Dinding: Mulailah Dari Bagian Terdalam, Hatimu

Hari ini pulang pagi lagi. Entah dari mana. Wajahnya terlihat letih saat membuka pintu kamar. “Aku butuh tidur”, demikian terjemahan kondisi matanya. Entah apa lagi yang dilakukannya saat di luar. Semalaman melototi layar komputer ataukah nongkrong sambil merokok semalaman suntuk dengan mereka yang dikatakannya teman-teman? Entahlah. Perkara itu di rumah ini, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Sebagaimana biasa, saat ini dia duduk di hadapanku. Salah satu ritualnya setelah pulang pagi dan sebelum merebahkan diri. Membelakangiku dan menghadap cermin. Memandangi pantulan bayang sesosok anak manusia yang semakin hari semakin bertambah usia, sejalan dengan berkurangnya. “Apa yang harus kulakukan?”. Keluar satu kalimat dari mulutnya yang menyemburkan semerbak aroma rokok. Kalimat yang sebenarnya terlalu sering diucapkannya dengan harapan mendapat jawaban, bahkan jika tidak sebuah jawaban, cukuplah hanya dengan sebuah tanggapan. Namun sesosok yang di cermin juga tidak bisa memberikan tanggapan. Sedih, sangat terasa. Kelam.

Menjalani hari-hari yang cukup sulit. Lemah, di balik ke mada annya, ia adalah seorang lemah. Di dekatku, acapkali ia merenung, menangis, ingin bercerita namun tak bisa kutemani. Aku memang tidak mengenalnya sejauh itu untuk bisa menilai kehidupannya, menilai isi hatinya. Dia yang ku ketahui hanyalah dia sebatas ruangan kecil ini. Ruangan kecil ini, adalah satu-satunya tempat untuknya menjadi diri sendiri. Melepas semua rasa, ekpresi, emosi yang ia pendam saat keluar dari pintu kamar ini. Setiap dia menangis, bertanya, merenung, ingin sekali rasanya aku memeluk. Di mataku, itu yang dibutuhkan seorang dia dalam keadaan yang demikian rapuh. Di luar ruangan ini, ia hanya berusaha menutupi serapat-rapatnya kelemahan dan kesedihan itu. Terlihat sangat sulit ditebak. Demikian ringkasan pengamatanku terhadapnya. Bukan tak ada yang ingin memeluknya, bukan tak ada yang ingin menanggapi setiap pertanyaannya. Hanya saja ia terlalu malu, terlalu takut untuk mendengar tanggapan orang-yang mungkin sama sekali tidak seperti yang ia sangka.

Dirinya tahu bahwa, pertanyaan yang selama ini ia pertanyakan tidak akan pernah terjawab jika ia tidak membuka mata dan diri terhadap selain dirinya. Hanya saja dirinya yanglain mengaburkan jawaban itu. Baiklah, aku bisa mengakui bahwa apa yang terjadi padanya di masa lampau adalah sesuatu yang pahit. Tentunya berdampak pada dirinya. Kepedihan, kebencian, balas dendam, kesendirian, dan segala hal yang berbau kelam itu, sedari dulu membayanginya. Selalu dipikirkan, dibayangkan. Bertahun-tahun hingga hari ini, pemikiran berbau kelam itu telah membuatnya menjadi seorang manusia yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Apa yang didapatnya selama perubahan itu? Juga kekelaman. Pada akhirnya, dengan terus menyendiri di kekelaman, ia juga semakin terlihat kelam. Sampai kapan ia akan lari dari menghadapi, dari mendudukan dan menyelesaikan? Sampai kapan ia akan terus menidurkan diri saat telah terlalu lelah tidak mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya?

P_20150402_200918

“Apa yang harus ku lakukan?”, ia kembali bertanya. “Telah sejauh ini, telah selama ini. Apakah masih ada yang bisa ku lakukan untuk memperbaikinya?, matanya berkaca. “Tidak peduli siapa kamu tadi, kemarin, sekarang ataupun esok, jika bersalah segeralah meminta maaf”. “Masihkah bisa aku dimaafkan?”. “Masih, tentu saja jika kamu benar-benar menyesal dan ingin memperbaiki. Entah itu kesalahanmu yang lalu ataupun yang akan datang. Bahkan, jika dalam sehari kamu mengulangi kesalahan yang sama tujuh puluh kali diiringi dengan meminta maaf pula tujuh puluh kali, akan selalu ada yang bersedia memaafkan walaupun kesalahan yang sama kamu ulangi lagi dan meminta maaf lagi. Akan selalu ada yang memaafkanmu hingga kamu sendiri yang bosan untuk meminta maaf”. Dia merenung. Pikirkan lagi dirimu, coba lihat masa lalu dan masa depan dengan sudut pandang berbeda. Selama ini di mana dan kapanpun kamu, selalu ada Sang Maha Pemaaf menemani. Kamu tak pernah sendiri, jika terpikir”. “Benarkah itu?”. “Apa gunanya aku berbohong padamu? Aku bukan siapa-siapa, aku bukan teman ataupun lawanmu. Aku hanyalah pelengkap sisi ruang kecilmu, aku adalah dinding kamarmu”. Mulailah dari bagian terdalam, hatimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s