Belajar dari Keluarga sebelum Berkeluarga

Ya! Akhirnya menemukan kalimat yang tepat. Semester lalu (semester 6), bertemu dengan mata ajar Psikologi Keluarga. Menariknya mata ajar ini karena bisa mendapat gambaran fase-fase dalam berkeluarga secara umum, dan yang paling paling, bisa menggunakannya sebagai cermin bagaimana keluarga yang sedang dimiliki sekarang.

Ada satu hal yang rasanya agak menggelitik, yakni pada bahasan keluarga bercerai. Perceraian orangtua juga berpengaruh pada keberhasilan pernikahan anak. Individu yang orangtuanya bercerai mendapat model perilaku yang kurang baik dan mungkin mereka juga tidak belajar tentang keterampilan dan sikap yang mendukung keberhasilan pernikahan mereka (DeGenova, 2008).

Barangkali di kehidupan sehari-hari, di lingkungan sekitar ada anak-anak yang tumbuh dalam keluarga bercerai. Sebagaimana keseimbangan, demikian juga anak-anak ini. Ada dari mereka yang berhasil daam berkeluarga dan ada juga yang tidak. Dan terkadang terlepas dari ia berasal dari keluarga yang bagaimana. “Belajar dari pengalaman”. Iya, ia guru yang mahal. Iya, ia pelajaran yang paling membekas. Kemudian terlihat, bagi siapa? Mahal dan membekas bagi siapa? Tentu bagi orang yang menganggapnya sebagai suatu hal yang berharga, tentu bagi seseorang yang mau belajar darinya. Saat melihat kakak dihukum ayah karena ketahuan berbohong, maka adik yang pintar tidak akan pernah melakukan hal yang sama. Itu juga belajar dari pengalaman, pengalaman orang lain. Tanpa harus merasakan dampaknya. Just watching!

Di satu sisi melihat seseorang dari keluarga bercerai yang juga bercerai. Di sisi lain melihat seseorang dari keluarga yang tidak bercerai, bercerai. Jadi apa bedanya? Sedikit kesal dengan kesimpulan beberapa orang, “Jangan menikah dengan orang yang orang tuanya bercerai, karena kemungkinan besar perceraian juga terjadi pada keluarganya”. Apa salah mereka? Bahkan jika pembahasan terlepas dari kata-kata cerai. “Jangan menikah dengan anak yang ayahnya sering KDRT, nanti dia juga akan melakukan hal yang sama”. Malang! Mendapat hukuman atas perbuatan orang lain.

Berawal dari hanya sekedar mengalami, kemudian menjadi sangat tertarik untuk mengamati. Ternyata memang ada perbedaan antara orang-orang yang berhasil terlepas dari kesimpulan-kesimpulan keliru yang tak sengaja terbentuk di atas. Hanya satu kata kerja, yakni memaafkan. Mereka mau menerima apa yang terjadi pada keluarganya, mampu memahami, dan jika itu sebuah kekeliruan, mereka mau untuk memaafkan.

Menerima, ini adalah langkah awal untuk terbukanya pintu memaafkan. Memang demikianlah keluarganya, dan memang demikian pulalah yang digariskan. Barangkali memang proses untuk bisa menerima ini sulit, jika kita berada pada keluarga yang bermasalah. Namun dengan menerima, benang yang kusut bisa perlahan diuntai kembali. Gudang yang sangat berantakan bisa dibersihkan, hingga bisa nyaman dipandang mata. Saat telah menerima, maka fokus akan beralih pada apa selanjutnya? Berbeda dengan yang tidak mau menerima, yang ada adalah rasa marah, marah, dendam dan yang senada. Bisa jadi, ini akan terbawa hingga ia sendiri berkeluarga kelak.

Memahami, di sini jelas terlihat proses belajarnya. Apa yang salah hingga demikian? Anak laki-laki yang melihat bagaimana ayah dan ibunya tidak pernah bisa akur jika sudah mengungkit masalah mertua, tidak akan melakukan kendali seperti apa yang selama ini ayah lakukan. Dari sana ia belajar apa yang sebaiknya tidak dilakukan. Sebagaimana Kahlil Gibran, “Aku belajar diam dari orang yang banyak bicara”. Anak perempuan yang tinggal dengan dikelilingi oleh kakek yang egois, ayah yang sangat santai, adik yang sering berbohong, saat ia sudah berada pada memahami, barangkali ia akan berpikir laki-laki yang baik itu seperti apa.

Anak yang melihat orang tuanya bersikap keliru tidak akan meniru itu. Ia tidak mendendam karenanya, dan mencoba mengerti apa yang melatarbelakangi sikap tersebut untuk kemudian bisa memaafkan. Namun ada beberapa orang yang teramati, meski sudah berhasil memaafkan, ia berada pada kesimpulan yang cukup memilukan. “Ia takut menikah, karena takut akan ada dia dia yang lain”.

Kembali lagi, semuanya proses. Proses belajar.

Vista_Home_Basic

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s