Semoga Tak Sia-Sia

Beberapa waktu lalu adik saya demam. Napasnya sesak, badannya panas dan batuk-batuk. Tubuhnya sangatlah sensitif es, es batu atau es krim. Serumah selalu wanti-wanti dia jika ia mau es, sedang memegang es, melihat es. Bukan apa-apa, kasihan melihatnya sesak napas, ya selain dia nyenyeh saat sakit.

Siang itu dia membuka kulkas mengambil air es, “Tambah sasak angok beko” (Nanti napasnya tambah sesak lo). Diam beberapa lama. “Dicampua jo aia biasonyo Un, ndak baa gai do” (Gak apa kok Un, dicampur sama air biasa). “Gak usahlah, plis”. “Ingin sehat atau nggak sih?” Dia tetap kekeh. Ya udah, dibiarkan. Sebagaimana biasa, malamnya napasnya tambah sesak dan badannya tambah panas. Ingin rasanya bilang, “Tu lah, lah dikecekan mada jo” (Kan, udah dibilang), namun tidak tega rasanya. Jadilah malam itu agak kesal-kesal kasihan.

Teringat pesan seorang guru saat beliau menjelaskan sebuah doa. Salah satu potongannya, “Ya Allah aku berlindung padaMu dari fitnah dan azab neraka”. “Tak benar jika kita memohon perlindunganNya dari azab neraka namun kita sendiri tak menjauh darinya (neraka)”. Tidaklah sejalan jika kita memohon perlindungan Allah dari neraka namun kita tidak menjauh dari apa-apa yang bisa menyebabkan masuk atau mendapat azab neraka. Beliau menyebutnya sebagai, “Bagarah-garah. Karajo nan ka sio-sio men”. Jadi, sudahkah kamu wahai diri memohon lindunganNya dari neraka dengan sebenar-benar memohon perlindungan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s