Kau Tampan dengan Demikian

Pagi ini (25082016) anginnya berhembus cukup kencang hingga menimbulkan suara yang agak menakutkan, dan cukup sering. Jikalau dia berubah wujud menjadi sesuatu yang bisa kulihat, entahlah seperti apa wujudnya. Menakutkankah? Lucukah? Tampan? Cantik? Entahlah ya. Yang pasti aku hanya merasa takut kala dia seakan mengamuk dan meninggalkan jejak pada padi-padi yang sekarang tampak miring. Aku tahu angin tak bermaksud jahat, setiap gerak dan keberadaannya adalah dalam rangka kepatuhan pada Penciptanya. Iya aku tahu, dia (sangat teramat) jauh lebih taat.

Menyoal wujud atau katakanlah rupa, beberapa waktu lalu aku kembali tersadar akan sesuatu tentangnya. Kembali tersadar maksudku adalah ya telah berkali-kali aku sadar dan paham tentangnya namun juga berkali-kali hal itu terlupakan atau hanya kadang tak kuacuhkan, terkesampingkan.

Sekali waktu aku bertemu dengan seorang pemuda seusiaku. Aku lupa namanya, entah Wahyu, Bayu, ya semacam itulah. Itu beberapa tahun yang lalu. Mengapa dia? Karena dia seorang pemuda yang istimewa. Entahlah, setidaknya menurutku. Dia tinggal berdua dengan adik perempuannya yang kala itu masih bersekolah di MTSN. Orang tuanya telah lama meninggal. Dia (Wahyu/Bayu/yang semacam itu) cukup tampan bahkan jika kamu hanya melihat sekilas. Akan lebih tampan jika kamu melihat matanya, hitam bersih. Wajahnya? Putih bersih. Rambutnya? Sepertinya agak ikal dan tebal. Dia lumpuh (layu), bermula dari obat yang dia konsumsi saat demam waktu kecil yang sebenarnya itu hanyalah ka sabab. Ibunya juga demikian. Katanya kulit beliau terasa seperti terbakar setelah minum obat kampung yang sebenarnya itu juga hanyalah ka sabab. Seingatku dia bercerita begitu. Semakin lama lumpuhnya semakin parah, hingga waktu itu dia hanya beraktifitas di rumah. Sungguh aku tak ingat detailnya, tapi seingatku ketampanannya bertambah setelah dia bercerita. Dia sama sekali tidak terlihat bersedih, menyesal, marah dengan apa yang menimpanya. Sama sekali. Dia kuat atau terlihat kuat. Kamu tahu hobinya apa? Hobinya membaca dan satu lagi yang membuatku nyaris berair mata, dia (berusaha) menghafal Al-Qur’an. Entah telah berapa juz, aku lupa. Dia, sungguh tampan. Tepat setahun setelah itu, sungguh terkejut mendapati kabar dia meninggal.

Orang seperti dia dan yang melekat padanya mengajarkanku definisi tampan yang (sebenarnya) lain.

Lagi, masih tampan. Pemuda (?) kali ini lebih tua dariku, mungkin awal 30an. Tinggi, tidak kurus tidak gemuk, rambutnya ikal dan tebal, kulitnya sawo matang, yang sedikit tacelak adalah bulu matanya lentik. Kenapa dia? Dia sakit. Terlihat kedinginan dan sangat kesakitan, mungkin perutnya. Dia bersandar pada ibunya sembari mengenggam tangan istrinya yang sedang hamil mungkin 4 atau 3 bulan. Istrinya, berlinang, cemas. Ya, semua orang di sana terlihat cemas. Saat itu aku terbayang banyak hal. Terbayang bagaimana dia di keseharian, bagaimana saat dia tertawa, saat ketakutan, bagaimana saat dia seusiaku, lebih kecil dan lebih kecil lagi. Lalu apa yang dia pikirkan saat ini? Aku juga terbayang dia berwujud adikku. Apa yang dia rasakan? Ketakutankah dia? Apa yang dia pikirkan? Kemungkinan terburukkah atau apa? Dia terlihat kacau dan sangat lemah.

Sekali lagi, tidak tampan tapi cantik. Dari kacamataku sebagai perempuanpun, dia terlihat cantik. Apa yang istimewa darinya? Selain kecantikan, dia juga pintar dan katakanlah berkecukupan. Tapi, satu lagi kelebihannya yaitu memiliki lidah yang tajam. Bermulut tajam. Uh, tajam sangat. Bahkan dari sudut pandangku sebagai anak kecil ataupun yang sudah tidak kecil lagi. Orang-orang di lingkungannya (sebagian kecil/besar) berusaha sedapat mungkin untuk tidak berurusan dengannya, dan ada jug yang menggunjingnya.

Kamu tahu? Ketampanan, kecantikan, kepintaran, kekayaan dan hal-hal semacam itu ada saatnya tidak akan berguna sama sekali. Kapan itu? Saat sakit, terdampar jauh dari peradaban, menginjakan kaki di tempat yang sama sekali asing, kemalingan, sakratul maut, misalnya.  Seperti pemuda pertama. Dia tidak sekolah tinggi, katakanlah hingga S3 namun ilmunya telah teruji. Ilmu yang katanya paling sulit, ikhlas dan ridha. Tidak hanya menerima ketentuan Allah terhadapnya, namun menerima segala ketetapan Allah padanya dengan senang hati. Lantas apa guna ketampanan wajahnya? Apakah menyebabkan ia dikecualikan dari ujian? Tidak. Namun ada ketampanan lain yang sangat perlu dipandang darinya. Ketampanan hati. Karena dengan tampan yang demikianlah sesungguhnya seseorang menjadi tampan. Sebaliknya juga dengan tidak baiknya perangai ataupun hati, seseorang yang sangat tampan sekalipun akan menjadi biasa-biasa saja bahkan buru(a)k. Kemudian pemuda kedua, ketampanan atau jika tampan itu memang relatif lalu katakanlah keelokan rupa. Dimana keelokan rupa tidak menjadi pengecualian untuk ia bisa terlihat lemah, mengiba. Tidak mengecualikan dia dari kebutuhan akan orang lain dan dari kebutuhan akan Penyembuhnya. Pada kondisi-kondisi tertentu, semisal saat seseorang berada pada titik terbawah hingga ia tersadar bahwa tak bisa berbuat apa-apa, bahwa ia tak memiliki daya apapun untuk merubah sesuatu, di saat seperti itulah keelokan rupa tak ada gunanya, tak akan di(ter)pandang sama sekali. Dalam kondisi yang demikian, seseorang hanya akan kembali pada Yang Satu. Terakhir, si perempuan yang dengan keelokan rupanya tak lantas menjadikannya disukai disenangi. Lalu apakah benar seseorang disukai karena fisiknya? Ya, mungkin hanya sepersekian persen benarnya.

21072013-to-lawang-21

Keelokan rupa bukanlah suatu hal yang mendefinisikan seseorang menjadi tampan, jelek, biasa, cantik, anggun, manis, apapun. Kalaupun itu dapat mendefinisikan, itu hanya definisi yang dangkal. Teringat celetukan seorang tua, “Mau parasnya cantik atau gagah, apa yang bisa dibanggakan? Toh itu semua Allah yang beri, Allah yang ciptakan”. Lalu apa yang bisa menjadi indikator seseorang itu elok? “Akhlak adalah faktor penyebab laki-laki tampak gagah dan perempuan tampak cantik. Akhlaklah yang menyebabkan manusia menjadi manusia (Abdurahman As Sa’di)”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s