Terlambat Jatuh Cinta

Aku terlambat, sungguh ku akui ku terlambat menyadari dan mensyukuri apa yang kupunya. Sejumlah ini usiaku, baru beberapa tahun belakangan aku tersentak sadar dan tersadarkan. Sungguh merugi atau apapun yang bisa kurutuki pada diri sendiri. Terlambat melihatnya, terlambat merasakannya, terlambat menikmatinya, terlambat menjadi temannya, terlambat membuatnya tertawa dengan sesadar-sadarnya kesadaranku.

Terkadang memang ya, kita membutuhkan suatu penyentak yang sangat kuat terlebih bila memang menyadari kekeraskepalaan diri. Syukurlah, walaupun terlambat, sentakan sangat kuat itu akhirnya ku dapatkan, walaupun masih butuh waktu pula bagiku ketika itu menyadari hikmah dibalik sentakan yang membuatku tak mesti tidak menyusun kepingan puzzle pandangan hidupku kembali.

Di masa itu, aku menyadari kebodohan diri, sekali lagi. Dia yang selalu ada di dekatku. Dia yang selalu pertama kali menelpon, selalu dan pasti selalu mendoakan apa-apa kebaikan untukku. Dia yang selalu dengan beratnya melepasku pergi, dan hampir tiap saat menelpon bertanya kapan pulang. Dia yang tidak pernah bilang mencintaiku, namun apa yang kuterima dan segenap yang ada padanya lebih dari sekedar cinta yang tak bisa kuungkap dalam kata. Dia yang rasa-rasanya selalu keras padaku namun paling terdepan dalam membela dan mengusahakan mimpiku. Aku kehilangan momen mengamati wajahnya kala dia mengeraskan suara, kala dia diam jauh beberapa tahun silam. Aku kehilangan momen, saat dia melepasku, jauh bertahun-tahun silam.

Hanya beberapa tahun belakang, aku rasa aku bisa dengan sadar sesadar-sadarnya melihat dan merasakannya. Melihat ke dalam matanya yang indah, perubahan bentuknya kala ia antusias bercerita, kala ia menahan diri agar tidak marah, kala ada sesuatu yang ingin disampaikan namun ditahan, kala ia sedih, kala senang, kala tenang, kala gelisah dan sebagainya, aku bisa melihat itu sekarang. Merasa kelengkapan saat aku tahu dia ada di dekatku, merasa aku punya orang terkuat di sampingku yang rasanya tak ada yang tidak bisa dilakukannya.

Aku jatuh cinta padanya, meski sudah terlambat, aku tetap jatuh cinta padanya. Memperhatikannya setiap ada kesempatan. Membayangkan dia, jika berjauhan. Aku menemukannya tetap manis, kuat dan entah apalah itu kata-kata yang mewakilinya. Terkadang aku bertanya-tanya sendiri, begitukah jatuh cinta? Bahagia hanya dengan melihatnya? Aku diam-diam senang mengamatinya saat tidur, menonton tivi, saat dia serius menulis, serius bicara, saat dia membicarakan hal-hal tak penting agar kami tetap berbicara. Aku suka caranya menggulung pakaian, caranya mengaduk kopi, caranya duduk dan berdiri, caranya mengalihkan pandang ke kanan dan kiri saat salam penutup shalat. Aku suka semuanya, dan terlambat menyadarinya.

Aku jatuh cinta akan kebaikan, kegigihan dan keberaniannya. Sempat terpikir olehku jika aku tak diciptakan dalam hubungan spesial ini dengannya, pastilah tak ada kesempatan bagiku untuk mendapat setidaknya hanya satu pandangannya. Aku tak ada apa-apanya, sangat. Jikalau kami teman satu kelas, adakah kesempatanku untuk menjadi temannya? Jikalau dia berwujud seorang guru, adakah kesempatanku melihat sisi lain kecerdasannya? Aku mengagumi, mencintai dan tergila-gila dengannya. Tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa kubandingkan dengannya. Tak ada. Sebab dia satu-satunya untukku. Nikmat terindah rasanya bisa melihat dia sebagai seorang yang utuh, menerimanya seutuh lengkap dengan keseraman dan kecantikannya.

Sekali lagi, aku sudah terlambat menyadari. Maka, tak masalah bagiku jika sebelum waktunya tiba untuk jatuh cinta pada kadar yang berbeda, tetap di dekatnya dan jatuh cinta lagi lagi dan lagi saja padanya. Tak masalah jika aku tak bisa pergi jauh, tak bisa seliar yang ku mau, asal dia senang ada aku di dekatnya. Tak masalah jika aku tak bisa naik gunung dulu, asal dia tenang. Sekali lagi, tak masalah bagiku, asal dia guru sejatiku, teman terbaikku, psikolog andalanku, motivator termumpuniku, adik termanjaku, lawan terganasku, nenek tercerewetku tenang. Aku jatuh cinta dengan Ibu ter-segala-ku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s