Minggu di Baralek (1)

Tidak jauh melenceng dari dugaan ku, kurang lebih sama. Baik suasananya, orang-orangnya, hilir mudik, konten acara dan perintilan isi pembicaraan pada umumnya. Namun aku juga berterimakasih telah dapat hadir di sana. Melihat apa yang harus ku lihat, memahami apa yang harusnya ku mengerti dan menggenggam apa yang mestinya aku genggam. Pelajaran untuk masa yang akan datang, jika tiba masanya nanti.

Pijakan pertama memasuki gerbang saja rasanya sudah janggal. Hening, berserakan, asing. Tahu, aku bagian dari mereka. Paham memang sudah kewajiban sekaligus hak aku hadir. Tapi entahlah, rasanya kedua itu tidak terjalankan dengan baik. Tidak tuntas melaksanakan kewajiban dan tidak lega mendapatkan hak.

Sepanjang waktu di sana, aku selalu dan hanya didampingi oleh seorang gadis, menurutku lebih pendiam. Kami tak banyak berkata, hanya kode-kodean tentang apa yang dilihat. Observasi tidak berstruktur.

Sebenarnya naluriah sekali dan sudah menjadi hukum alam, siapa yang lebih kuat dia yang berkuasa, dia yang dihormati. Siapa yang lebih berpangkat, lebih terkenal, itu disanjung, diberi perlakuan khusus hingga (jelas) terlihat diajan-ajankan, dipaksakan. Semuanya sadar akan itu, namun tuntutan naskah skenario dan peran memaksa untuk pura-pura bodoh, pura-pura tidak tahu. Menjalankan tradisi, melakukan lagi kebiasaan itu. Kesal. Aku kesal. Dia di arak, di salami dan diciumi tangganya oleh semua golongan, oh salah, bukan semua golongan, oleh semua yang ingin dilihat, baik lebih kecil (terlebih lagi), sama besar, lebih tua (agak jarang). Contempt. Ekspresi itu sesekali hadir di wajahnya. Baiklah sesaat aku melihat acara ini sebagai acara penyambutan pejabat negara yang biasanya ke sekolah-sekolah. Ayolah, biasa-biasa saja. Biaso-biaso se lah. Terlalu alay, lebay, hah itu lah. Beberapa saat acara ini berganti konten, bergeser esensinya. Tentu tidak bagi beberapa orang, sebut saja panitia yang boleh jadi di luar rencana atau sudah ada di dalam perkiraan mereka. Sebab rundown acara mereka yang rancang.

Acara-acara semacam ini sering kali dijadikan ajang malagak bagi sebagaian orang, meskipun tidak juga hilang esensi untuk mempertemukan ‘kami’, ‘mereka’ kembali. Laki-laki, perempuan sama saja, hanya dengan metoda yang berbeda, tergantung kreatif tidak kreatifnya, menarik tidak menariknya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s