Takanai

#JumatMubarak

Seminggu belakangan ada beberapa peristiwa atau katakanlah momen yang cukup menyita perhatianku. Tidak hanya perhatian namun juga pikiran dan perasaan. Bahkan sebenarnya tidak hanya aku, mungkin kita semua. Tsunami di Selat Sunda dan Natal. Tsunami Selat Sunda, selain bencana fisik yang terjadi tiba-tiba dengan berjuta duka didalamnya, untukku pribadi menjadi bencana mental juga. Aku tidak ingin mengurui, hanya saja rasanya patut untuk menyampaikan sesuatu yang kuyakini benar. Jika dilihat berita, dilirik sosial media sangatlah teramat sangat menguras emosi, berkali-kali keningku dibuatnya berkerut 14 dan kepala geleng-geleng. Komentar dan asumsi-asumsi yang beredar itu menurutku keluar dari mulut dan ketikan jari orang-orang yang tidak tahu adab. Tak perlu kuulas lagi apa dan bagaimananya, teman-teman bisa mengakses itu dimanapun. Bagaimana mungkin berkata, “ini azab”, “Jelas saja ini terjadi, musik kan sudah jelas haram tapi masih dilakukan”. Subhanallah kawan, sebelum mengkaji sedalam itu bagaimana dengan nuranimu? Ini disampaikan tidak lama setelah bencana terjadi. Tidakkah terpikir bagaimana perasaan mereka yang menjadi korban tsunami? Tidakkah terpikir bagaimana perasaan ibu yang anaknya menjadi korban membaca itu? Bagaimana perasaanmu membaca itu, jika anggota keluargamu sendiri yang menjadi korban tsunami tersebut?! Sedih sekali membayangkan itu. Bagaimanapun mereka saudara kita juga yang memang ditakdirkan demikian. Jadi jangan tambah beban mereka. Terkait azab, bukanlah hak kita menentukan suatu bencana itu azab atau tidak. Kita hanya diberitahu tanda-tanda dan bagaimana azab pada kaum-kaum terdahulu. Jangan demikian, jangan.

Natalpun begitu, kita masih sibuk dengan boleh tidak mengucapkannya pada yang merayakan. Yang mengucapkan seolah telah sangat toleransi sekali ia hanya dengan mengucapkan pada yang merayakan. Apakah disana letak toleransi? Seolah-olah terkesan itu sesuatu yang esensi. Bukan sungguh bukan itu yang esensi. Toleransi itu bukan diucapan, tapi ditindakan, pada pergaulan hidup. Dan bagi yang berkeyakinan mengucapkan itu tidak diperbolehkan, juga ada adabnya menurutku. Sosialisasikanlah bukan di hari H, tapi jauh-jauh hari sebelumnya, agar tidak usak ati (menyakiti) mereka yang merayakan. Dan untuk kedua pihak baik yang mengucapkan dan tidak, saling toleransilah terhadap apa yang orang lain yakini. Jangan memaksakan pandangan kita.

Lagi, sekilas aku melihat postingan beberapa orang tentang seorang cendekiawan dengan diselipkan kalimat permohonan agar beliau tidak diridhai Allah. Permohonan demikian sama saja dengan melaknat. Dan melaknat sendiri adalah menjauhkan seseorang dari rahmat Allah. Subhanallah kawan, biarlah menjadi HAK MUTLAK ALLAH saja perkara meridhai dan tidak meridhai seseorang. Kita siapa? Kita hanya manusia biasa yang belum tentu pula akan diridhai Allah. Sedih sekali rasanya membaca postingan tersebut sampai malamnya susah tidur.

Pada akhirnya banyak sekali yang bisa dipelajari dari kejadian di atas. Aku juga meminta maaf jika ada yang takanai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s