Fana-ti(ti)k

Ada masanya mengagumi, mengidolakan seseorang (atau sekelompok orang) hingga memujanya. Terkait dengan ilmu, biasanya secara tidak sadar terjadi pengelompokan pribadi-pribadi yang berilmu tersebut oleh orang yang mengamati, orang yang berdiskusi, ataupun masyarakat terhadapnya. Dimana keseluruhannya mengarah pada satu kata kerja, yakni menilai. Penilaian masing-masing orang tentu berbeda, sangat subjektif. Pengelompokan pribadi-pribadi berilmu tersebut yang beberapa kali terlihat adalah berdasarkan kuatnya pengaruh, kefasihannya bertutur kata, banyak orang yang mengenalnya, kualitas pembicaraannya, golongannya. Tentu banyak pengelompokan yang lain.

Terhadap hal ini rasanya wajar kita berhati-hati hingga tidak menjadi berlebihan, terlebih fanatik. Membenarkan apa saja yang ‘idola’ sampaikan dan kerjakan, menganggap yang tidak cocok dengan prinsip atau argumen ‘idola’ adalah salah. Boleh ini disebut fanatik?

Sejauh ini kata-kata fanatik seringkali hadir pada pembicaraan terkait sikap seseorang terhadap agama. Tidak salah, namun sebagian besar orang salah menempat dan memakaikan kata ini. Orang-orang yang kadang tegas, disiplin dalam beragama dikatakan fanatik, atau radikal. Melakukan atau berwajahkan hal yang tidak biasa dikatakan fanatik. Padahal ia hanya berkerudung di lingkungan yang tidak satu orang pun berkerudung. Padahal (berikut) menyelenggarakan baralek dengan pemisahan tempat (atau waktu) antara tamu laki-laki dan perempuan. Masih banyak padahal lainnya yang sebenarnya wajar, hanya saja terletak di lingkungan yang belum biasa (tahu). Kuranglah tepat rasanya. Memakai beberapa istilah untuk satu situasi yang nyatanya berbeda makna. Bahkan dalam satu agamapun ada mereka yang dicap fanatik terhadap aliran atau pemuka agama tertentu. Kembali lagi pengartian fanatik adalah membenarkan apa saja yang seseorang (atau sekelompok orang) lakukan atau kerjakan dan menganggap salah orang yang berbuat selain itu. Boleh jadi ini terjadi karena kurangnya ilmu orang yang dicap fanatik tadi. Kurangnya ilmu bukan berarti kurang banyak ilmu yang ia kumpulkan. Tapi kurang kritis dalam mengolah ilmu yang ia kumpulkan.

Bukan hanya terkait sikap terhadap agama, namun juga dalam akademik, politik, fanatik ini bisa muncul. Meskipun agama, politik, akademik dan urusan sehari-hari lainnya tidak dapat dikotak-kotakan sebagaimana sekarang. Sebab, semuanya saling berkaitan.

Fanatik, kritis? Jawaban saya tidak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s