Mengenalku

Mudah dan terlalu cepat untuk menilai orang lain. Bukan perihal orang lain, melainkan diri ini yang acapkali secara otomatis jika mendapat ilmu sedikit saja langsung membawakannya pada orang lain, bukannya pada diri sendiri. Mengkaji dan menuntaskan diri sendiri. Mendapat ilmu perihal sabar dan ikhlas sedikit saja, langsung menkajikannya pada pribadi orang lain, bukannya lebih bermanfaat dan tepat jika memakaikannya pada diri sendiri.

Perihal tema yang pada umumnya adalah amalan hati yang bisa jadi dan bisa jadi tidak tergambar secara fisik. Seperti ikhlas, sabar, rida, bersyukur, seringkali tertanyakan “Apakah aku sudah sabar?” atau “Seberapa sabarkah aku?”. Jawabannya tidak pernah aku temukan dan tidak pernah terjawab dengan puas hingga memahami makna sebuah ujian. Ujian dari Sang Penguasa, Sang Sutradara. Bukan ujian di sekolah atau ujian kerja. Yang terkadang tidak selalu atau tidak cukup menggambarkan ‘kamu’. Entah terkadang soalnya tidak sesuai dengan yang diajarkan, entah jawabannya terlupakan saking gugupnya, entah tidak fokus menjawab karena cuaca terlalu panas, sakit perut, entah ini dan entah. Namun ujian dari Yang Satu rasanya memang menyibakan siapa aku sebenarnya. Sebab memang ujiannya dalam diam dan hasilnya merupakan rahasia yang benar rahasia sebab hanya diri dan Yang Satu yang tahu hasilnya. Permisalan sederhananya, jika aku dihadapkan pada kehilangan sesuatu yang amat kucintai, amat kusayang, seberapa sabar dan ikhlasnya aku dengan ketetapan itu? Atau bahkan aku tidak bisa sabar? Aku tidak terima? Atau aku bisa ikhlas setelah sekian lama. Ujian yang tepat sasaran, demikianlah aku memandangnya. Tidak akan pernah terlalu berat ataupun terlalu mudah. Tidak akan salah sasaran, pasti untukku dan jikapun orang lain juga mengalaminya pasti dengan kadar dan proses menghadapi yang berbeda. Sesayang itu Yang Satu dengan masing-masing aku. Hingga diciptakan sesuatu yang khusus, spesial dan tidak akan pernah sama.

Maka bisa saja orang melihatku tidak ikhlas atau sebaliknya, namun dalam diam dan rahasia terdalam, hanya aku yang tahu dan Yang Satuku yang Maha Mengetahui. Bisa saja juga aku berkoar aku ikhlas, aku sabar namun tetap, dalam rahasia terdalam hanya aku yang tahu dan Yang Satuku yang Maha Mengetahui. Maka rasanya bukan tanpa sebab ia dikatakan amalan hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s