Rimah #3

Sepiring melanjung nasi putih dengan asap mengepul mulai diaduk bersama merahnya samba lado oleh tangan tebalnya. Tidak ada satu tiupan pun yang dikeluarkan untuk sekedar meliukan asap yang mengepul. Tangan tebalnya tampaknya semakin kuat setelah menerima banyak pujian. Bagaimana tidak, sepanas apapun nasi ia akan tetap mengaduk. Si tangan semakin kuat melakukan hal yang hanya ia seorang yang bisa lakukan di rumah (itu). Dia memang memiliki kebiasaan untuk mengaduk nasi dengan lauk, ya paling tidak dengan yang berkuah.  Hanya jika makan di rumah, tidak di luar. Aroma nasi berwarna kemerahan itu kini membuatnya menitikan air liur. Sepotong telur dadar dengan aroma bersaing ditumpuknya di atas nasi kemerahan. Secuil dadar dan sesuap nasi telah berada di genggamannya. “Lah, baca doa makan”. Kedua orang yang sedari tadi memperhatikan adegan menggugah selera tersebut langsung patuh dan “Aamiin”. Segera yang berada di genggaman tadi berpindah ke mulut salah seorang dari dua. Reda namanya. Bibir tipisnya menganga besar mengimbangi suapan sang ayah. Dikatupkan setelah terisi penuh, lalu mengunyah. Nikmat. Berikutnya giliran Anda. Anak sulung ayah ini menikmati suapan dengan mata terpejam, malas merasakan bibirnya yang menganga lebar. Bergantian hingga nasi di piring habis, di tambah lalu di aduk lagi dan habis. Keduanya sangat berterima kasih dan kemudian berpaling ke arah televisi. Sang ayah, Arya menyendokan nasi untuk ketiga kalinya dengan porsi sama melanjung, samba lado, mangalincoan, dadar dan makan. Kepedasan, kecepatan, kenikmatan, keringat, eksotis. Satu lagi ritual saat makan yang tidak terlupa, menjilati jari jemari. Nikmat hingga tak boleh tersisa barang sebutir nasi pun. Ia mencuci tangan kemudian berselojor di dekat Reda. Anda dan Sani, sang ibu membereskan seperangkat hidangan tadi. Meja makan dan lemari es selalu menjadi hal menarik untuk didekati. Hanya sekedar memeriksa apa yang bersembunyi. Membahagiakan, yang berhubungan dengan lambung. Bahkan jika pada keduanya tidak ada apa-apa, kebiasaan memeriksa ini harus diapakan selain hanya dilakukan? “Tidak ada apa-apa”, Anda menutup lemari es, menuju dapur. “Ibu, nanti kita bikin lauk apa Bu? Hmm, taragak baluik lado ijau Anda Bu”. “Baluik? Kalau gitu, setelah ini kita ke pasar. Membayangkan lado ijau dan nasi yang baru masak sepertinya pasangan serasi. Sayurnya Mau apa?”. “Ndeh, sayurnya terserah ibu aja. Anda ndak suka sayur Bu”. “Walau ndak suka, harus dimakan biar sedikit. Lihat, kulit Anda mulai kering”. “Jadih lah Bu”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s