Akhirnya Terlaksana

Akhirnya terlaksana juga rencana yang sudah cukup lama tertahan. Berkunjung kembali ke sana, ke Masjid Babburahman di Luak Anyia. Tempat yang dulu, selama lebih kurang setahun rutin ku datangi tiap siang hingga sore hari. Mangaji. Sangat suka dengan kata itu, hingga hari ini dan semoga sampai kapanpun. Rutinitas yang rasanya dulu cukup melelahkan, namun menyenangkan. Pulang sekolah, makan siang, sekolah lagi (mangaji).

Ternyata memang sudah lama sekali tidak ke sini, canggung saat berada di luar pagar karena bisa dikatakan cukup banyak (atau hanya beberapa?) yang berubah. Tepat sekali saat jam istirahat. Pagar masjid tidak pernah ditutup, hingga anak-anak saat jam istirahat bisa main ke luar. Jajanan favorit pensi dan karupuak kuah. Rasanya dulu seperti itu. Sekarang, pagar masjid ditutup rapat. “masuknya lewat pagar yang satu lagi dek”, kata abang-abang yang jualan. “O iya, makasi da”. Ada satu lagi pagar kecil dekat bangunan MDA. Sangat berasa asingnya. Anak-anak terlihat fokus sekali lari-larian. Dan lagi yang lebih asing, ukuran badan mereka rata-rata hampir sama. Pada kecil-kecil. Dulu rasanya cukup bisa membedakan mana siswa kelas 1 dan kelas 4. Lah ini kok (badan) kelas 1 semua? Hahaha

Meja tempat Ante jual karupuak kuah sudah lenyap. Lonceng besi yang dulu digantung, masih tergantung bedanya yang sekarang warnanya lebih gelap. “Assalamu’alaykum”. “Wa’alaykumusalam”. Ruangan gurunya masih seperti dulu. Aku rindu sekali dengan kepala sekolah yang juga sekaligus ustadzah kelas 4. Perkenalan diri yang cukup panjang. Bisa dimengerti, sudah lama sekali aku lulus dari sini. Butuh banyak petunjuk untuk para guru bisa mengingat. Setelah lebih kurang dua belas menitan, barulah beliau-beliau ingat. Walau bukan tentang bagaimana aku di sini, ya, paling tidak beliau-beliau ingat siapa teman-teman seangkatanku, orang tua, dan tempat tinggal. Itu sudah cukup mengharukan.

Hanya 2 orang guru yang aku kenal. Ustadzah Ta, Ustadz Zul. Sudah banyak yang diganti. Buk Wil, ustadzah kelas 4 sekarang mengajar di SD. Sedikit sedih, padahal sangat rindu dan ingin meminta maaf karena beberapa tahun yang lalu aku ragu (dan akhirnya tidak jadi) untuk menegur beliau saat seangkot. Tidak banyak yang bisa kuperbincangkan, naskah yang tadi telah disusun mendadak buyar. Hanya saja aku tersadar bahwa waktu memang benar-benar berjalan, membuat kita, lingkungan berubah. Ustadz Zul yang dulu masih memiliki wajah paling bersinar (baca: muda) di antara guru-guru yang lain, sekarang tidak lagi demikian. Walau masih ada yang tidak berubah dari beliau, kopiah haji masih setia di tempatnya, mata yang masih bulat, intonasi yang tetap tegas dan senyum kecil beliau. Sementara Ustadzah Ta, lebih kurus dan gelap. Tapi masih tetap cool!

Walau hanya setahun bersekolah di sini, tapi rasanya ingatanku akan tempat ini tidak kalah banyak dibandingkan selama tiga tahun di SMP. Tempat ini sungguh memberi pelajaran tentang keberanian, keikhlasan, tekad, jujur, memaafkan, kebijaksanaan, pertemanan dan juga tempat bagiku menyaksikan, bahkan untuk pertama dan terakhir kalinya (setidaknya hingga hari ini) mengalami sendiri apa itu bullying.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s