(Karena) Kenaikan Tiket Pesawat

Cukup lama lalai, assalamu’alaikum 🙂 semoga yang membaca dalam keadaan ‘afiyat. Bagaimana hari-harimu yang telah dilalui di tahun ini? Moga selalu ada suatu kebaikan yang engkau dapat.

Amat berkesan sekali rasanya perjalanan beberapa waktu lalu. Aku pribadi sangat menyukai sebuah perjalanan menuju suatu tujuan. Dari yang sederhana, berjalan kaki, naik angkot, naik motor, perjalanan dengan pesawat ya walau baru menyeberang pulau saja. Dan kemarin perjalanan dengan bus pertama yang benar-benar sendiri. Dalam tiap-tiap perjalanan yang kunantikan adalah hal apa yang diperlihatkan, diperdengarkan dan dirasakan padaku. Pelajaran yang ku dapat pada tiap-tiap perjalanan biasanya lebih meresap ke dalam dibanding yang penutur bahasa-bahasa langit sampaikan. Dan kemarin, sekali lagi sangat berkesan. Selain pengalaman pertama, aku berkali-kali dibuat haru akan KeMahaHalusan Allah dalam segala sesuatunya. Terasa alaykah jika menceritakannya? Biarlah ya, aku hanya tidak ingin melupakannya. Dan jika lupapun nanti, ini setidaknya bisa mengingatkan.

Beberapa menit sebelum berangkat masih protes dalam hati sebab kenaikan harga tiket pesawat. Bus stand by di Taluak. Datang terlambat beberapa menit karena biasanya kalau, “Bisuak barangkek jam 09.15 yo. Lah tibo di siko jam satangah 9”, biasanya berangkat paling tidak jam 10. Jam sembilan kurang ditelpon lah, “Lah dima kini?”, “Di jalan pak”, “Eh, baa kok talaik? Bus lah stand by yo”, “Maap pak, sakik paruik (beneran)”. Sesampai di sana memang sudah ramai hampir tak ada tempat untuk parkir. Malu jadinya sekaligus senang akan tepat waktunya. Rasa-rasanya lebih emosional dari pada naik pesawat. Bolak balik peluk ibu, sampai akhirnya duduk di bus saja dari pada ibu lihat ada yang menggenang. Bus dinyalakan, ibu naik ke atas, pelukan lagi. Syukur matanya masih bisa kompromi. Di depan ku duduk ibu dengan anak gadisnya serta di depannya sepasang suami istri dengan gadis kecilnya, dua apak-apak di belakang, laki-laki seusia di sebelah, ante-ante dan suaminya di seberang yang di depannya seorang ibu dengan anaknya dan di belakangnya duduk seorang ibu dan uda-uda. Beberapa menit sebelum berangkat beberapa orang di luar melambai-lambai ke arahku. Oh bukan, ternyata teruntuk yang di sebelahku. Dan dia juga melambai-lambai (mandadah-dadah). Pemandangan langka dan aku sangat menikmati.

Pemberhentian pertama tidak pada tempat biasa berhenti. Kali ini di masjid pinggir jalan. “Baa kok baranti pak?”, ada yang bertanya. “Mambasuah anak dulu”. Sekalian shalat. Perjalanan berlanjut dengan pemberhentian berikut di Gunuang Medan sorenya. Tidak ada persiapan selain minum yang kubawa, di sana aku beli masker dan tisu. Dari pagi sampai sore diam-diam saja dengan teman sebangku rasanya kurang nyaman. Ingin memulai sedari tadi sebenarnya saat scene lambai melambai, tapi banyak tapi. Tak lama setelah jalan lagi dia memulai (akhirnya). Orangnya cukup terbuka hingga banyak yang ia otakan (atau aku yang banyak tanya?). Lewat ota aku dibuatnya tertarik kedua kalinya setelah scene lambai melambai. Merasa tak ada apa-apanya aku. Saat tahu tujuanku ia menimpali, “wuiiih”, “Ado niaik dak untuak lanjuik sakola?”, “sananyo wak nio bana lanjuik sakola”, “Iyo lanjuiklah, kan ado paket. Mentri se ambiak paket a”. Dia marantau setamat SMP ke kota B sendiri (baru sampai situ saja aku sudah waw), sudah merintis usaha sendiri (waw lagi), dia juga menekuni photography dan programmer (waw lagi), hasil kerjanya disisihkan untuk memperbaiki rumah (waw lagi), selama beberapa bulan di kampung ia juga maolah gamis (waw lagi) dan satu waw lagi, dia tidak terlihat tidak percaya diri melainkan juga optimis. Semoga Allah berikan yang terbaik untuknya. Sebenarnya banyak hal yang ingin ku tanyakan, terlalu banyak malah hingga takut akan membuatnya tidak nyaman. Akhirnya mulut di rem dan bertanya-tanya sendiri lalu menjawab kemungkinan-kemungkinan saja sendiri.

Ante-ante dan suaminya yang di seberang, terlihat sangat manis berdua. Si om menyelimuti, mereka melakukan hal-hal biasa saja sebetulnya hanya caranya terlihat manis bagiku. Berbagi makanan, mengobrol, turun bus bersama, menunggu ante yang ke kamar mandi dan lainnya. Sekitar jam sebelas malam berhenti selanjutnya. Kami shalat, aku akhirnya makan bekal tadi pagi. Ada yang berubah memang aromanya, tapi tak apa. Telur dadar ibu masih terasa enaknya. Ibu dan anak gadis di depan ku manis sekali sedari Gunuang Medan, mereka makan bekal berdua. “Pai liburan”, terang beliau. Pemberhentian selanjutnya subuh di Lahat. Karena tidak membawa perlengkapan bersih-bersih jadilah beli di tempat. Selesai shalat aku beli teh manis hangat. Kembali ke bus, si teman sebangku tiap kali naik setelah berhenti selalu terlihat segar lagi (waw lagi). Lah aku, peduli penampilan saja tidak, turun hanya untuk yang wajib-wajib saja.

Sumatera Selatan memang cukup panjang. Siang sebelum Jumat berhenti dulu. Aku lapar tapi tak berani makan, takut-takut perut tak bisa diajak kompromi. Jadilah membeli susu dan sari kacang hijau (maha!) saja. Berhenti cukup lama, lebih sejam ditambah lagi ganti ban. Mengobrol di rumah makan dengan ante dan suami serta ibu di belakangnya. Tak banyak yang bisa diotakan dengan ante sebab ada suaminya, segan aku. Banyak mengobrol dengan ibu. Ternyata urang mangaleh. Sepanjang maota, beliau hanya menyinggung tentang anak dan bagaimana ia manggaleh. “Apak baa buk?”, gatel. “Apak dak ado lai, lah pisah”, aku tak berani timpali lagi, beliau yang banyak cerita. Beliau terlihat tenang dengan cerita hidup yang tak kalah berat menurutku. Seorang ibu itu memang teramat luar biasa. Banyak pelajaran yang kudapat dari beliau. Di antaranya bahwa tiap-tiap orang berhak atas kebahagiaannya. Benar ada kewajiban yang harus dilakukan, namun juga ada hak yang harus diterima. Allah Maha Adil dalam segala sesuatunya, Maha Halus dalam mengatur segala sesuatu hingga segala sesuatu itu berhubungan langsung tidak langsung dengan hidup kita. Ada satu lagi gadis yang sedari tadi sendiri dan tak tampak mengobrol dengan siapapun. “Surang se? “ Angguk. “Ka pai kama?”. “B”. “Manga tu?”. “Kuliah”. “Akak?”. “D”. “Lah bara kali naiak Bus?”. “Lah duo kali kak”. Dari bahasa tubuhnya bisa dikatakan dia masih was-was tapi berusaha yakin berani. Satu lagi yang aku baru tahu, tenyata jika makan di sini, mengisi baterai hpnya tidak bayar.

Perjalanan selanjutnya cukup melelahkan untukku. Selain cukup jauh jarak pemberhentiannya, entahlah kenapa mood juga tidak begitu baik. Lampung ternyata cukup panjang. Aku menyandarkan kepala ke jendela untuk beristirahat. Banyak mengeluh saja sepanjang jalan, walau memang dalam hati tetap saja mengeluh. Leher yang sakit karena keseringan miring ke kanan, tulang pipi dan pelipis mata kanan sering terantuk saat tertidur yang akumulasinya cukup sakit juga. Mau miring ke kiri takut yang di sebelah kena kalau ketiduran. Dan lagi epanjang jalan pemandangannya tercemar foto-foto caleg, cahayanya cukup silau. Entah kenapa moodnya bertambah tidak baik saat orang sebelah telponan dengan ibunya. Terdengar sangat akur dan manis, mungkin sebenarnya aku iri. Ingin sekali juga bercakap dengan ibu hanya aku takut akan badarai dan dilihat orang. Pemandangan penghiburnya adalah saat melihat ke luar, ada hamparan laut dan siluet kapal-kapal yang tersusun tambah menawan dengan warna langit saat matahari berangsur-angsur tenggelam. MasyaaAllah. Hingga akhirnya sekitar delapan malam, berhenti di rumah makan sebelum naik kapal. Sebelumnya shalat, lalu makan. Hmm, aku masih ingat nasi badatuihnya yang terkesampingkan karena saking litak. Ditambah teh manis hangat, Alhamdulillah akhirnya merasa lengkap kembali. Ibu menelpon dan tak bisa tidak, badarai juga akhirnya. Tak tertimbang lagi ada ibuk-ibuk dan bapak-bapak yang melihat. “Manangih ca? Jan manangih lo”. “Lain lo sadiahnyo pai naiak bus ko Bu. Mungkin dek lamo di jalan. Patang tu mungkin dek pulang jadi bisa jo galak”. “A bisuak pai jo pesawat se lah kalo gitu”. “Ee, dak gitu lo do Bu, dek pertamo mah”. “Yo lah, jan manangih jo lai. Apuih aia mato tu. Ati-ati di kapa yo”.

Setelah makan moodnya lebih baik, bisa senyum dan maota lagi. Masih Lampung Selatan, sisa perjalanan menuju pelabuhan banyak berlubang, terlebih malam dengan penerangan yang cukup minim goncangannya lebih “sering”. Tiba di pelabuhan sekitar jam sepuluh malam. Di awali pemeriksaan bagasi lalu antri. Karena merasa waktu berpisah semakin dekat, akhirnya memberanikan diri bertanya hal yang sebenarnya tidak penting ditanyakan. “Bara lamo wak di kapa A (anggap inisialnya)?”. “Bisa duo jam atau duo satangah jam kalaunyo baranti di tangah beko”. “Manganyo baranti? (seriously)”. “Yo antri untuak manapi, kalau ado beko kapa yang alum kamanapi tu ditunggu dulu, bongka muatan lo nyo dulu”. “Oo iyo-iyo (pertanyaan bodoh)”. “Sakali ko sa naiak kapa baru?”. “Lah duo kali tapi dulu kapa yang duo tingkeknyo”. “A kini tigo tingkek. Bla blab la”. Berakhirlah dengan penjelasannya tentang kapal tingkat tiga ini dan nasihat-nasihat agar nanti aman di kapal. Rasanya seperti anak yang dinasihati bapak-bapak. Jauh di dalam aku ucapkan terima kasih. Turun dari kapal aku pegangan dengan ibu dan adik gadis yang ku lupa namanya (tapi lah taujuang). Tak seperti kapal dua tingkat yang hanya naik satu tingkat, di kapal ini naik dua tingkat agar bisa istirahat di tempat yang sudah disediakan. Ada TV nya pula, toiletnya bersih, ya bersih dan bersih. Kami nonton di dalam, dua film.

Beberapa lama, aku ijin keluar melihat laut. Pemandangan pertama yang ku lihat adalaaaaaah ante dan suaminya sedang maota uh dan itu membuatku senyum-senyum kagum. Moga Allah berkahi keluarga mereka. “Jak tadi ante siko?”. “Iyo, mancaliak lauik”. Hilang, kami sama-sama menikmati lampu berkelip-kelip di tepian sana, menikmati riak air laut yang terlihat berwarna keemasaan terkena cahaya lampu dek kapal. Angin laut malam yang cukup sejuk walau masih terasa hangatnya tapi tak seberat siang atau sore hari. Sejenak aku lupa perpisahan, lupa bahwa tadi menangis, lupa masih ada perjalanan lagi hingga ante sentakan dengan pertanyaan, “Jak tadi lai jalan wak goh?”. Senyum. “Lai nte, kan tingga kapa sabalah nampak dek ante tu a. Caliak aia lauik ko nte, taraso wak jalan mah”. “Yo bana lah”. Senyum. Suaminya menimpali, “Cubo tanang Ta santa, taraso kapa bajalan tu”. Mengganggu rasanya. Ingin segera meninggalkan mereka, ku keluarkan hp dan mulai mengambil beberapa gambar. “Elok-eloklah, jatuah hp tu dak bisa diambiak lai. Sakik paruik om mancaliak a”. “Aman InsyaaAllah om, pacik kuek-kuek”. “Ntah iyo sakik paruik nte mancaliak a”. Karena tak ada yang terlihat selain lampu-lampu kecil, akhirnya aku hanya merekam air laut yang terkena sinar lampu kapal.

Tak beberapa lama oom yang sakik paruik keceknyo tu pun mengeluarkan hp dan mengambil gambar laut, “Tagak lah ta sinan a, bapoto ciek tando naiak kapa”. “Dak dek uda tu do”. Senyum diam saja kita. “Om, nte sa kaliliang dulu dih.”. “Dih”. Memang agak canggung berjalan sendiri sebab kebanyakan yang memenuhi jalan adalah laki-laki. Mereka ada yang tidur di lantai, ada yang merokok sembari menatap laut. Tak berani lama-lama, menghampiri ante lagi untuk pamit masuk ke dalam. Di dalam ternyata tak kalah seru, hampir sebagian besar lantai dipenuhi orang-orang tidur. Raso ka lamak lo. Maota dengan ibuk dan pak (ku lupa namanya, hanya ingat beliau tinggal di Inkorba). Tujuan kami sama, D. “Urang mangaleh apak?”. “Ndak. Baa tu? Bantuak urang mangaleh gaya apak yo?”. Seterusnya aku lanjutkan menonton, meninggalkan tetua untuk mengobrol yang mulai terdengar berat. Jam setengah tiga pagi akhirnya kapal menepi dan kami kembali ke bus. Tidak tidur di kapal, berniat harus tidur di bus. Berusaha tidur namun was-was waktu Subuh masuk.

Tiba-tiba terbangun saat hujan dan beberapa orang naik ke bus. Ternyata hanya berhenti makan, masih jam 4 pagi. Tidak melanjutkan tidur lagi. Jalanannya cukup sepi, semakin dekat dengan perpisahan. Sedikit sedih. Dua malam tiga hari menurutku adalah waktu yang cukup untuk tidak menjadi asing lagi. Jikalau nanti bertemu lagi walaupun lupa nama, namun mereka bukan orang asing lagi bagiku. Terminal pertama, Kali Deres. Banyak yang turun di sini. Ante dan om, apak-apak dengan tiga anaknya, banyak lagi. Seketika menjadi sepi. Teman sebelah pindah bangku agar bisa duduk dengan nyaman. Dia melanjutkan tidur, banyak juga yang demikian. Tidak ada berhenti shalat subuh, jadi shalat di bus saja. Sesampainya di Pulo Gebang, mataharinya sudah cukup naik. Tujuan kota B pindah ke bus satu lagi, sementara bus ini tujuan D. Akhirnya berpisahlah dengan ibuk, adik gadih, teman sebangku, ibu dan anak gadih dan ante-om dengan bayi mungilnya. Cukup sedih, sebab telah banyak cerita dengan ibuk. Semoga dan InsyaaAllah Allah pelihara mereka dimanapun berada. D, perjalanan selanjutnya. Pak Inkorba yang kulupa nama beliau, turun pertama. “Apak turun siko yo sa. Doakan lancar se urusan apak. Sa pun elok-elok yo”, disertai senyum kebapakannya. Pemberhentian terakhir, dan perjalanan dengan bus selesai dengan, “Makasi banyak yo pak”. Karena cukup banyak barang, selanjutnya dilanjutkan dengan Grab. Jam setengah delapan mendarat di kosan. Akhirnya, Alhamdulillah walau cukup penat dan kaki bengkak namun menyenangkan.

Tidak semua yang terjadi dapat kuceritakan. Namun pada akhirnya, kenaikan harga tiket pesawat ketika itu aku syukuri. Sebab diperantarai itulah aku bisa naik bus, bertemu beliau-beliau yang ku temui, melihat hal-hal yang kulihat, mendengar hal-hal yang kudengar dan merasakan yang kurasa. Bajelo kok dirantang. Dak dirantangpun lah bajelo-jelo. Hahaha XD Naik bus yang semula menjadi momok bagiku, setelah dijalani ternyata tidak seperti itu. Seorang guru pernah berkata, “Allah itu Maha Halus (Al Latif), Mengetahui yang Tersembunyi. Kita terkadang tidak sadar bahwa sedang diarahkan kepada sesuatu. Coba tilik lagi ke belakang, bagaimana perjalanan hidup kita. Apakah banyak yang sesuai dengan yang direncanakan?”. Kalimat ini kudengar tepat seminggu setelah perjalanan. Dan kesemrautan berpikirku terwakilkan dengan kalimat beliau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s