(Bukan) Nde, Dak Lamak Se Kaniang Den E 

Terkadang terpikir apa sebenarnya yang membuat makanan terasa sangat nikmat, minuman sangat melegakan. Di lain waktu makanan dan minuman yang sama walaupun tetap berasa tapi tetap saja terasa kurang nikmat, kurang badaso. Apa yang membedakannya? Pasti ada.

Sebelumnya aku juga pernah bercerita tentang makanan, yakni tentang satu bumbu yang kadang kurang, yakni syukur. Kali ini selain syukur, sepengamatanku pada diri sendiri, hal yang juga berperan adalah suasana hati. 
Bagaimana dengan suasana hati? 
Saat suasana hatiku tak enak, seenak apapun hidangan, setinggi apapun harganya tetap saja tak terasa nikmat tak terasa enaknya. Aku pribadi yang menyukai mie, martabak mesir, saat suasana hatimu tak enak sama sekali tak berkesan martabak mesir yang dicicipi. Lain hal saat susana hatiku baik, enak. Hidangan sederhanapun terasa sangat berkesan dan nikmat. Apa itu yang sederhana? Ku contohkan yang pernah ku coba: sekali waktu makan siang dengan nasi hangat, sambal lado hijau, goreng ikan asin dan air putih dingin. Sungguh terasa nikmat, hati dan pikiranku di sana menikmati tiap kunyahannya. Apa ya istilahnya, aku makan dengan kusyuk. Badaso

Lalu apakah penting sebenarnya apa yang kita makan? Maksudku seberapa enak dan berapa harganya? Jika itu semua bisa berubah hanya karena tak syukur dan suasana hati? 
Bisalah kiranya makan nasi putih tambah indomie dengan suasana hati yang baik lebih nikmat dari makan KFC dengan suasana hati yang kurang baik.
Lalu apa yang membuat suasana hati kurang baik? Banyak hal tentunya semisal; banyak pikiran, samak pangana, ingat kesalahan, dll. Teringat sabda Rasulullah, “Sesungguhnya benar-benar ada perasaan tak enak atas hatiku dan aku benar-benar meminta ampun pada Allah dalam satu hari lebih dari 100 kali [HR. Abu Daud]”.



Bisa jadi perasaan tak enak itu lantaran adanya dosa. Maka banyak-banyaklah beristighfar (wahai diri). Lah kenapa bisa sampai sini ya? 😮 Hanya karena ingin hati ini tenang dan yang tak mengenakannya lenyap. Agar, makan dan minumpun bisa terasa nikmat. 

“Saat tempat kita duduk kotor, apakah ada yang merasa tak enak? Apakah yang merasa tak enak itu hidung atau kening? Ndee, dak lamak se  kaniang den e. Bukan. Tapi hati yang tak enak. Dak lamak se perasaan do. Lalu bagaimana jika hati itu (bana) sendiri yang kotor? [Ust. Hamdi ~ Bukittinggi]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s