Mengakui Sembari Angkat Topi

Bolehkah aku mengakui kelemahan diri sekali lagi tentang dia? Dia. Orang asing itu berhasil menggoda otakku untuk bermain-main dengan khayalan, keinginan dan harapan. Aku dibuatnya harus mengakui kebodohan diri berkali-kali. Aku dibuatnya seperti dua orang dalam satu kepala. Aku dibuatnya putus asa berkali-kali. Aku dibuatnya ingin berkali-kali lupa ingatan dan menyesal lagi. Dia, orang asing itu teramat jauh untuk bisa mendengarku. Saat ini aku masih penasaran dan mengamati ambang batas kebodohanku. Seberapa lama lagi dan sejauh mana aku akan bodoh, membodohkan diri dan mengakui kebodohanku. Berbanding terbalik denganku, sementara si orang asing itu terus bertambah kepintarannya. Ketimpangan yang nyata. Manusia satu ini bertambah bodoh sementara manusia asing itu bertambah pintar hingga takkan bisa lagi disetarakan. Yang seperti ini adalah kebodohan, dan sekali lagi aku mengakuinya sembari angkat topi. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s