Akan Hilang Saat Ditelan

Melihat orang makan kadang menggiurkan, terlebih saat litak ataupun persediaan kertas bergambar menipis. Ada banyak, mulai dari program kuliner di televisi yang nyaris setiap hari ada atau kalau bukan di televisi, bagi yang suka drama (korea) juga ada drama Lets Eat (1 dan 2), jajanan pinggir jalan yang aromanya sengaja dikipas-kipas. Tersesat ke pasar juga tak kalah seru aromanya. Kalau tersesatnya ke pasar Atas akan ada aroma sate, pizza, ayam goreng (K*C), lauk-lauk rumah makan Simpan* R*ya dan Selama*, es tebak, kacang rebus, paragede. Tersesat ke bawah sedikit lagi aroma nasi kapau, lontong pical, dan cindua lumayan bikin menetes bagi yang litak. Lebih ke bawah lagi? Katupek kapau, bubua putiah, nasi soto, aia tawa, kue mangkuak, martabak manis. Cobalah tersesat yang demikian sekali-sekali, agar kenyang dengan aroma sepanjang jalan terlebih di hari pakan. Salero se sadonyo.

Terkait makan, fitrah manusia untuk menyukai yang enak dan lezat. Salero condong ka nan lamak. Namun jika diperhatikan, ada yang bisa menghabiskan Rp. 200.000 untuk makan sehari dimana bagi yang lain uang segitu baru bisa ia hasilkan dalam 4 hari. Ada yang bisa menghabiskan Rp. 1000.000 hanya untuk makan sehari dimana bagi yang lain nilai segitu bisa untuk makan sebulan. Makan jugalah namanya jika yang satu menyuapkan nasi putih berlauk telur dadar dengan kuah gulai ke mulutnya dan yang satu lagi menyuapkan pizza dengan saus sambalnya. Minum jugalah namanya jika yang satu menyeruput seduhan kopi hitam panggang di rumah dan yang satu lagi menyeruput americano di cafe. Makan jugalah namanya jika ada sekelompok anak sekolah makan pizza sambil bergurau dan bergaya. Di waktu yang bersamaan, makan jugalah namanya saat seorang bapak duduk menyudut di depan sudut toko menyuap dengan kusyuk nasi putih berlauk telur bulat lado merah, samba sebeng-sebeng (kuah cancang, kerupuk ubi lado merah, sayur sawi) dan air mineral yang dibungkus plastik bening.

Jadi makan jugalah namanya apapun yang disuapkan ke mulut dan minum jugalah namanya apa yang diseruput. Entah itu harganya murah, sadang elok ataupun mahal. Entah itu banyak, sedikit ataupun sadang elok. Entah itu di rumah, pinggir jalan, cafe, rumah makan, restoran, kedai, atau dimanapun. Entah itu makanan sehat, panas, dingin, bergizi, halal, haram, baik, enak ataupun tidak. Entah itu dimasukan ke mulut saat kita sangat lapar, lapar, agak lapar, tidak lapar ataupun kenyang. Entah itu dibeli, diberi, ataupun dicuri. Bisa dipilih dan terserah pada yang akan menyuap menyeruput.

Semua itu, yang masuk ke mulut kita itu bukankah akan hilang rasanya yang lezat ataupun kurang itu saat telah ditelan? Semua yang masuk dan tertelan itu pada akhirnya ada yang menjadi daging, tenaga dan ada juga yang akan keluar berwujud kotoran? Lalu bagi yang merasa ia hanya bisa memakan dan meminum hal-hal yang sederhana untuk apa engkau bersedih jika lapar dan dahaga masih bisa teratasi? Sementara ada di luaran sana yang hanya masih boleh bermimpi untuk bisa makan sekali sehari. Hanya saja barangkali ada satu bumbu yang lupa engkau campurkan agar makanan dan minuman sederhana katanya tadi bisa menjadi hidangan yang lezat, yang banyak, mewah tak kan kalah dibanding hidangan kelas berapapun. Syukur, bukankah itu? Lalu bagi yang merasa ia hanya bisa atau terbiasa memakan dan meminum hal-hal yang berkelas dan lebih mahal dibanding yang lain, untuk apa engkau merasa sombong dan membiasakannya? Bukankah itu semua akan hilang kenikmatannya saat telah tertelan dan akan menjadi kotoran juga? Tidak berlebihankah jika harga sekali engkau makan bagi orang lain boleh jadi setara harga 2, 3, 4 atau 5 kali makannya? Mungkin tidak ada yang kurang dengan kenikmatan hidanganmu dan tak ada yang salah dengan itu. Namun tetap, sederhanakanlah. Jika ia berteriak-teriak minta dibelanjakan, tidakkah engkau akan berbahagia saat bisa makan dan memberi makan orang yang butuh makan? Tidakkah engkau akan merasa haru saat bisa menyisihkan yang berteriak itu untuk orang yang membutuhkan? Sederhanakanlah.

Bagi engkau yang membaca, ingatkan aku hal ini jika nanti aku lupa dan khilaf.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s