Lima Pintu Surga

“Wahai saudara sebangsaku yang tertindas! Mari kita berangkat dan memasukinya!
Lima pintu surga itu, tak lain dan tak bukan adalah lima pilar yang harus dimiliki, dihayati dan diamalkan suatu bangsa agar surga ketentraman, kemakmuran, kesejahteraan, keamanan dan kemajuan bisa diraih dan dirasakan seluruh rakyat bangsa itu. Lima pilar itu yang pertama adalah persatuan hati. Badiuzzaman menjelaskan bahwa seluruh rakyat Turki Utsmani harus bersatu padu mempertahankan integritas bangsanya. Bersatu melawan musuh-musuh yang menginginkan kematiannya. Bersatu padu seumpama gerakan orang shalat dalam berjamaah yang rapi.
Pilar kedua adalah cinta bangsa. Semua pribadi yang ada dalam suatu bangsa harus memiliki cinta kepada bangsanya melebihi dirinya. Cinta bangsa berarti adalah juga mencintai saudaranya sebangsa. Cinta bangsa berarti juga menjauhi bermusuhmusuhan sesama anak bangsa.
Pilar ketiga adalah pendidikan. Hanya jika seluruh rakyat memperoleh pendidikan yang baik, dan menjadi manusia yang berkualitas, maka sebuah bangsa akan maju dan mencapai cita-cita kemakmurannya. Pendidikan yang dimaksud Said Nursi adalah pendidikan yang menyatukan pendidikan agama dan pendidikan ilmu modern yang bukan agama. Bukan pendidikan yang hanya mengedepankan ilmu modern dan meninggalkan agama seperti yang sedang dipraktikkan Turki Utsmani saat itu.
Pilar keempat adalah memaksimalkan daya upaya manusia. Itu berarti semua orang dihargai keahliannya sehingga memperoleh pekerjaan yang layak dengan gaji memadai. Dengan itu, maka semua rakyat akan menggunakan tenaga dan pikirannya secara positif. Dan kreatifitas akan terus terproduksi. Negarapun maju. Bangsa menjadi makmur. Pengangguran membuat tenaga rakyat terbuang sia-sia dan menjadikan pikiran mandek serta beku.
Pilar kelima adalah menghentikan pemborosan dan pemubadziran. Seluruh elemen bangsa, baik pemerintah maupun rakyat harus berdisiplin menghentikan pemborosan, hidup seadanya, tidak pamer materi dan berlebih-lebihan. Itu adalah salah satu penyakit para pejabat negara yang sangat akut saat itu. Penyakit itulah yang menjadi penyebab Turki Utsmani menanggung hutang yang tidak sedikit, sebab negara melakukan banyak pemborosan.”

Said Nursi memberi judul pidatonya itu Hürriyete Hitap, di sebuah gedung pertemuan di Istanbul.

[Habiburrahman El-Shirazy – Api Tauhid – Enam Belas, Lima Pintu Surga]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s