Rimah #2

Jangan mendekat. Itu yang ingin kusampaikan. Jangan penasaran. Itu nasihatku. Kamu tak kenal aku jadi jangan berpikir akan aman-aman saja jika mendekat. Kamu tak tahu, aku monster. Ya, tepatnya bisa sewaktu-waktu menjadi monster. Kamu tahu fisik bukanlah hal yang bisa dipegang benarnya, namun tetap saja jangan mendekat.

Saat ini aku sungguh telah membencimu. Benci gayamu, pergaulanmu, caramu, benci semuanya. Jadi jangan lagi muncul dihadapanku. Tolong jangan lagi. Entah dalam bentuk apapun. Namamu yang disebut-sebut, bayangan dalam mimpi, atau apapun yang berhubungan denganmu itu sama saja dengan kamu. Itu perlu kamu tahu, aku sangat benci orang seperti itu.

Tapi, apa kamu juga tahu? Aku yang membenci ini selalu berharap agar kamu berubah. Aku yang membenci ini selalu membayangkanmu sebagai manusia yang sedang khilaf saja, selalu. Walaupun jika semakin dirasa harapan ini adalah semu, sangat jauh dari nyata, kemungkinan terwujudnya kecil, namun tetap saja aku ingin membenarkan bahwa kamu orang baik. Entahlah itu kapan, aku kurang peduli. Selalu membela setiap kali menghujatmu, itu sungguh membuatku lelah. Terkadang aku senang dengan lelah yang seperti itu. Jadi, tanpa aku membenci atau apapun yang kurasa beralihlah menjadi manusia yang baik karena kamu memang seorang yang baik. Jangan lagi kesana dan sini menebar senyum. Jangan lagi melihat dengan maksud untuk mendapatkan, coba lihat dengan hati yang tulus. Akan banyak yang kamu dapati. Berjalanlah ke arah yang benar, karena kamu tahu mana arah yang benar. Jangan mencurangi hati lagi. Sungguh aku benci orang seperti kamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s