Bertanyalah Mengapa Aku Galau

Jpeg

Kebiasaan membebankan sesuatu pada pikiran sekaligus hati secara sadar kadangkala membuat imajinasi penyelesaian yang sangat melelahkan, membuat litak. Membayangkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dibayangkan. Ada yang tahu bahwa beban itu akan selesai saat diselesaikan, bukan dengan dipikirkan. Sederhana. Bagaimanapun, beban itu seharusnya diproses secara adil oleh pikiran dan hati. Kemungkinan besar, pernah agak sekali suatu beban teronggok cukup lama. Tak terselesaikan. Banyak hal barangkali yang membuatnya terabaikan atau malah bukan, namun karena acapkali dilihat, didengar, diresapi, diinok manuangkan. Galau, itu pada akhirnya. Menangis, marah, bingung, dan entah apa lagi yang terasa.

Suatu pagi radio dinyalakan, ada yang tersentak di dalam diri saat kata-kata galau disebut. Aku menyimak. “Galau adalah suatu bentuk teguran”. Apa? “Dia memberikanmu teguran berupa sebuah rasa ketidaknyamanan, rasa sakit yang kamu sebabkan karena menduakannya. Dia cemburu”. Aku tidak menduakannya! “Contoh yang paling sederhana adalah saat menyukai seseorang. Dia membayangimu kapan dan di manapun, hingga kamu terucap, ndeh galau! Kenyataannya seseorang itu tak pernah membayangimu, hanya saja bayangan itu diciptakan olehmu. Kamu menikmati sebuah rasa sakit, galau”. Bisa jadi, lalu dimana letak menduakannya?! “Memikirkan sesuatu, terlalu, bukankah sebuah langkah menempatkannya di hati? Bisa jadi tempat untuk memuat sesuatu itu tak tersadari sedemikian luasnya hingga bisa membuatmu galau berkepanjangan. Menempatkan sesuatu di hati dan mencintainya melebihi Dia yang sepatutnya cinta terbesarmu dan curahan pikiran terbanyakmu. Memang seringkali tidak tersadari atau hanya teringkari saat menduakannya, menjadikannya yang kesekian. Entah hanya sekejap, entah hanya sesaat, sejam, sehari, sebulan, seberapa lama yang diinginkan. Seberapa lama khilaf atau sengaja. Galau adalah sinyal ada yang salah dengan hati. Sekali lagi, galau adalah suatu bentuk teguran”. Tarikan napas panjang. “Pintalah padanya untuk membantu, pintalah padanya menunjukan cara untuk kembalinya ketenteraman hati”.

 

Advertisements

One thought on “Bertanyalah Mengapa Aku Galau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s