Tukang Pos

Bahagia sekali rasanya jika mendengar, “Ada kiriman . . ”, kata Pak pos. Biasanya kiriman berupa rendang, keripik pisang, ikan asin, kerupuk kulit dan buku. Lalu Pak pos bilang, “Tolong, tanda tangan di sini ya”, sebagai tanda terima.

Tukang pos kali ini rasanya kurang tepat jika dipanggil pak pos. Bukan apa-apa, hanya saja terlalu jauh dari kriteria seorang pak pos. Kurir. Lebih tepatnya penyampai pesan. Orang ini menjadi penyampai pesan bukan karena tuntutan profesi, imbalan, (apalagi) bukan karena keinginan, kemungkinan besar karena terpaksa.

Bukannya seperti penyampai pesan saat sekolah dulu. “Si A nitip salam tuh”, kemudian disusul ekspresi malu-malu atau marah dari si penerima pesan. Atau membawakan surat ijin teman yang sedang sakit jika berdekatan rumah (jika tidak ada keharusan disertakan surat keterangan dokter). Tidak, ini tidak demikian.

“Ayah, kemarin ibu bilang bla bla bla bla bla”. “Enak saja ibumu tu kalau ngomong. Sampaikan ke dia bla bla bla bla bla”. “Ayah tadi bilang bla bla bla bla Bu”. “Yah. . . . . . “. “Bu. . .  . . . “. Dan seterusnya. Anak yang menjadi penyampai pesan ini biasanya mereka yang masih berusia minimalis. Biasanya hal ini sering terjadi jika orang tua sedang bertengkar dan baru bercerai.

Coba bayangkan jika menjadi si anak tersebut. Bagaimana perasaannya? Betapa binggung dan tersiksanya jika menjadi penyampai pesan yang seperti ini. Takut, cemas, khawatir, marah, kesal, sedih dan beragam perasaan negatif lainnya bercampur. Banyak hal yang tak bisa dikalimatkan (barangkali hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah merasakan).

Banyak hal yang orang dewasa anggap sepele namun terkadang bagi si anak usia minimalis, hal tersebut bahkan seakan-akan akhir dari dunianya. Saking beratnya. Salah satunya adalah menempatkan si usia minimalis sebagai penyampai pesan dalam keadaan seperti yang di atas tadi, serba salah. Tanpa disuruhpun, anak memiliki kecenderungan untuk (berusaha) menyelamatkan apa yang menurutnya masih bisa diselamatkan. Salah satunya dengan menyaring atau merubah isi pesan yang akan disampaikannya. Kemungkinan terjadinya konflik internal (konflik dalam diri sendiri) cukup besar. Sambil jalan, anak bisa menilai bagaimana orang tuanya. Bisa jadi ia yang sebelumnya hormat pada keduanya, sekarang menjadi (secara tidak sadar) mengecilkan salah satunya. Tidak hanya penilaian terhadap pihak di luar dirinya, namun juga bisa terjadi perubahan penilaian terhadap dirinya sendiri. Boleh jadi dipengaruhi oleh seberapa berhasil ia memperbaiki hubungan kedua orang tuanya. Sangat banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, terlepas baik atau buruknya. Namun yang jelas, keadaan seperti ini tentu sedikit banyaknya mempengaruhi anak.

Salah satu keadaan yang bisa meminimalisir terjadinya hal di atas adalah dengan adanya pihak ketiga di rumah. Lebih disarankan orang tua ibu atau ayah, bukan orang lain. Terkadang dengan adanya orang yang lebih dituakan oleh ayah dan ibu, mereka akan lebih berpikir dalam bertindak (preventif). Sepenggal lirik lagu Ada Band – Armada Masa Depan (padahal jika dilihat secara keseluruhan lirik ntersebut sangat tidak berkaitan dengan hal ini), “terkadang kita (orang tua) kekanak-kanakan”. Dan juga sebagai tindakan intervensi, kakek dan nenek dapat bertindak sebagai mediator. Setidaknya tekanan psikologis anak tidak seberat jika di sebuah rumah hanya dihuni oleh keluarga inti saja.

Selanjutnya, salah dua hal yang bisa meminimalisir terjadinya hal di atas adalah dibangkitkannya kesadaran kedua orang tua itu sendiri tentang bahaya menjadikan anak sebagai penyampai pesan. Jangankan dengan menjadikan anak sebagai penyampai pesan, bertengkar di depan anak, menceritakan keburukan salah satu orang tuanya, membuat anak berpikir tentang masa depan orang tuanya saja sudah berbahaya, setidaknya untuk anak (si usia minimalis) itu sendiri. Sebagaimana api dihadapi dengan api, maka ia menjadi lebih besar. Sebaliknya jika api dilawan air, setidaknya bisa mereda.

Karena anak bukan alat, ia adalah manusia kecil yang butuh kasih sayang sebagaimana kita. Sebaiknya jangan timpakan beban pikiran terkait hubungan orang tuanya pada anak. Apalagi si usia minimalis. Mereka memang manis, lugu, polos, tapi terkadang lupa bahwa merekapun bisa terluka.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s