Sampah

Kenapa berbeda sekali kalian berdua?”. “Si A bisa ini kenapa kamu tidak?”. “Ah, masa ini saja tidak bisa?”. “Kamu tidak belajar ya?”. 

Kalimat macam apa di atas itu? Kalimat sampah semua. Sampah busuk!! Walau ‘mereka’ sampah tapi dampaknya bisa jadi sangat luar biasa. Kenapa? Karena saat sampah itu dibawa-bawa bukannya dibuang jauh, atau dikubur supaya tidak berbau, maka bayangkanlah.

Sampah-sampah itu sering didengar (terkhusus saya) di Sekolah Dasar. Spesifik sampah-sampah ini ditujukan pada siswa-siswa yang bersaudara, bersekolah di sekolah yang sama. Salahkah? Tentu tidak. Pasti ada alasan mengapa orang tua melakukan hal tersebut. Atau bisa jadi malah anaknya sendiri yang berkeinginan demikian. Di antara sekian banyak alasan adalah agar bisa pergi sekolah bersama, agar bisa saling menjaga di sekolah dan supaya bisa saling membantu. Tidak ada yang salahkan?

Kenapa sampah-sampah itu bisa ada? Bisa muncul? Bisa keluar dari katakanlah seseorang yang terpelajar? Seorang guru yang sebelum bertugas sempat dibekali dasar-dasar psikologi. Tidakkah mereka sempat terpikir dampak dari melemparkan sampah-sampah itu? Mereka juga manusia yang tidak luput dari khilaf. Benar kan? Tentu benar.

Dampak seperti, salah satu dari mereka bersaudara merasa dirinya rendah karena selalu dibandingkan dengan orang lain, saudara sendiri pula. Ingin melawan, tapi kenyataannya demikian. Ingin melawan tapi yang berbicara adalah seorang yang lebih tua dan sangat harus dihormati. Ingin melawan, tapi pada siapa bisa diluapkan? Kesal? Kecewa? Malu? Merasa tidak berguna? Rasa dianggap remeh? Mungkin itu dirasakan. Untuk beberapa lama tidak terungkapkan, baik perempuan maupun laki-laki. Baik besar maupun kecil.

Sempat terpikirkankah jika ini dilakukan di depan orang banyak, acapkali? Bahkan bertahun-tahun? Bawakan saja pada diri sendiri. Apakah bahagia saat dibandingkan dengan orang lain? Apapun posisinya. Entah itu yang lebih baik, terlebih lagi jika posisinya yang buruk. Ya boleh jadi ini masalah perasaan. Posisi yang di atas akan merasa tidak enak pada yang dibandingkan dengannya. Apa daya, sampah itu keluar bukan atas kemauannya (bisa di rem?). Posisi yang di bawah, akan merasa tidak nyaman yang komplikasi (bisa dianggap angin lalu?).

Banyak kasus di atas terjadi. Tanpa pertengkaran, tanpa ada masalah, dua orang bersaudara ini menjadi perlahan saling menjauh (bukan fisik). Terlebih masih berada di tingkat SD, dimana kemampuan untuk memandang secara positif berbagai hal mungkin masih terbatas. Menerjemahkan apa adanya. Muncul kemarahan, “Kenapa saya dibandingkan dengan kamu?”. “Benarkah saya seperti itu?”. Kemarahan yang terpendam dan terpupuk, menjadi benci. Ya, meski hal ini juga dapat dijelaskan secara teoritis, tapi secara sederhana tanpa teori pun bisa dimengerti. Mungkin bisa jadi pertimbangan saat akan bersekolah di satu sekolah yang sama dengan saudara, apalagi SD. Di saat siswa cenderung membenarkan apa yang dikatakan guru.

Begitu sederhananya kata-kata. Namun bisa memutarbalik keadaan, bisa mengaduk rasa, bisa mengapung dan membenamkan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s