Dia Terlalu Elegan Untuk Yang Seperti Dia

Mengamatinya dari jauh akhir-akhir ini menjadi rutinas baruku. Dan aku suka. Yah tak lantas kukatakan ini hobi baruku. Hanya saja suka jika ada dia dan mengamati dia. Setelah beberapa lama inipun, tiap kali mengamatinya dari jauh tak pernah berkurang rasa deg-deganku. Terkadang takut jika tertangkap basah sedang mengamatinya. “Creepy”, aku tak ingin ia berpikir demikian. Terkadang juga takut ia akan berubah sikap terhadapku, terkadang juga takut membuat ia merasa canggung. Setiap pagi dia telah ada di sana, bernafas di udara yang sama denganku, melihat gunung yang sama denganku, pun setiap sorenya ia masih bermain di sana kadang dengan burung dan kadang dengan padi. Aku tahu dia merasakan itu. Perasaan saat diperhatikan oleh seseorang. Ouch! Kadang dia curi-curi melihat ke arahku. Kadang ia bersuara yang tak ku mengerti namun seakan aku paham maksudnya, dan aku senang dia berespon.

Jika aku tak salah mengingat, ini masuk tahun kedua ku begini. Waw, aku sebut begini. Like I’m fall in love. Tidak tepat juga begitu. Hanya saja aku merasa ia menjadi temanku untuk tahun-tahun lesuku. Tahun-tahun ini cukup banyak pergolakan tak tampak dalam hati dan pikiranku. Pergolakan yang kadang membuatku ingin bersembunyi di gunung. Pergolakan yang membuatku teramat sangat menginginkan jika bangun tidur aku berubah lagi menjadi aku yang berusia 5 atau 6 tahun. Usia dimana tak ada yang kutakuti, bahkan hantu sekalipun, karena aku sungguh percaya dengan ibu dan ayah yang pernah mengatakan bahwa Allah Pencipta Segala Makhluk. Pergolakan yang kadang membuatku lupa sudah berapa hari tidak makan dengan benar, pergolakan yang membuat orang berkomentar, “Kamu kurusan Sa”. Aku tidak suka saja dengan kalimat itu. Entah mengapa. Aku lebih senang jika ada yang bilang, “Gapuak sa kini”. Sekali waktu aku bertemu seorang teman yang berkata demikian, “Gapuak sa kini”, “Syukurlah”. “Eh, nio gapuak Sa?”. Oke, aku tahu ini tak seperti yang dia prediksi. “Iyo, nio gapuak”. Kembali kepada ia yang kuamati tadi. Gilakah jika aku katakan aku bahkan beberapa kali curhat padanya, ya walaupun ia tidak memberikanku perhatian penuh. Dia tetap saja membelakangi ku dan asyik dengan apapun aktivitasnya. Namun aku senang jika dia merespon dengan suara yang hanya dia yang bisa dan aku telah paham maksudnya, dengan tatapan yang sesekali itu. Aku tak pernah tahu apa ia juga menganggapku teman atau tidak hanya saja di setiap senja menjelang magrib, di setiap perpisahannya, di setiap aku harus masuk ke dalam rumah dan menutup jendela kami berpisah dengan cara yang unik. Jika diingat sekarang aku juga amazed dibuatnya. Adakah perteman semacam itu? Atau hanya aku saja? Pertemanan bertepuk sebelah tangan. Uh.

Aku pindah, dan tak lagi pagi dan senja menjadi waktuku bertemu dan berpisah dengannya. Dia hanyalah dia dengan segala yang ada padanya. Aku meghargainya dengan segala yang ada padanya. Mengamatinya dalam waktu yang cukup lama itu, membuatku banyak merenung tentang dia dan aku, tentang hidup dan tentang mati. Bertemu dan berpisah tiap pagi dan senja dengannya membuatku teringat lagi bahwa hidup tak hanya tentang materi, aku belajar mencintai melaluinya. Hebat bukan, dari dia aku belajar lagi mencintai. Mencintai diriku sendiri, lingkungan, dia, keluargaku, kehidupanku, dan pasti Tuhanku. Melalui dia aku berlatih kembali melihat ke dalam mata, ya paling tidak matanya dan mataku. Melalui mata itu, aku belajar tahu bagaimana perasaaanya hari ini. Mungkin kamu akan bertanya, “dia punya perasaan?”. Aku dengan lantang menjawab, “Iya, sama sepertiku”.

Di bawah ini aku menyertakan gambar dirinya yang tertangkap olehku. Saat mengambil gambar ini aku hanya berpikir untuk bisa mengabadikannya, karena firasat untuk berpisah itu semakin kental. Kamu tahukan, terkadang kamera membidik tidak sebaik mata, ingatan dan hati ini membidik? Dalam ingatanku, sebelum mengambil gambarnya aku yang sedang gloomy berhasil ia buat tersenyum dengan pose ini. Dia terlihat sangat elegan olehku, maaf aku teringat waktu itu membayangkan ia berlenggok di panggung. Sebelum pose yang tertangkap kamera ini ia terlihat sangat asyik bermain dengan burung-burung, dia senang berteman, dia senang berlari-lari kecil. Sore itu dia cukup ceria walaupun cuaca tidak begitu cerah. Aku lalu memangginya dengan nama yang hanya aku yang memanggilnya itu, lalu ia perlahan berpaling dan melihat ke arahku. Dan kubidiklah. Aku akui aku kalah anggun jika dibandingkan.

 

Si Kabau

Si Kabau Nan Elegan

Iya, dia si Kabau nan elegan :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s