Dia Sayang Keduanya

Masih berdiri mematung di sana, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Tak mungkin bisa rasanya ia melupakan, walau sangat ingin. Dia, orang yang selama ini sangat ia hormati, sangat ia sanjung, ia jadikan pedoman kala memilih seseorang nanti menampar ibunya, di ruang tamu. “Apa salah ibu hingga pantas di tampar?”. “Apakah ini sering terjadi?”. “Apa hanya dia seorang yang baru menyadari ini?”. “Apakah…..”. Masih banyak pertanyaan lain yang membuatnya takut melanjutnya karena takut pada jawabannya. “Apakah ayahnya seorang yang demikian?”. Bukan seorang lelaki yang selama ini ada dalam bayangannya? Mereka berdua tidak menyadari kehadirannya, sebab jauh di belakang pintu dari perantara selanya. Mereka terlalu asik dalam dunianya, hingga kehadiran dia tak sempat tersadari.

Dia berjalan lambat ke kamar dan duduk lantai dekat jendela. Terlalu shock untuk menangis, dan belum cukup bijak untuk mengerti. Gadis dua belas tahun itu memandang jauh ke langit, entah apa yang ia amati. Apakah langit dapat menjadi kanvas untuk menayangkan adegan-adegan masa lalu, tadi dan masa yang akan datang? Beberapa lama setelahnya, mulai jatuh setetes dari mata kanannya. Ia usap, lalu kerlip-kerlip kan mata. Di atas meja, ada sebuah album dengan sambul biru dongker berukuran 30 x 50 cm. Diambilnya dan dibuka perlahan. Halaman pertama terdapat enam foto. Ayah dan ibu ketika masing-masing masih muda, gadis dan bujang di waktu dan tempat berbeda. Empat foto lainnya adalah foto saat resepsi pernikahan mereka. Penuh dengan nuansa merah. Berulang-ulang ia amati, berusaha melihat apa yang selama ini, setiap kali ia membuka halaman pertama album, tidak ia lihat. Deg. Terlalu bodoh atau butakah ia selama ini tidak memperhatikan bagaimana ekspresi wajah ketika melihat beragam foto? Ekspresi wajah! Ibu dan ayahnya. Mereka memiliki ekspresi yang berbeda. Ya, barangkali memang ada ekspresi wajah orang berbeda-beda untuk menunjukan hal yang sama. Tapi ia serasa sangat yakin bahwa apa yang dilihatnya kali ini benar. Dan bukan sesuatu yang bisa ia tangani. Apakah orang dewasa demikian? Apakah selalu demikian?

Di empat foto di halaman pertama itu, ibunya menunjukan ekspresi datar. Atau lebih tepatnya berusaha mendatarkan ekspresi? Dan bisa dibayangkan apa yang dia rasakan saat itu. Yang jelas bukan bahagia. Deg. “Itukah?”, suara kecilnya bertanya. Pandangannya beralih pada sang ayah. Dia tersenyum bahagia, dia yakin, dia tahu senyum ayahnya. Memandang ke langit lagi, ia coba berbincang dengan diri sendiri. “Apa yang harus ia lakukan?”. “Haruskah ia berpihak? Pada siapa?”. Pertanyaan tak berujung dan tak terjawab hingga akhirnya ia tertidur dalam posisi duduk menyandar pada dinding. Dia sayang keduanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s