Mudah Membuatnya . . .

Mengungkapkan sebuah kalimat atau hanya sekedar clue yang menyatakan “ya saya bersedia”,  “ya saya berjanji” ? Mungkin boleh jadi secara sengaja atau barangkali terlebih sering secara tidak sengaja. Diniatkan atau lebih sering karena terpaksa, ingin menyenangkan seseorang, atau ingin cepat mengakhiri interaksi dan atau atau yang lain. Terkadang salah dalam memutuskan bahasa. Bukannya akan menyenangkan seseorang tersebut namun malah menyakitinya, ingin mengakhiri interaksi namun malah akan terus berlanjut dengan suasana sebaliknya, tanpa disadari, tanpa prediksi, dan tentunya tanpa diingini.

Menjadi menarik, saat tingkah laku ini banyak di-(saya)-temukan dalam seting keluarga, khususnya antara anak dan orang tua. Baik, yang terlihat di lingkungan tempat tinggal (saya) banyak orang tua yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dibandingkan di rumah, sebutlah bekerja baik itu ayah maupun ibu. Lalu siapa lagi yang menemani anak di rumah? Kebanyakan adalah kakek, nenek, dan boleh sebut orang-orang yang lain. Tidak seperti beberapa generasi sebelum (saya), dimana seorang anak memang tumbuh dengan orang tuanya. Tumbuh dengan orang tua bermakna orang tua mendampingi pertumbuhan tersebut dengan melihat, bersama anak atau terlibat dalam proses pertumbuhan tersebut secara aktif, dan lainnya yang sepertinya ideal. Orang dulu mengatakan, “dia anak saya”, (saya) artikan memang demikian adanya. Sebab dialah yang berada di samping anak saat anak tumbuh, saat anak butuhkan, dia yang ada di samping anak saat anak ingin melihat, dia yang ada di samping anak saat anak butuh untuk dipeluk, butuh untuk ditemani. Tapi orang sekarang berkata, “dia anak saya”, tidak bisa sepenuhnya (saya) artikan sama dengan orang dulu. Karena fakta menunjukan,  saat anak ini mengalami masalah, tidak nyaman dengan suatu situasi, yang dicari bukan orang tuanya, tapi nenek atau kakeknya. Saat anak menangis, ia mencari kakek untuk memeluknya, bukan ayah atau ibunya. Masih bisakah orang tua ini mengklaim “dia anak saya”?. Barangkali memang ibu yang melahirkan, memang ayah dan ibu yang menafkahi, tapi siapa yang ada saat dia butuhkan?. Hanya sedikit gambaran hubungan anak dan orang tua yang (saya lihat) di lingkungan tersebut. Ya, ini subjektif.

Pulang bekerja, orang tua sudah lelah. Tap tidak dipungkiri juga ada orang tua yang meluangkan waktu setelah pulang bekerja seberapun penatnya, tetap menemui anaknya. “Bu, aku kemarin dapat nilai 100”. “Oh ya? Hebat! Mata pelajaran apa?”. “Matematika Bu”. “Hmm, akhir pekan sebagai hadiahnya, ibu beliin es krim ya J? Mau ek krim?”. “Iya, mau Bu. Adek tunggu ya”. (Akhir Pekan, malam). “Bu, jadi beliin es krim?”. “Astaga, ibu lupa dek. Besok ibu beli ya”. “Iya bu, jangan lupa lagi”. (Besok malam). “Jadi bu?”. “Apa?”. “Es kriiim?”. “Astaga, ibu lupa dek. Ya udah, besok beli sama kakek aja ya”. –Salah satu contoh.

Niat Ibu di atas baik, sangat baik. Ingin mengapresiasi prestasi anaknya. Namun, niat baiknya malah mengecewakan anak. Akan beda suasana jika si Ibu tidak menawarkan es krim. Dalam banyak kejadian, nilai 100 bisa diganti dengan prestasi atau keadaan lain, es krim sebagai hadiah dapat berupa yang lain juga. Tapi sebagaimana di atas tadi, lupa bisa dapat bentuk yang lain juga yang bermakna tidak menepati.

Terlihat sederhana memang, ya memang sederhana. “Anak kan juga bisa memaklumi, bisa mengerti bagaimana keadaan kita”. Hanya saja, (saya) tidak bisa mengerti kenapa mesti mengubar janji jika tidak bisa menepati. Entahlah entah itu anak-anak, dewasa, orang tua, jika diberi janji oleh orang yang spesial ada kecenderungan untuk selalu mengingat, waktu rasanya berjalan lebih lama. Dan juga menjadi kecenderungan orang yang berkata dalam hal ini berjanji untuk tidak selalu mengingat. Terkait apa yang diucapkan tidak dimaknai atau tidak disertai emosi tertentu. Akan membuat marah jika sudah terlalu berharap, terlalu percaya namun tidak mendapat bayaran dari janji yang seseorang ucapkan pada kita. Terjadi berkali-kali bisa membuat kita ragu orang ini akan menepati atau tidak, jika tidak ditepati lagi bisa membuat kecewa. Berlangsung lagi (lagi, lagi dan lagi), membuat kita tidak percaya padanya, walau ada kemungkinan ia akan menepati. Sekali lagi, ya ini subjektif.

Ini yang terjadi. Kenapa tidak bersikap gentle saja? Tidak bisa menepati sebuah janji, jelaskan alasan kenapanya. Pikirkan kembali seberapa besar kemungkinan akan menepati sebuah janji sebelum menyebutkannya lagi. Jika memang tidak bisa, bilang tidak bisa, tidak perlu memberi harapan kosong. Mudah untuk membuatnya kecewa, mudah untuk membuatnya benci. Namun mudahkah untuk mengembalikan kepercayaan? Orang tua menjadi contoh bagi anaknya. Orang tua menjadi guru bagi anaknya. Kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan berulang dapat membuat dampak yang besar. Seperti pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s