Pengkritisi

Berada di lingkungan orang-orang yang kritis itu menyenangkan. Memacu kita untuk turut berpikir kritis. Namun berada di sekitar orang-orang yang terlalu kritis (atau kritis lebay) itu terkadang melelahkan. Lelah untuk mendengar sangahan demi sangahan. Lelah untuk merasakan semangat mereka yang semakin menyala-nyala untuk kritis (atau menjatuhkan?). Kadang aku bertanya, “Apa hal ini juga perlu dikritisi? Apa hal ini perlu dipertanyakan?”. Lalu aku jawab, “Ya jelaslah mereka akan bilang, perlu dikritisi dan dipertanyakan”. “Baiklah”. Ini yang melelahkan.

Kebanyakan yang dikritisi adalah kekurangan, keburukan seseorang, sekelompok orang, lembaga, sistem, hingga sebuah Negara. Bersuara jika subjek-subjek tersebut berbuat salah, jika ada kekurangannya. Tidak mau (atau tidak mampu) bersuara, untuk memberi pujian jika mereka di atas benar, enggan memberi semangat untuk perbaikan. Hingga terlihat sebuah kondisi dimana kita berbeda. Saat kita (aku, dia, dan si pengkritisi) adalah satu, namun lebih terlihat bahspiralwa kita bukanlah satu. Seakan-akan si pengkritisi adalah tetangga, bukan anggota dari keluarga rumah ini. Mungkin ia (pengkritisi) mengutarakan kekecewaannya, namun tidak adakah cara yang lebih baik dari hanya sekedar mengkritisi (saja)?

Memang tidak semua pengkritisi demikian. Masih ada intelek-intelek yang benar-benar intelek. Ia mengkritisi dengan semangat membangunnya, bukan semangat menghakimi, menjatuhkan dan memenangkan. Sebagaimana kalimat yang sering terdengar, “Jangan hanya jadi komentator”.

Kembali pada lelah yang terkadang dirasakan jika berada di lingkungan orang-orang sangat kritis. Terkadang aku bertanya, “Bagaimana dengan mereka”. “Apakah mereka juga demikian kritis terhadap diri sendiri?”. “Semoga demikian”.

“Orang yang tidak mampu menasihati dirinya sendiri, akan dinasihati oleh orang lain”. Semoga orang yang kritis mampu mengkritisi dirinya sendiri, sebelum orang lain yang melakukannya. Kalimat ini bukan hanya untuk orang yang sering mengkritisi, melainkan untuk semua orang. Semoga kita bisa menjadi orang yang kritis terhadap diri sendiri. Semoga kita bisa menjadi komentator bagi diri sendiri, sebelum orang lain yang melakukannya atau sebelum menjadi komentator untuk orang lain.

“Pergunakanlah metakognisi yang Tuhan anugrahkan”.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s