. “Makasih kak, sebelumnya aku juga berpikiran kayak gitu”.

Hampir 3 tahun berlalu, dan kini dia telah menjelma menjadi laki-laki remaja berusia 17 tahun. Telah banyak pengalaman yang ia kecap di rantau itu. Mulai dari knek, pelayan, ikut orang berdagang, dan sekarang ia telah berdiri sendiri. Mempunyai barang dagang dan toko sendiri walaupun baru sekedar dikrontrak. Pengalaman berdagangnya dengan Arif agaknya menciptakan keinginan untuk memiki dagangan sendiri. Walaupun sudah berdagang, tapi Abbi masih ingin menemani kakaknya di masjid, Rahmat. Menjelang dia bergelar sarjana maksimal 1 tahun lagi.

Telah lahir di kota Medan seorang Sarjana Ekonomi, Rahmat Alif. Tepat beberapa minggu lagi memasuki bulan Ramadhan. Sudah selesailah masanya Rahmat dikota Medan ini, karena dulu ia berjanji pada kedua orang tuanya bahwa ia akan pulang setelah meraih sarjana dan kembali ke kampung. Begitu juga halnya Abbi yang sudah 3 kali Idul Fitri tidak bertemu keluarganya di Bukittinggi. Sudah mulai meluap mungkin rasa rindunya pada orang tua dan saudara-saudaranya disana, karena jarang sekali ia berbicara pada Rahmat tentang keluarganya sambil tersenyum serta tetesan air mata. Berharap lagi Arif akan menawarinnya untuk pulang bersama ke kota kelahirannya, Bukittinggi. Selama ini dia selalu menggelengkan kepala jika ditawari, namun sekarang rasanya sangat tidak sabar ingin mengiyakan tawaran kakak sekampungnya itu. Tapi 6 hari menjelang puasa Arif tidak juga kunjung mendatanginya, ia merasa heran karena biasanya belum seminggu akan lebaran, Arif sudah menghampirinya. Ada perasaan tidak enak, dia mendatangi kediaman Arif. Dilihatnya keadaan rumah sangat sepi, diketuknya pintu. Lama pintu itu baru dibukakan, “Astagfirullah kak, apa ini?”. “Ini  Bi seminggu lalu kakak kecelakaan, nggak sengaja ditbrak orang”. “Jadi kakak nggak bisa pulang?”, Arif menganguk. “Kenapa emang, kamu mau pulang ya?”. “Ia kak, tapi ternyata pas aku yang pulang, malah kakak yang nggak bisa pulang”. “Bukan gitu juga kali Bi, tapi baguslah kamu udah mau pulang, lihat orang tua dan saudara-saudara kamu di sana apa kabar mereka sekarang”.  “Ia kak”.

Setelah pamit pada Arif, Rahmat dan Abbi berangkat ke terminal menaiki bis tujuan masing-masing, dan bergerak meninggalkan kota Medan. Di bis, ia kembali memandang keluar seperti dulu ia menaiki bis untuk pertama kalinya ke Medan. Teringat akan peristiwa besar yang terjadi padanya, ia yang dahulu bisa menjadi dia yang sekarang. “Allah, Engkau sangat menyayangiku”, ucapnya lirih dengan deraian air mata. Hanya itu yang diucapkannya seperempat kemudian ia tertidur. Setengah jam kemudian dia terbangun karena pekikan penumpang, karena bis mereka hampir menabrak seekor kucing.

“Sampai juga di Aur, sampai juga di sini kembali”. Sangat bahagia ia berlari turun bis dan mencari angkutan umum menuju rumahnya. Di atas angkot, ”Rani?”, sapanya pada salah seorang penumpang di depannya yang baru naik. “Abbi?”, dia menjawab dengan sedikit binggung. “Dari mana?”. “Ha? Apa? O iya, dari pasar abis belanja”. “Kenapa?”. “Nggak, aku masih nggak percaya aja bisa ketemu kamu lagi, di angkot pula. Kamu dari mana? Bawa segini banyak?”. “Oh, aku dari Medan, ini oleh-oleh buat keluarga di rumah. Dah kelas berapa Ran?”. “Udah kelas 3”. “Bentar lagi kuliah tu ya? Wah bangga nih”. “Kenapa? O iya, berubah banget kamu Bi, bisa rapi sekarang, tambah tinggi”. “Oh, tentu, orang ganteng harus begitu, hehehe”. “Kiri pak”. “Aku turun disini ya, ada perlu bentar”. “Iya, biar aku yang bayar”. “Makasih”. Sedikit lagi sampai di jalanan menuju rumah.

Turun dari angkot, ia berlari menuju rumah disertai barang-barang yang ia bawa dari rantau. “Assalamu’alaikum….”. “Wa’a….”,  ibunya membuka pintu dan sangat terkejut melihat laki-laki yang berdiri di hadapannya. “Wa’alaikumsalam nak”, jawab beliau dan memeluk erat anaknya yang telah bertahu-tahun tidak bertemu. “Mana yang lain bu?”. “Ada di dalam, ayo kita masuk”. “Siapa bu?”, Tanya salah seorang adik perempuan Abbi. “Abang!”, teriaknya berlari memeluk. “Ayah mana bu?”. “Ayahmu dikamar sedang sakit”.

“Ayah? Ini Abbi pulang yah”, memeluk dan menciumi ayahnya yang tertidur. “Ada apa ini?”,heran sang ayah. “Abbi!”, sang ayah berteriak terkejut dan memeluk anaknya sambil terus menerus mengucap kata maaf. “Tidak perlu ayah, karena mungkin itu jalannya yang terbaik. Sekarang Abbi dah mengubur dalam-dalam semua yang buruk di masa lalu. Tak siapapun yang patut disalahkan kecuali diri ini sendiri, mengapa berjalan di jalan yang salah”, tuturnya dengan air mata. “O iya, ini Abbi bawakan semuanya oleh-oleh walau tidak mahal tapi belinya pakai uang usaha sendiri”, tambahnya sambil mengusap air mata dan mengopak tasnya yang padat.

Dimulailah lembaran baru dalam keluarga yang awalnya hanya terdengar keributan saja, keluarga yang salah satu anaknya merasa tersisih, sekarang menjadi keluarga yang akur dan anak itu sekarang telah menjadi dewasa lebih dulu dibanding usianya sekarang. Ramadhan dan Idul Fitrinya kali ini tak akan dilewati di masjid lagi, tapi disini di Bukittinggi.

Kegiatan berdagangnya terus dilanjutkan, malah ia juga buka cabang di sini. Sekarang ia sudah bisa membantu kebutuhan keluarga. Dan sekali 2 minggu ia berbalik ke Medan untuk melakoni dagangannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s