Kepingan Puzzle

Tak ada satupun orang di rumah ini yang memberitahu kami, setidaknya aku sebagai sulung tentang apa sebenarnya yang terjadi. Mereka hanya menjawab, “semua akan baik-baik saja” atau “tidak ada apa-apa” untuk setiap pertanyaan. Berusaha menutupi ataukah berusaha membuat kami tak khawatir, namun nyatanya dengan sikap yang demikian aku semakin tahu dan semakin khawatir. Orang dewasa kadang memang sok tahu dan itu menyebalkan. Aku curiga, sebenarnya mereka khawatir akan kami atau justru hanya khawatir pada diri mereka sendiri? Khawatir kami akan terluka atau khawatir kami hanya akan membebani mereka? Orang dewasa memang seperti itu, bisa membolak balik yang sederhana menjadi rumit, yang rumit tambah rumit. Mereka pintar merumitkan segala sesuatu.

Tidak banyak bicara menurutku adalah satu-satunya cara agar bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tidak bertanya lagi, karena ku tahu mereka takkan pernah menjawab jujur atau bahkan mengerti apa yang kutanyakan. Tak bersuara lagi, entah itu komentar, pendapat, saran, kritik, apapun karena ku tahu mereka takkan pernah memandang itu sebagai suatu yang bernilai keberanian, kepedulian dan tanggung jawab. Secara tidak sadar mereka membuatku bisu, muak dan benci bicara. Mereka juga membuatku lumpuh karena mencoba mengontrol (mengendalikan) segala sesuatunya. Tak membiarkanku tumbuh menjadi manusia normal, utuh. Mengizinkanku berpikir dan memutuskan, mengizinkanku bertindak dan bertanggung jawab, mengizinkanku bereksperimen dan menanggung risiko. Mereka tak mengizinkanku bebas, sesungguhnya. Lama, sangat lama. Hingga ku lupa bagaimana rasa dan caranya bebas.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Sampai sekarang aku tak tahu pasti apa yang telah terjadi. Semuanya bagai puzzle, setiap informasinya menjadi kepingan-kepingan puzzle. Hingga detik ini puzzlenya belum utuh, namun aku telah tahu ia akan membentuk, menunjukkan suatu rangkaian yang seperti apa. Tak lagi terobsesi untuk menjadikannya utuh, sebab aku tahu aku tak punya hak untuk memaksakendalikan sesuatu. Di samping itu semua, sesungguhnya aku takut, akan terbongkar, terlihat bagaimana sesungguhnya atau hanya kekhilafan orang-orang yang harusnya ku hormati, cintai, sayangi dan jadikan nyawa hidup. Aku takut yang seharusnya itu menjadi semu belaka. Takut, bahwa aku akan membenci mereka. Ya, mungkin itulah sebab puzzle itu kubiarkan tergeletak tak diselesaikan. Aku takut akan menemukan alasan kuat untuk membenci mereka, sungguh-sungguh membenci mereka. Pengecut!

Sesungguhnya ada satu hal yang mereka lupa atau bahkan tak tahu tentang diriku. Aku sendiripun belakangan mulai menyadari. Sikap dan apa yang mereka lakukan padaku menciptakan sesosok monster dalam diriku. Monster yang terkadang membesar dan mengecil, yang terkadang tak terkendali dan terkendali, yang kadang menguasai dan dikuasai. Aku yang sekarang telah tumbuh seperti ini, tak bisa dan tak juga boleh menyesali yang sudah terjadi. Benarlah jika ada yang mengatakan bahwa manusia itu mempunyai kecenderungan untuk baik dan buruk. Aku percaya itu, sebab aku sendiripun demikian. Namun di atas semua itu, aku jadi lebih mengenal diriku, mengenal Tuhanku. Dan kupikir, itu adalah harga yang setimpal, atau jika boleh kusebut itu pengorbanan, itu pengorbanan yang setimpal. Aku yang sekarang, aku yang hidup dengan monster dalam diriku namun bagaimanapun itu, aku mempunyai Tuhan yang aku yakin takkan pernah tinggalkan aku sendiri, takkan pernah menzalimi, takkan pernah menyia-nyiakan. Aku telah kehilangan segala yang dulu sangat kubanggakan, yang bahagia dan sedihku terletak padanya, yang rasa hidup dan matiku tergantung padanya, yang keinginan berjuang dan menyerahku ada pada wajahnya. Aku kehilangan itu semua walaupun mereka tak hilang. Aku kehilangan mereka yang dulu kurasakan saat ada mereka sebagaimana di atas. Atau jika mereka dikenyataannya tidaklah hilang, aku memilih untuk menghilangkan mereka sebagai tempat ketergantungan. Aku memaafkan (dan semoga juga dimaafkan), karena begitu damai dengan memaafkan, begitu lapang serta begitu kuat. Namun bukan berarti dengan telah memaafkan akan kugantungkan lagi apa-apa yang telah kugantungkan. Aku tak ingin kecewa lagi, karena kutahu jika ada keinginan sedikit saja untuk kembali tergantung, aku akan kecewa, terkecewakan, dikecewakan. Telah pernah merasakannya, membuatku enggan untuk lagi mencoba. Telah pernah merasakannya, membuatku paham teramat sangat sakit lukanya, lama sembuhnya hingga semampunya takkan demikian pada orang lain. Sekarang, aku yang seperti ini (semoga) hanya mengantungkan segala sesuatunya pada satu tempat. Aku yang seperti ini, sekarang tak mempunyai dan membutuhkan apa-apa lagi selain satu hal. Sekarang, aku yang seperti ini jika terlihat terpengaruh, bergantung pada sesuatu ataupun melakukan sesuatu karena sesuatu, itu (semoga) hanyalah karena yang satu itu. Aku mempercayakan langkahku padanya, mempercayakan segala yang kupunya padanya, mempercayakan segalanya padanya. Sebab aku tahu, takkan pernah kecewa. Dia yang satu itu mencintai dan menjagaku dengan sebaik-baik cinta dan sebaik-baik penjagaan.

Aku kecil yang membesar

Advertisements

2 thoughts on “Kepingan Puzzle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s