Hanya dapat Dibuktikan oleh yang Merasa

Tidak segala hal dapat dibuktikan secara kasat mata, wujud adanya. Tidak semua hal bersifat fisik. Seperti membuktikan bagaimana kerja jantung atau membuktikan air dapat mengobati rasa haus. Tidak, tidak semuanya demikian. Percaya atau tidak, diakui atau terpaksa mengakui, di dunia ini memang ada yang bersifat metafisik. Seperti halnya ruh (substansi yang keberadaanya ada di balik jasad), ketenangan, ketentraman, dan kepasrahan yang dapat di rasa oleh manusia tapi tidak terlihat wujudnya.

Ambil contoh kepasrahan. Shalat, dimaknai sebagai salah satu bentuk kepasrahan seorang hamba terhadap Tuhannya. Bacaan-bacaan shalat yang berupa do’a memperlihatkan betapa lemahnya seorang manusia sehingga mesti menggadu, meminta ampun, meminta pertolongan pada Dzat yang Maha segalanya. Shalat seorang hamba yang khusyuk, akan sampai pada titik ‘kepasrahan’, ketenangan yang hanya akan dapat dirasakan oleh orang yang melakukan hal yang sama. Tidak akan mungkin rasanya orang yang tidak pernah melaksanakan shalat dapat merasakan ‘kepasrahan’ dan ketenangan seperti ‘kepasrahan’ yang dirasakan oleh orang-orang yang shalat tadi. Demikian juga halnya dengan orang-orang yang tidak pernah mengamalkan kehidupan beragama, mereka tidak pernah mengetahui atau meyakini agama, sudah barangkali jelas tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya mengalamalkan kehidupan beragama. Sama juga halnya dengan orang yang mengetahui mandi itu dapat membersihkan tubuh dan mengamalkannya tentu dia dapat merasakan bagaimana rasanya bersih dan segar setelah mandi, sebaliknya orang yang tidak tahu mandi itu dapat membersihkan tubuh tentu tidak akan mengamalkannya, apalagi merasakan bersih dan segarnya setelah mandi.

Seperti perumpamaan di atas, di mana nikmatnya kepasrahan itu hanya dapat dirasakan oleh orang yang shalat dengan khusyuk. Bagaimana mungkin hal ini dapat dibuktikan secara kasat mata (dalam penjelasan ilmiah) terhadap orang-orang yang sama sekali tidak merasakannya? Sedang mereka tidak pernah melaksanakannya. Dalam Islam, manusia itu sendiri dapat menjadi subjek ‘empiris’ dari ‘empirisisme’nya, hingga kajian dan penelitian terhadap dirinya sendiri adalah suatu sains yang berdasarkan penelitian, pengamatan atas dirinya oleh dirinya. Hal-hal metafisik seperti ini sama saja dengan hal-hal yang fisik, keduanya adalah sains. Karena ilmu tentang agama dan pengalaman keagamaan tidak hanya diperoleh melalui pemikiran rasional dan perenungan saja, tetapi juga berdasarkan amalan ketaatan dan pengabdian yang tulus pada Dzat yang Maha segalanya.

(akupunmasihbelajar)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s