Gelap Itu Dingin, Cahaya itu Hangat

Teruntuk kawanku,

Hangatnya sapuan cahaya akan terasa sangat nikmat bagai anugerah terbesar jika sebelumnya berada dalam dinginnya kegelapan. Berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun sebelumnya menjadikanku terbiasa dan membiasakannya. Tidak tepat jika dikatakan ‘akhirnya terbiasa dan nyaman’, karena itu semestinya bukan sebuah tempat untuk ditinggali lama-lama oleh manusia manapun. Kepala yang selalu bertanya mempertanyakan dan hati yang selalu ingkar mengingkari. Kebebasan dan pemakluman logika atas kebejatan mengibaratkanku seperti pengelana tanpa tujuan dan bekal. Bisa jadi tersesat dan aku tak tahu tersesat itu yang bagaimana, boleh jadi aku menuju suatu tempat dan aku juga tak tahu bagaimana yang dikatakan menuju suatu tempat. Di tengah kehidupan yang teratur sekaligus berantakan ini, aku hidup di duniaku serta dengan caraku sendiri. Untuk waktu yang lama jika ukurannya adalah pemborosan usia, penemuan tujuan hidup, meringkuk dalam gelap, buta hati, hidup dengan benar dan ketenangan hati. Bolehlah aku dikatakan sakit karena berusaha sembuh dengan memakan obat yang kuresepi sendiri dan aku tidak pernah sekali alahpun jua mengerti ini fungsinya apa, itu apa, apalagi dunia farmasi. Ya, aku keracunan untuk waktu yang lama, namun otakku mengartikan itu sebagai proses kesembuhan. Menyadarkan diri akan kesalahan dan kebodohan memang sulit saat diri itu sendiri terkungkung kebodohan dan berkeras hati dengan kebodohan itu. Aku butuh sesuatu untuk menyadarkan. Jikalau itu berwujud manusia, mungkin aku butuh seseorang yang bisa dan berani menamparku berkali-kali. Jikalau itu kejadian, mungkin aku butuh suatu kejadian yang menyebabkanku sekarat. Jikalau itu diriku sendiri, aku butuh aku yang bisa merunutkan apa-apa yang terjadi dan mencoba memahami lagi maksudnya tentu dengan cara dan sudut pandang yang berbeda.

Di skak mat oleh seseorang dengan versi yang lebih matang, barangkali itu salah satu sabab aku merasa bahwa obat itu bisa kutemukan. Dipertemukan dengan orang yang bisa lepas mangatai-ngatai, tidak terlalu berhati-hati akan respon yang aku berikan itu adalah salah satu anugerah besar lainnya. Aku tahu bagaimanapun dia terhadapku itu adalah wujud peduli dan sayangnya, itu sungguh terasa tulus. Aku juga dipertemukan dengan orang-orang yang membantuku mempercayai bahwa pada awalnya setiap manusia itu adalah baik dan suci. Hanya caranya berjalan dari awal menuju akhir itulah yang membuatnya terbeda menjadi beruntung dan merugi. Orang-orang itu bukanlah orang-orang dengan jabatan wah hingga, bukan orang-orang yang harusnya aku dengarkan, bukan. Mereka orang-orang biasa, seperti teman SMP, SMA, urang lapau, sopir angkot, dan guru-guru saat beliau menyampaikan materi di kelas. Sentakan penyadar itu kutemukan dengan perantara beliau-beliau itu.

Jikalau kebodohanku itu diibaratkan noda lantai kamar mandi, seberapa lama noda itu menghilang akan dipengaruhi oleh dengan apa aku membersihkan, seberapa sering membersihkan, seberapa tebal nodanya dan cara aku membesihkannya. Memang butuh waktu, namun dalam proses itu sungguh banyak nikmat-nikmat tak terhingga lainnya perlahan aku sadari dan kebahagiaan itu sungguh berbeda rasanya dengan lulus sekolah, ditawari kerja, sukamu tak bertepuk sebelah tangan, menemukan uang seratus ribu di lipatan-lipatan bajumu, dihadiahi buku atau pakaian baru, sangat tidak sebanding. Dan setiap manusia mempunyai sabab noda yang berbeda-beda. Berbeda-beda juga tebalnya. Dan bersihnya noda itu juga akan berbeda-beda prosesnya, bersabab yang tadi; dengan apa membersihkan, seberapa sering membersihkan dan bagaimana cara membersihkannya. Boleh jadi waktu yang aku butuhkan agar noda itu hilang, dengan yang kamu atau dia butuhkan berbeda. Bisa aku yang lebih lama, bisa juga kamu. Kita hanya perlu berusaha, bersabar dan berdoa, selalu. Manusia yang baik bukanlah ia yang tidak pernah berbuat salah. Tapi manusia yang baik adalah ia yang bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat setelah ia berbuat salah.

Jpeg

Tidak ada jaminan bagiku untuk tidak tersesat lagi, untuk tidak sakit lagi, untuk tidak noda itu menebal lagi. Tidak ada jaminan. Untuk itulah, selalu berusaha, bersabar dan berdoa untuk tidak kembali ke sana lagi. Untuk tidak merasakan dinginnya gelap lagi, hampanya berkelana tanpa arah lagi, bodoh dan membodohkan diri sendiri lagi. Jikalau selama proses ini aku terlihat berubah olehmu entah itu secara fisik ataupun nonfisik, dan kamu memandangku sebagai seseorang yang baik, seseorang yang berilmu, ketahuilah itu tidak benar. Semoga sangkaanmu terhadapku dapat menjadi doa bagiku. Karena siapa serta bagaimananya aku hanya aku yang tahu dan Sang Penciptaku lah yang Maha Mengetahuinya. Aku bisa tersesat lagi, dan terarah lagi. Aku bisa kembali bodoh dan sadar lagi. Aku bisa bolak dan balik lagi. Akan demikian hingga aku sampai pada akhirnya. Hanya saja yang berbeda dari sesat dan bodoh sebelumnya adalah aku tahu harus berkelana dan pulang ke mana. Aku tahu harus mencintai dan mencintai siapa. Ya, mengetahui itu juga adalah anugerah terbesar. Untuk itulah kiranya, Yang Maha Mengetahui itu menuntun untuk selalu berdoa, “Tunjukilah kami jalan yang lurus (QS:1:6)” di setiap rakaat di setiap shalat di setiap harinya. Ia tahu, manusia itu tempatnya khilaf. Dan benarlah jika ada yang berkata bahwa cahaya itu adalah anugerah terbesar seorang manusia.

Dengan cinta, kawanmu

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s