Hanya Memberi Tahu

“Aturan macam apa itu yang kamu buat? Tidak memperbolehkan orang lain jatuh cinta? Memangnya kamu siapa bisa mengatur apa yang dirasakan orang?”, masih terngiang-ngiang ucapan dan ekspresinya. Dia tidak marah, dia tahu itu. Dia hanya kesal. Mengapa dia tidak bisa atau setidaknya sedikit saja mau mengerti. Dia pun sering berpikir mengapa dia tak bisa membiarkan dirinya mengerti. Tidak akan serumit itu jika, sedikit saja dia mau menerima apa yang yang dilihat dan dirasa selama ini. Sadar sesadar-sadarnya, dia memang begitu. Meski berkali-kali dia memberitahukannya, namun memang tak pernah sekalipun dia meminta dicintai, dia hanya memberi tahu bahwa dia mencintai. Terlalu egoiskah dia tidak membiarkannya dengan perasaannya? Terlalu egoiskah dia menutup mata atas apa yang benar-benar dia lihat? Sehatkah jika dia membohongi diri sendiri sekali lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s