Terganjal (yang) Mengganjal

Ada yang mengganjal. Bukan, bukan batu tapi sesuatu yang suulit dideskripsikan. Tidak karena terlalu abstrak, tidak juga karena keberadaanya diada-adakan. Hanya karena tidak terlalu mengerti entah apa dan bagaimananya sesuatu yang mengganjal itu. Andai bisa mendeskripsikan dengan baik, mungkin akan lebih bisa untuk dipahami.

3080043376_e05381db6dSaat berdiam, tersadar, seperti mendekati atau entah didekatkan dengan penyebab munculnya sesuatu yang mengganjal itu. Muncul sesuka hati dan menghilang, lalu muncul lagi. No problemo. Awalnya. Namun perlahan, munculah ganjalan itu. Sungguh tidak nyaman, apalagi terganjal di saat yang seharusnya kalau ibarat jalan, tidak ada hambatan. Menghindar? Sudah, dan sepertinya bukan pilihan yang tepat. Sebab semakin menghindar semakin (tidak) terhindar. Semakin menutup mata, semakin banyak hal yang masuk. Semakin tidak ingin tahu, malah semakin banyak hal yang diketahui. Perlahan, sesuatu yang ada di dalam diri bernasihat, “Sudahlah, minta dan serahkan pada-Nya, Sang Pemilik Hati”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s