Bacakak

Dulu kami sangat sering bertengkar. Bukannya sekarang tidak. Hanya sering tidak atau pertengkaran dalam bentuk yang beda. “Irak Iran”, atau “Guguk meong”, gaek (kakek) sering berkomentar demikian. Waktu itu, kesal sekali rasanya dengan komentar yang seakan menyepelekan.. It’s a big deal for me. Ya, walaupun ujung-ujungnya lebih sering mengalah atau dipaksa mengalah. Okay, itu ujian khusus anak sulung.

But what?

Jika diingat dari aku yang sekarang, semua pertengkaran itu lucu, sweet, cute, memorable. Ada satu pertengkaran yang sangat berkesan, waktu itu aku masih kelas 4 SD dan Rehan kelas 2 SD. Loveable in the sametime hateable. Seperti pemanasan, pertengkaran pun demikian. Dan saat mulai panas…

“Halah anok lah a. Alah salah banyak kecek lo”.

“Indak urang. Awak yang anok”.

“Malawan wak?”.

“Iyo tu baa? Dak takuik ge han jo un do”.

“Caliak lah a, bantuak gau lai”.

“Agau iyo lo tu nyo”.

“Bacakak jo kalian dari tadi lai, dak juo salasai. Manga tu lai?”.

“Ko bu, si Rehan ko diambiak-ambiak nyo se barang ca”.

“Halah, urang minjam nyo eh”.

“Ado gau ngecek?”.

“Lai, agau nan pakak”.

“Ha, alah tu mah a. A tu barangnyo?”.

“Rol ca dek ibu. Patah lo dek nyo”.

“Halah, rol nyo”.

“Rol nyo pulo. Tau mah pi minjam lo. Sok. Ndeh alah, raso ka digarumeh”.

“Eh, kalian bacakak di lua ko dak malu? Awak kalau barunsanak ko bacakak dak ado urang (lain) nan ka malarai do. Galak urang nan lainyo. Salasaian di dalam nak”. [Kalau kita yang bersaudara bertengkar, tidak ada orang lain yang akan melerai. Yang ada, mereka tertawa].

Seingatku kalimat ibu saat itu terdengar sangat berat tapi bisa ku pahami, meresap. Ya, dibuatnya berpikir waktu itu. Dan yang penting, aku punya penggaris baru. 😀

Sekarang kalimat ibu itu senyap-senyap terdengar. Dan dibuatnya berpikir lagi untuk dipakaikan pada situasi kondisi sekarang. Melihat keluarga yang anggotanya bertengkar lalu mengumbar sana sini. It hurts. Mendengar seseorang mengunjing seseorang yang ia sebut teman pada orang lain. Like a knife. Menyaksikan anggota sebuah organisasi mengumbar konflik internalnya ke luar. Ndeh. Menyaksikan kita yang sekarang seperti ini. Padiah. I can’t control. Ingin memeluk tapi tak bisa dan kamu pun tak mau. You know, it cut me like a knife.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s