Didiklah Ia Sebagai Seorang Laki-laki :)

“Pasnyo ketek-ketek ko lah kesempatan wak masuak. Kok lah gadangnyo banyak kecek wak, mambaliaknyo beko”.

“Dak paralu juara, asal nilai labiah dari KKM saketek, dak remedi”.

“Wak dak maso anak ko jadi iko iko do, dek inyo yang ka manjalani dak awak do”.

“Dek awak marasoan lo kan, pas awak sari masih mandapek pulang sakola main  ka tabek”.

———————————————————–

“Saat mereka kecilah kesempatan kita sebagai orang tua menanamkan nilai pada anak. Jika mereka sudah besar nanti kita cerewet, nanti dia melawan”.

“Tak perlu juara, asal nilainya sedikit lebih tinggi dari batas lulus, tidak remedi”.

Saya tidak memaksa anak untuk jadi ini itu, karena ia yang akan menjalani, bukan saya”.

“Karena saya juga merasakan. Waktu dulu saya masih bisa merasakan sehabis pulang sekolah main ke empang”.

Potongan-potongan kalimat di atas, di peroleh dari perbincangan dengan sesama penumpang travel. Seorang ayah kira-kira berusia awal 40-an. Perbincangan itu sangat berkesan (bagi saya). Entahlah, hanya merasa haru saat mendapati ada seorang ayah yang bersikap demikian pada anaknya, terlebih seorang anak bujang. Terlepas dari itu benar atau tidak, nanti lah itu. Jika semua orang tua (ibu juga) bersikap demikian pada anaknya, betapa harus bersyukurnya menjadi seorang anak. Betapa indahnya ‘fasilitas’ tempat bertumbuh. Betapa jeniusnya gaya didikan orang tua. Ia ada aturan, namun tidak mengekang. Arek-arek lungga.

Ayah dan Ibu seharusnya berkoordinasi dalam hal pendidikan anak (dalam hampir segala hal juga sih). Kecenderungan seorang ayah memang bersikap demikian pada anaknya, terlebih pada anak laki-laki. Barangkali karena lebih bisa memposisikan diri sebagai mereka. Namun, ada beberapa orang tua terkhusus Ibu yang saya dapati selama masa berseragam dulu yang selalu mengarahkan anak untuk berprestasi di ranah akademis yang barangkali ini juga terjadi di banyak tempat. Tidak masalah jika itu anak perempuan, karena pada beberapa penelitian menunjukan bahwa “minat” untuk berprestasi secara akademis itu memang “sesuai” dan tinggi pada anak perempuan. Anak laki-laki tugasnya berbeda. Ia dituntut untuk menjadi orang penting pada masa dewasanya nanti. (Bukan berarti perempuan tidak ya) Untuk bisa menjalankan peran dan tugasnya di masa itu, sedari kecil ia perlu dilatih. Ia akan berperan sebagai seorang suami dan ayah nantinya. Jadi, “harusnya mendidik anak laki-laki itu sebagai seorang laki-laki, suami, ayah, dll. Bukan berpretasi secara akademik”, demikian tegas Bu Elly Risman, seorang Psikolog. Karena menjadi seorang laki-laki itu berat, maka mulialah ia jika ia bisa memerankan perannya dengan benar, apalagi baik.

be-a-man

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s