Terima Kasih

Kenapa lebih memilih pergi dan datang lebih awal? Karena masih bisa bersentuhan dengan udara yang benar-benar sejuk berembun, bisa duduk leluasa di angkot, lebih santai tidak tergesa-gesa khawatir tiba di sekolah terlambat, bisa awal sampai di kelas hingga bisa melihat satu persatu teman yang datang. Bagaimana wajah mereka pagi ini, ceria, sedih, suntuk, semangat atau bagaimana? Hanya ingin melihat. Daaaan agar bisa melihat kamu, si pemalu berkaca mata.

Beberapa hari yang lalu pertama kali kita berpapasan dan aku penasaran. Telah empat hari berselang dan setiap harinya berpapasan. Aku suka polanya. Kamu tahu? Bahkan agar selaras dengan polanya, aku memperlambat dan mengecilkan langkah. Tentu ada yang berbeda dengan langkah-langkahku yang lalu. Penasaran, harap dan senang. Itu saja. Kadang juga kecewa karena mendapati realita tak sesuai harap. Ah, rasa ingin tahu ini kadang-kadang juga keterlaluan. Kamu siapa? Sekolah dimana? Tinggal dimana hingga bisa berpapasan dekat sekolahku? Apa yang kamu bawa? Kamu berjalan dengan siapa saja (ini)?

Kamu si pemalu berkaca mata, berjalan beriring berempat. Ada ibu, kamu, dan dua adikmu. Setidaknya demikian menurutku. Kalian hampir setiap berpapasan membawa sesuatu yang dibungkus kresek, terkadang juga kain. Adakalanya membawa satu, kadang dua. Ingin sekali rasanya menyapa, aku hanya takut gagal. Hahaha. Kalian acapkali menghindari tatapanku. Tatapan itu bukan tatapan mengintai, kamu tahu? Tatapan itu hanya tatapan kala aku kecil mengumpulkan keberanian menyapa. Syukurlah keberanian itu bertambah setiap paginya. Dan akhirnya aku bisa menyapa beliau. Wajahnya yang terlihat dingin berbeban jika diam, sungguh manis dan hangat saat tersenyum. Aku ketagihan melihatnya. Dari cara berpakaiannya, aku menduga beliau jugalah seorang guru. Guru apa? Dimana? Sedangkan kalian (kamu dan dua adikmu)? Entahlah, kalian hanya pemalu. Walau dari jauh telah melihat, saat akan berpapasan kalian mengalihkan pandangan. Itu lucu. Hanya kadang kamu melihat lebih lama dari mereka. Mungkin seumuran.

Setahun di kelas lima ini sungguh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Hanya dengan berpapasan dan bisa mengamati orang baru ini, ada perubahan di hariku. Kamu tidak tahu itu. Rasa penasaranku terjawab, aku puas dengan itu. Wajah kalian tersimpan di memori. Hanya, aku merasa mengenal walaupun tak pernah benar-benar mengenal. Kalian menghilang setelah membiarkanku mencari jawab rasa ingin tahuku. Bagi aku kecil, pertemuan dan perpisahan seperti itu agak menyedihkan namun meninggalkan rindu.

Apalagi yang kalian tinggalkan untukku selain rindu dan jawaban rasa penasaran itu? Kalian meninggalkanku sebuah pelajaran. Kamu tahu? Tahun itu aku membuka tabungan di bank dekat sekolah, tabungan pelajar. Sedikit banyaknya itu karena kalian. Bawaan yang kalian tenteng itu menurutku adalah sesuatu untuk diletakan di kantin sekolahmu. Kamu dan dua adikmu membuatku malu. Anak sekecil itu yang (mungkin) seusiaku ini, membantu orang tuanya sebelum berangkat sekolah yang mungkin dengan mengantongi sesuatu dalam tentengan itu, memasak mungkin, itu hanya imajiku. Kalian bangun lebih pagi dari anak-anak yang lain, itu yang mungkin lebih pasti. Jikalau sudah demikian, kemungkinan besar juga kalian lebih berhemat dalam jajan bukan? Aku malu. Makanya untuk mengurangi rasa malu itu, aku menabung. Ya setidaknya itu. “Terima kasih”. Itu yang ingin kusampaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s