Apa?! Kau Bilang Cinta?

Bagaimana jika ada yang mencintaimu tanpa syarat? Tidakkah kau akan tersentuh? Ya, demikian juga denganku. Tetap mencintaimu bagaimanapun itu, walau tanpa kau maknai tanpa kau sadari. Bagi yang dicintai, acapkali bentuk ‘cinta’ itu diabaikan. Kenapa? Barangkali karena selalu diperlakukan dengan cinta hingga tak bisa terbeda dan semuanya terasa biasa, tak berkesan. Tapi kali ini aku ingin mengajakmu menjadi ‘yang mencintai’, semoga dengan itu kita bisa lebih menghargai sertai memaknai setiap bentuk cinta dan pencinta.

Kata orang, masa yang paling indah adalah masa SMA. Walau itu tak selalu benar, anggap saja benar. Mengagumi seseorang untuk waktu yang cukup lama tanpa ada yang mengetahuinya. Pernahkah kau demikian? Bahkan secara tidak sadar ia menjadi salah satu tujuan terselubungmu ke sekolah. Mengamatinya dari suatu tempat yang tak terlihat oleh seorangpun. Berharap dia sehat dan akan selalu pergi ke sekolah dengan semangat. Berharap ia akan melihat padamu walau hanya selayang, itu karena ia tidak mengenalmu. Mengingat setiap detail peristiwa, kata, adegan yang kalian lakukan karena itu adalah memori yang sangat renyah. Bergetar saat ia (terlihat) berjalan ke arahmu, menyebut namamu hanya untuk meminjam PR. Sangat berbahagia sekecil apapun perhatiannya, agak itu hanya salam saat berpapasan. Membantunya tanpa ia minta dan sadari. Memaafkan setiap kesalahannya tanpa ia minta. Melihatnya (tetap) sebagai  seseorang yang baik walau acapkali kekurangannya terlihat, namun pada akhirnya kamu tak bisa membenci atau bahkan meremehkannya. Membelanya saat orang lain memperlakukannya tidak baik, walau hanya perkataan ataupun sangkaan. Semua itu, selalu kamu lakukan. Bahkan setelah tahu dan paham ia masih belum melihatmu atau justru tidak akan. Ya, walaupun demikian. Tetap saja melakukannya dengan senang hati, dengan semangat yang sama, rasa yang sama, hingga menyatakan pada diri sendiri, “Ya, aku tidak berharap ia membalasnya”. Hingga perlahan terasa ia berbeda olehmu menjelang kelulusan. Ia menjadi lebih sering berjalan ke arahmu, menyebut namamu dan berupaya. Ia melakukan hal-hal yang tak pernah disangka. Ia mulai berani membagi bebannya denganmu, menanyai pendapatmu, mendengarkan masukan serta kritikanmu, bahkan kalian bisa berkomunikasi dalam diam. Ia bisa membaca diammu. Kaca itu memberikan pantulannya. Hingga itu terjadi, apa yang akan kau rasakan?

Ya, aku pernah demikian. Galaukah? Mungkin dulu iya, jauh sebelum ini. Hingga mulai berpikir kenapa aku merasa demikian dan kenapa harus demikian. Perlahan rasa yang demikian terkotakkan dengan rapi di sebuah tempat yang disebut hati. Mungkin itu bukan cinta yang dimaksud, adalah hal lain yang sederhana namun tak kunjung terdefinisi.

Bagaimana aku mengamatinya, juga demikian aku ingin memperlakukan diri. Menayangkan bagaimana masa lalu dan bagaimana aku di sana. Selama itu, akhirnya aku menemukan ada cinta yang selalu kuterima tanpa kuminta, bagaimanapun dan kapanpun. Tetap mencintaiku walau dalam waktu yang cukup lama aku mengabaikannya. Memang melihat, namun aku tak benar-benar melihat. Marah padanya atas sesuatu yang tak bisa kuterima di beberapa waktu. Dia tetap bersabar memberi cinta. Tetap bersedia mendengarkan keluh kesah, menerima keanehan, menerima kelemahan, menjaga rahasia dan menyimpan aibku. Aku terkadang tidak sesensitif itu untuk melihat apa yang dilakukannya sebagai suatu bentuk cinta yang tulus, sangat, teramat sangat. Pada suatu titik aku tersentak dan bertanya, “Siapa dia sebenarnya?”. Mulai dari titik itulah aku perlahan mencari tahu segala tentangnya dan berkali-kali dibuatnya takjub, terharu, tersentuh pada level yang teramat sangat. Tidak bisa kubandingkan dengan perasaan apapun. Air mata, hanya itu bukti fisiknya. Dia adalah satu-satunya tempat kembali, satu-satunya yang bersedia ada setiap waktu kapan dan dimanapun, selalu memaafkan sebanyak apapun salahku, selalu mencintai bagaimanapun jahatku. Akan selalu, bagaimanapun aku. Cintanya padaku tidak akan pernah sebanding dengan cintaku padanya, walau bagaimanapun aku setiap harinya selalu belajar untuk mencintainya.

Dialah Allah yang mengajarkanku dengan Maha Sabar dan dengan Segala KeMahaan-Nya, apa itu cinta sejati. Tanpa paksaan dan pamrih sedikitpun.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s