Sekedar Membaca (tidak) Pintar

Kapan anda diajarkan membaca? Mengenal huruf? Kalau orang tua saya mengenalkan huruf pada usia sekitar tiga tahunan. Dengan cara bagaimana beliau mengenalkan huruf? Ya dengan beragam cara seperti, menuliskan hurufnya di tanah, memajang poster huruf, melihat koran, dan baaaanyak lainya. Pandai membacanya kapan? Sebenarnya saat TK sudah bisa, hanya sekata-sekata dan dengan bersusah payah tapi. Jadi tidak sah bisa. Katakanlah sejak naik ke kelas dua. Jauh ya.

“Coba baca satu paragraf”, sering sekali ibu guru menginstruksikan ini. “Pagi ini Ani terlambat bangun. Sebab tadi malam kakak mengajaknya menonton tivi hingga larut malam. Ayah dan ibu juga ikut menonton. Acara lucu tadi malam sangat menghibur. ……”, dibaca.

Naik ke kelas tiga, satu kalimat mulai menjadi panjang hampir sepanjang dua kalimat saat kelas dua digabung. Saat ini juga mulai diperkenalkan yang namanya peribahasa. Di mulai dengan yang sederhana seperti ‘rajin pangkal pandai’, sering dijadikan senjata oleh guru, ‘hemat pangkal kaya’, jangan banyak jajan. Perlahan-lahan mulai meningkat tingkat kesulitannya. Membaca satu halaman, membaca sebuah cerita, sampai-sampai meringkas buku. Yah, belajar itu bertahap, demikianpun dengan menjadi pintar yang juga berangsur-angsur. Sedikit demi sedikit. “Hebat, sudah bisa membedakan huruf”. “Pintar, sudah bisa membaca sekarang”.

Besar pasak dari pada tiang. Tong kosong nyaring bunyinya. Familiar sekali. “Artinya apa Buk?”. “Besar pasak dari tiang, berarti besar pengeluaran dari pada pendapatan. Tong kosong nyaring bunyinya, orang yang kurang berilmu namun sering berkoar-koar  pura-pura tahu. Coba nanti sepulang sekolah dipukul tong minyak tanah yang kosong, apa benar bunyinya nyaring?”.

Kemudian juga mulai dipelajari gaya bahasa. Semisal hiperbola yang berlebih-lebihan, lebay. Dia menangis hingga kelas banjir. Dia di sini adalah manusia biasa, bukan Doraemon atau Nobita (ya).

Oh iya, tidak lupa juga dengan mata pelajaran BAM (Budaya Alam Minangkabau). Paling menghibur, paling seru, paling ditunggu. Tentu. Sebab tidak mesti berbahasa Indonesia (yang diajan-ajankan) di kelas, boleh bahasa sehari-hari, bahasa Minang. Terlanyau  sudah peraturan sekolah untuk berbahasa Indonesia di manapun berada, selama masih di lingkungan sekolah dan sekitarnya. Ya, kan lucu saja jika anak Minang belajar BAM dengan bahasa Indonesia, kurang pas. “Agar mudah paham”, tunjang Bu guru.

Lah, apa hubungannya BAM dengan cerita di atas tadi, belajar tahap demi tahap? Entahlah, tapi semestinya ada (dipaksakan). Pada mata pelajaran BAM, juga ada peribahasa. Memahami pituah dan pantun untuk kemudian di hafalkan. Tidak hanya itu, bahasa sehari-hari saja ada yang dengan kiasan. Jadi tidak langsung tembak. Seru. Letak bertahapnya? Dari yang sederhana dulu baru ke yang agak rumit-rumit-semakin rumit. Seperti skala saja.

Baiklah, bertele-tele sekali saya menjelaskan. Di atas itu pembuka, berikut masuk ke pada isi. Berdasarkan perkembangan, tentu semuanya bertahap. Anak belajar merangkak, kemudian tatah, berjalan selangkah demi selangkah hingga akhirnya bisa berlari. Sama halnya dengan membaca sesuatu. Mengenal huruf, mengabungkannya, membacanya, memahami maknanya.

caranoMemahami makna, inilah yang tidak semua orang bisa. Ada orang yang hanya bisa membaca apa yang tersurat, namun ada juga orang yang bisa membaca apa yang tersirat, dan lebih hebat lagi ada orang yang bisa melihat membaca apa yang tersembunyi. Beragam, dipengaruhi oleh berbagai hal. Seperti lingkungan tempat tinggal, bahasa pergaulan, perkembangan kognitif, dan lain sebagainya. Dalam berperibahasa, tentu tidak bisa jika hanya bisa membaca apa yang tersurat. ‘Menang jadi arang, kalah jadi abu’. Bagaimana bisa menang jadi arang, kan manusia? Pertanyaan seperti inilah yang muncul jika hanya bisa membaca apa yang tersurat. Masih ada mantan siswa SD yang bertanya demikian? Sedang jika bisa membaca apa yang tersirat, bisa jadi terjemahannya berbeda namun dengan maksud yang sama. Kalah dan menang dalam sebuah pertengkaran tidak menyelesaikan masalah. Tidak ada yang baik. Membaca yang tersembunyi, peribahasa di atas bisa di bawanya ke mana-mana. Sesuai konteks.

Saat belajar BAM, hal ini yang banyak ditemui. Dalam berkomunikasi, jarang sekali tokoh katakanlah dalam sebuah cerita, menyatakan sesuatu dengan gamblang. Bisa dengan pantun. Bersajak ab ab, baris satu dan dua sebagai sampiran, baris tiga dan empat sebagai isi. Sayangnya tidak semua pantun di Minang seperti itu, boleh jadi ab ab dan satu bait terdiri dari empat baris namun sangat mungkin keempat barisnya adalah isi, namun bukan puisi. Imajinasi bermain. Menantang. Rasis! Tidak, hanya kagum dan ingin mempelajarinya. J

Bisa juga dengan bahasa berkebalikan. Kiasan. ‘Duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang’. Membaca yang tersurat, pertanyaan lagi. Bagaimana bisa duduk sendiri merasa sempit? (Pikir sendiri). Kemudian, jika seorang mamak datang ke rumah dan berkata pada kamanakan, ”Yo sabana rancak na parangai ang, sanang ati den. Acok-acok ulang dih”. (Bagus benar perbuatanmu, saya senang. Sering-sering ulangi ya). Jika kamanakan malah merespon dengan senyum manis, alamat dikatakan tidak tahu kiasan nanti. Ucapan mamak tadi berarti marah, tidak suka dengan perbuatan kamanakan. Satu lagi. Jika kakek berucap pada ibu yang sedang mengendong anak, “Buruak bana paja”. Jika terhadap kata-kata yang demikian, barulah senyum manis sebagai respon yang tepat. Kakek bukan melampiaskan rasa benci pada cucunya, tapi itu sebagai bentuk pujian, rasa syukur diberi cucu yang kebalikan buruak. Sebagian orang menggatakan ini aneh. Boleh saja, tapi di sinilah letak seninya. Makin jauah tasuruak makin tinggi nilainyo.. (Makin jauh tersembunyi, makin tinggi nilainya).  

Al-Qur’an juga demikian bukan? Tentu bukan bahasa Al-Qur’an yang meniru bahasa suatu budaya, sebab yang telah sempurna tidak perlu lagi disempurnakan apalagi meniru. Tidak ada sempurna kuadrat. Memaknai Al-Qur’an, tidak bisa jika hanya membaca apa yang tersurat. Jika hanya membaca yang tersurat, beri saja terjemahan Al-Qur’an pada anak kelas dua SD. Selesai sudah! Al-Qur’an jauh lebih tinggi estetikanya dibanding pituah tadi. Nah, bagaimana mungkin bisa sembarang orang menerjemahkan Al-Qur’an? Kalau salah mengartikan pituah boleh lah dibilang kurang tahu kiasan, malu, salah boleh belajar. Indak tau mako baraja. Lah kalau Al-Qur’an salah mengartikan? Lah sudah salah arti, disebarluaskan pula, berkoar-koar? Apa yang pantas selain . . . Sok Tahu. Tong kosong nyaring bunyinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s