Menjadi Gudang yang Bersih

Siapa yang akan disalahkan atas semua yang sudah terjadi? (menunggu) . . . . . . . (masih menunggu) . . . . . Aku bertanya padamu, tolong jawablah.

Selalu kamu diam saat aku bertanya, selalu kamu marah saat aku bertanya. Harus bagaimana? Diam saja? Namun kamu juga akan marah saat ku diam. Lihat dirimu sayang, semakin kurus, rusak bahkan mulai hancur. Kebencian menggerogoti tiap jengkal langkahmu. Apa yang bisa kulakukan untuk mencegahnya semakin merajalela? Bahkan senyumanku saja kau enggan melihat. Mungkin kau juga membenciku, sangat. Maafkan.

Beranilah melihat dirimu yang sekarang sayang. Tentu akan jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Saat kepalamu masih bisa kuacak-acak, saat masih bisa belajar bersama, saat dunia masih bisa kita tawar, saat mata hanya melihat senyuman, saat perasaan hanya merasa nyaman. Semua itu, semuanya sudah berubah. Lihatlah, buka matamu. Kamu dan aku sekarang telah jauh tumbuh. Roda memang berputar bukan? Namun kenapa kamu tidak percaya bahwa dia memang berputar? Sampai sekarang.

Bukannya aku tidak hendak tidak percaya bahwa dia berputar. Bukannya tidak kebencian juga menggerogotiku. Tapi semakin hendak tidak percaya, semakin juga ingin aku mempercayai. Semakin kebencian menggerogoti, semakin juga kepasrahan mendekat. Kenapa ini terjadi? Memangnya kenapa ini tidak harus terjadi? Aku benci! Kenapa mesti membenci? Mereka selalu menjadi tanda tanya. Selalu.

Ada satu di antaranya sayang, yang membuatku berani melawan kebencian. Saat aku tahu bahwa dia dan dia melakukan itu bukan atas keinginannya. Jika saja mereka bisa untuk tidak melakukannya, tentu tidak akan dilakukan. Sebab mereka juga tidak bahagia dengan itu. Juga menangis. Coba sebentar saja posisikan diri menjadi mereka.

Tapi tolong sayang, mari perlahan kita mulai tata rapi kembali semua (lagi). Menjadi gudang yang bersih. Menjadikannya hal yang layak untuk dikenang, mungkin memang bukan karena indahnya tapi karena perjuangan, karena pembelajarannya. Pelajaran untuk kita (kamu dan aku) jika kelak diberi kesempatan, jangan lakukan hal yang serupa, bahkan hanya untuk sekedar mendekati. Agar tidak ada kita (kamu dan aku) kita yang lainnya nanti.

Itu salah satu petualangan yang sudah dilewati, masih banyak petualangan-pertualangan lain menanti. Entah yang kita inginkan atau tidak ceritanya. Temukan dirimu kembali, lihat, dan terimalah ia. Bagaimana bisa kamu akan menjadi kamu, saat kamu tidak menerima bahwa kamu adalah kamu. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s