Ilmu, Amalkan :)

Jarang-jarang beliau menceritakan seseorang dengan antusias, apalagi seorang anak muda. Nama lengkapnya tidak diketahui, atau lebih tepatnya tidak dicari tahu. Biasanya orang-orang memanggil dengan inisial “I”. “Dia kerja di kadai depan. Tiap adzan, dia selalu menghentikan aktifitas dan berangkat ke Mesjid untuk shalat berjama’ah”, cerita beliau. Singkatnya beliau sempat bertanya ke dia, mungkin karena tertarik atau jarang-jarang ada. “Saketek nan dapek di awak nyo Buk. Sumbayang ko disuruah bajama’ah, talabiah awak laki-laki. Itu se nyo Buk”. “Hanya itu jawabannya. Alhamdulillah yo, lai takarajoan ilmu nan dapek dek inyo tu. Semoga istiqamah”. “Tu lai dak baa se dek bos I? Dek nampak dek Ibuk rami dak rami urang I langsuang baranti se kalau Adzan”. “Kalau dak suko bos wak awak pai sumbayang ko Buk, baa lai Buk, awak picayo dak di sinan rasaki wak tu do Buk”.

Penasaran, batua dak eh? Yang ma urang nyo tu? Akhirnya di hari yang sama, penasaran terjawab. Seorang laki-laki, berusia sekitar 26 sampai 28 tahun. Pembawaannya santai, sering pakai topi (gambar) yang identik dengan jazz. Kalau dilihat dari jauh mimiknya dingin, tapi kalau dari dekat ternyata sering tersenyum. Tiga minggu lebih (bolong-bolong sehari dua hari) mengamati, ternyata apa yang diceritakan beliau tidak kurang dan tidak lebih. Seramai-ramai pembeli, jika sudah adzan (maksimal selesai adzan) ya dia cabut ke Mesjid. Beberapa kali dia mengajak adik, sungguh dengan cara yang santai dan cool (menurut yang nulis). “Ma R (inisial lagi) Buk?”. “Di belakang. R, dicari Bang I ko a”. “R, pek lah”, sambil mengangkat kedua tangan sampai telinga lalu melipatnya di dada. “Santa Bang”. Dia berlalu, jalannya cepat. “Bang I ko sudah di ajaknyo urang, a nyo dulu-dulu se. Kancang-kancang se”, protes. “Nyo mantan pareman tu Un”.

So what? Dia secara tidak langsung mengingatkan kita (terkhusus yang nulis) untuk mengamalkan ilmu bagaimanapun secuil-cuilnya. Ingat kata seorang dosen Metakognisi, “Untuk apa ilmu kalau hanya akan menjadi tumpukan-tumpukan informasi saja? Praktekanlah!”. Dia juga mengajarkan bahwa cara menyampaikan dan mengajak orang pada kebaikan tidak harus dengan ceramah dan kritikan, hanya dengan caranya itu, bahkan orang yang malas bisa jadi bangun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s