Rimah – #1

Pelajaran pertama hari ini adalah Matematika dengan beliau. Telah lewat dua puluh menit dari jam tujuh pagi. Sebelumnya tidak ada kabar beliau akan terlambat. Sedari tadi kelas memang tidak terlalu ribut walaupun satu dua orang berbicara dengan suara yang mestinya dapat mewakili enam orang. Kelas kami terletak di tingkat dua, yang mana dari jendela bangku bagian belakang kelas ini dapat dengan jelas melihat ke arah jalan yang menuju ke sekolah, meski hanya beberapa meter saja. Namun cukuplah jika sanggul beliau telah nampak berjalan di sana, bisa menyiapkan kelas dengan waktu yang cukup. “Buk Nini Buk Nini..”, kode teman paling belakang. Jadilah kami merapi-rapikan apa yang mesti dan tidak mesti dirapikan. Mengatur-ngatur napas agar tenang. Beberapa menit kemudian, mulai terdengar dakak sepatu beliau menaiki tangga. Deg-deg deg-deg. Mulai terlihat sanggul beliau dan wush beliau memasuki kelas. Kelasnya senyap, jantungku di dalam lebih hiruk dari pasar di hari pakan. Sedemikian hebat biusnya, seperti itulah pengaruh beliau pada kami. Tak terbeda lagi mana anak mada, mana yang anak baik-baik, mana yang malas mana yang rajin, mana yang pendiam mana yang pahiruak.  Semua kami sama, sama-sama diam kala pertama beliau masuk kelas. Killer? Mungkin. Tapi yang pasti, setakut-takutnya aku belajar dengan beliau, matematika dan sejarah adalah pelajaran yang paling kusenangi. Sedeg-deg-annya belajar dengan beliau, waktu itulah yang diam-diam paling kunanti. Seciut-ciutnya aku melihat rotan, spidol, penghapus papan tulis dan tangan kanan beliau, namun hal-hal itu punya kenangan yang sungguh takkan mau ku tukar dengan apapun.

 

Berkesan. Satu kata yang yang agaknya cukup mendeskripsikan bagaimana pengalaman dengan beliau. Perempuan anggun nan tegas. Identik dengan postur tubuh yang tegap dan tinggi untuk ukuran perempuan. Beliau memakai selendang yang kedua ujungnya teruntai ke kedua bagian belakang bahu, jangan lupa sama panjang aka simetris. Telah lama beredar rumor tentang ke-tegas-an beliau, baru di tahun ke enam hal itu terkonfirmasi. Aku masih ingat jelas kali pertama beliau masuk ke kelas, saat itu aku kelas empat. Beliau masuk hanya beberapa saat, memastikan kami tidak meracau saja karena guru kelas tidak dapat hadir hari itu. Benar, tepat itu kali pertama beliau masuk ke kelasku. Mata ajar saat itu adalah sejarah. Aku masih ingat sampul buku cetak dan sekilas gambar pada halaman kerajaan Sriwijaya dan Kertanegara di buku cetak yang beliau singgung. Kami diminta untuk membaca bagian tersebut, aku agak lupa apakah disuruh mencatat atau tidak. Sebelum diminta membaca, beliau juga menyebutkan beberapa nama dan kejadian yang berkaitan dengan kerajaan-kerajaan tersebut. Kentara sangat pintar dan penguasaan beliau akan materi. Hanya itu, lalu beliau kembali ke ruangannya dengan sebelumnya berjanji akan kembali untuk mengecek apakah kami sudah membaca (dan mencatat?). Benar saja saat jam-jam akhir beliau kembali mengecek.

Dua tahun kemudian, aku cukup dibuat deg-degan saat tahu beliau turun tangan mengajar langsung murid kelas 6 di mata ajar matematika (absolutely) dan sejarah. Gambaran beliau yang sebelumnya pintar, manis dan murah senyum berubah seketika. Memang tak lantas semua, kepintaran beliau sangat-sangat aku kagumi dalam diam walau itu membuatku ciut-ciut gemas. Setelah beberapa minggu belajar langsung dengan beliau, jujur saja hari-hari rasanya lebih bewarna, lebih hidup, lebih menantang. Biasanya ke sekolah adalah rutinitas yang tidak terlalu bewarna, dengan beliau tidak lagi ku pandang rutinitas melainkan, “apalagi ya kira-kira hari ini?”. Bagaimanapun diusahakan agar tidak datang terlambat. Diusahakan menyelesaikan tugas jika ada, semati-mati angin. Oh ya, sebelum belajar dengan beliau ada beberapa ha yang harus kami penuhi dan salah satu yang paling berkesan adalah rotan. Kelas diminta menyediakan sendiri rotan yang akan digunakan. Terserah, mau yang diameternya kecil atau besar dan dengan panjang minimal yang beliau tentukan. Seketika hari perkenalan itu juga imajinasiku mulai melayang-layang untuk apakah gerangan rotan? Yang jelas bukan untuk menggaris, sebab pengaris kayu sudah dua buah, busur dan jangka untuk papan tulis pun telah ada. Malambuik? Malacuik? Cukup, sekian saja imajinasinya, jangan ke mana-mana lagi. Hal kedua yang harus dipenuhi adalah menyiapkan buku catatan matematika bersampul merah, buku latihan dan buku bank soal. Ketiga buku ini yang nantinya menjadi tiga serangkai yang jika tak bersua satunya bisa membuatku sakit perut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s