Pasa diak?

Sejak pertama kali berada di sini, perbedaan memang langsung terlihat jelas. Banyak sangat. Salah satunya terkait kendaraan umum, angkot khususnya. “Pasa diakangkot (pak, buk)?”, dulu sangat sering kalimat ini terdengar, kalimat familiar bagi pengguna angkot, khususnya di daerah (saya). Kami adalah simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Benar supir angkot membutuhkan penumpang, namun kita (masyarakat) juga membutuhkan jasa mereka. Menarik saat saya melihat perbedaan  antara kami (masyarakat daerah asal + saya) dan kita (masyarakat daerah ini + *saya) dalam berespon terhadap kalimat si supir angkot.  Di sana, kami terbiasa untuk merespon kalimat itu. Sebenarnya bukan hanya dalam bentuk kalimat, banyak tanda-tanda lain yang bermakna sama seperti lambaian tangan, klakson dan lain-lain. Memang tidak ada peraturan tertulis untuk merespon stimulus itu, hanya saja sosial yang membentuknya. Sekali waktu saat (saya) berada di atas angkot, si supir memberi tanda ke seseorang diujung jalan yang jaraknya masih sangat jauh dari angkot. Si seseorang tidak merespon dengan sebuah tanda apapun, sampai akhirnya si supir menunggu hingga orang ini sudah berada dekat dengan angkot. Lumayan lama. Tapi ternyata, orang ini tidak hendak naik angkot. Waw, angkot langsung gaduh (apalagi banyak ibuk-ibuk). “Apa salahnya memberi tanda tidak, kan nggak rugi atau berkurang apapun juga. Sombong”, beberapa orang di angkot berkomentar demikian. Jarak, barangkali menjadi salah satu faktor kenapa ia tidak menjawab. Ya, tapi setidaknya beri tandalah.

Sementara di sini, kita jelas-jelas sudah berada di samping angkot masih saja tidak berespon, malah pura-pura tidak tahu. Ganjil rasanya melihat orang-orang di sini yang terlalu acuh tak acuh dengan ‘sapaan’. Memang mereka sibuk. Tapi rasanya terlalu, jika sampai-sampai memberi jawaban (angguk atau geleng kepala) saja tidak sempat. Meski tidak semua, tapi kebanyakan yang ditemui demikian. Kesal melihatnya. Ya, paling tidak posisikan diri jadi si supir angkot sekali-sekali lah. Atau orang yang pertanyaannya tidak di jawab. Sepele memang, tapi. .

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s