Hatimu Tangguh Dengan Alasan Terkuat

Jikalau tersenyum padamu dengan maksud menyapa, tentu akan berbeda dengan senyumku yang bermaksud menarik perhatianmu. Surat yang kutulis dengan tujuan agar kamu terus mengingatku, tentu akan berbeda dengan suratku yang bertujuan menyampaikan yang tak tersampaikan saat berhadapan denganmu. Caramu memandangnya dengan niat mengenal tentu akan berbeda dengan pandanganmu dengan niat mengintai kelemahannya. Langkahmu berjalan menuju sesuatu tentu akan berbeda dengan langkahmu berjalan tanpa suatu tujuan. Alasan kehadiranmu di kelas karena ingin belajar tentu akan berbeda nilai dengan menghabiskan waktu sebagai alasannya. Perbuatan yang sama akan berbeda nilai dengan berbedanya alasan. Entah itu disebut niat, tujuan ataupun maksud. Tidak pada semua perbedaan alasan atas tingkah itu kadang tersadari. Ada keraguan, ketidakyakinan, ketidakpastian mengapa aku melakukan ini, itu, dan mengapa aku begini, begitu. Namun hebatnya, bahkan dalam ketidakpastian sekalipun kaki terlihat tetap melangkah dengan pasti. Jikalau nanti kaki mulai terasa enggan, akan dicari dan dimunculkan lagi ketidakpastian lainnya. Kepastian sementara, pengobat keraguanmu.

Adalah biasa menurutku, jika niat akan sesuatu berubah-ubah. Biasa. Hanya saja tidak baik jika memaklumi kebiasaan, yang kita tahu tidak tepat atau belum benar. Masih ada ruang terisi oleh keraguan. Mungkin perbedaan nilai pada suatu yang sama tidaklah begitu terlihat, tidak begitu terasa. Akan ada suatu masa (InsyaAllah) hingga kita menyadari kenapa seringkali keraguan, kadang goyah muncul di tengah perjalanan. Kenapa? Walaupun sadar dan tahu yang dilakukan itu benar. Kenapa? Kenapa? Bibir bisa saja memperbaharui alasan dengan sigap tanpa meresapi, karena memang tugasnya itu. Ia bisa saja dengan sigap mengucap pembenaran yang belum kita benarkan. Karena hanya itulah tugasnya. Keraguan, meresapi, meyakini, membenarkan, itu adalah tugasnya hati. Jadi, yang tahu kemantapan langkah, keraguan, mengapa begini dan begitunya adalah hati yang tersuruk jauh itu.

Berjalan dengan keraguan itu menyebalkan. Jika diibaratkan skripsi, akan acapkali merevisi bagian latar belakang. Itu skripsi yang hanya sepersekian menyita waktu, hanya sepersekian pengaruhnya pada hidup, hanya sepersekian pertanggungjawabannya. Jika yang hanya sepersekian saja revisinya bisa amat sering, bagaimana dengan sesuatu yang lebih besar dari itu? Mengapa aku di sini? Mengapa aku belajar? Mengapa aku menangis? Mengapa aku kecewa? Mengapa aku menyukai? Berbeda jawabnya, berbeda pula kuatnya.

Sudah benar atau belum, telah menemukan atau belum, hanya hati yang tahu dan dibantu logika. Orang lain hanya melihat yang tampak, sementara niat itu suatu yang tak tampak. Boleh jadi aku terlihat baik, sementara hatiku meronta-rontakan kemunafikan. Boleh jadi kamu terlihat tak baik, sementara hatimu tangguh sebab telah menemukan alasan terkuat dalam berbuat.

Hati yang berniat mungkin sering tak terkendali. Sebentar-sebentar ia berubah haluan, sekejap-sekejap ia berubah maksud. Adalah tugas kita juga meluruskannya. Bagaimana? Menanyai hati, karena hati tidak akan pernah berkhianat jika kamu mengenalnya. Bagaimana? Mengenal hati sekaligus mengenal Pencipta dan Pemilik hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s