Terima Kasih :)

Masih berseragam putih merah. Hari itu pertama kalinya melihat mereka. Siapa saja mereka? Ada seorang ibu guru (jika dilihat dari seragamnya) sekaligus sepertinya sebagai ibu dari satu anak laki-laki kira-kira sebaya denganku, dan sepasang lagi yang sepertinya lebih kecil. Terlihat bergitu kompak, semuanya mengenakan seragam, mengenakan tas (tentu), dan yang mendukung kekompakan lainnya adalah mereka sama-sama menenteng sesuatu yang dibaluti kain atau dibungkusi kantung plastik. Sesuatu itu terlihat seperti makanan yang akan dijual di kantin sekolah. Cukup menarik untuk mengamati mereka, dikarenakan banyak hal. Mulai dari tempat berpapasan yang berdekatan dengan sekolah, intensitas bertemunya yang sering karena hampir setiap hari (sekolah) selama satu tahun, dan karena sama-sama anak sekolah.

Mulai sejak tahu setiap hari mereka lewat pada jam sekian, aku pun berupaya lewat di sana pada waktu yang sama. Berharap semoga bisa bertemu mereka. Pernah beberapa kali berkesempatan menegur si ibu. Senyumnya manis, natural dan kaca mata membuat beliau terlihat berwibawa. Sayang, ketiga anaknya sering berjalan dengan melihat ke bawah. Diam-diam mereka mulai menjadi bahan pikiran. Hmm. . . Apa benar sesuatu yang selalu mereka tenteng itu adalah makanan yang akan dijual? Jika iya, kira-kira jam berapa ya mereka bangun untuk membuatnya? Kira-kira apa ya yang mereka jual? Gimana pembagian tugasnya? Orang seperti apa ya mereka? Mulai muncul pertanyaan bertingkat.
Bagaimana tidak akan menjadi bahan pikiran? Jika dibandingkan dengan diri sendiri, jelas jauh perbedaannya. Aku yang masih belum bisa membantu ayah dan ibu mencari uang, sedangkan mereka sudah bisa. Wah, gagah sekali ! Akhirnya setelah dipikir-pikir jika mencari uang belum bisa, hal yang bisa dilakukan adalah menghemat uang jajan. Akhirnya, pada tahun yang sama aku buka tabungan di salah satu bank dekat sekolah. Tabungan pelajar, dengan setoran minimal Rp. 3000.

 

Sembilan Tahun yang Lalu

 

Jadi teringat salah satu karakteristik model yang efektif menurut Bandura, yakni perceived similarity. Persamaan yang  terlihat adalah bahwa kami anak sekolah dengan usia yang (mungkin) juga sama. Sekarang tersadar, ternyata mereka menjadi model bagiku.

Terima kasih untuk mereka 🙂 

smile

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s