Durian Kamang: Dak Bisa “Setidaknyo lah mancaliak walau dak mancubo”

Daerahnya masih asri, masih banyak hijau-hijauan yang sangat sedap dipandang. Seringkali terlupa untuk membidiknya agar bisa dilihat-lihat lagi nanti. Ya bagaimanalah, rasanya sayang melewatkan beberapa detik untuk mengambil dan mengatur kamera. Walau sudah berkali-kali melewati daerah ini, tetap saja pesonanya tak luntur. Hamparan sawah, sungai-sungai kecil dan banda-bandanya, kelompok-kelompok burung serta formasinya yang menakjubkan saat pulang di senja hari, itiak pulang patangnya, barisan bukit yang mengelilingi, pasarnya, dan petani yang berjalan pulang dengan cangkul di bahunya. Indah, semuanya.

Beberapa minggu lalu, satu lagi yang membuatku terkagum di daerah ini. Sepanjang jalan hampir berkilo-kilo meter, kiri dan kanan pohon-pohon durian berbuah. Hmm, sebagai yang suka durian walaupun tidak terlalu mengharu biru, ya kalau ada yuk santuang kalau tidak ada ya tidak juga memaksakan. Tapi melihat pemandangan begitu rasanya terlalu polos untuk tidak ingin. Namun sepanjang jalan juga, belum ada durian yang dijajakan. Tidak berapa lama lagi harus berangkat dan sangat sedih rasanya kalau tidak dapat menikmatinya. “Caliak tu a” (Lihat tu), seru Ibu yang tak berhingga seringnya sepanjang jalan. “Setidaknyo lah mancaliak walau dak mancubo” (setidaknya sudah melihat walau tidak mencicipi), hibur Ibu.

Meski harusnya tidak memikirkan, namun sekali ini saleroku mengalahkan logika. Mesi sudah berkantung-kantung duku yang dimakan, tetap tak terlelap. “Dak bisa diumbok jo duko bagai”. Dua hari lagi berangkat dan rasanya ingin menangis karena belum kunjung ada yang menjual. Ya apalah daya, sudah bertahun-tahun tidak makan durian. Musimnya sebentar lagi.

Jadilah tanpa pemberitahuan sebelumnya, sore itu Ibu membawa 3 buah durian. “Tadi sudah ada beberapa orang yang jual di pinggir jalan”, jelas Ibu. Ukurannya sedang, tidak besar tidak kecil. Ketiganya dibuka malam itu juga. Alhamdulillah, MasyaaAllah luar biasa sekali rasanya. Tidak ada apa-apanya dari durian terakhir yang kucicipi bertahun-tahun lalu. Lembut, aromanya MasyaaAllah. Tapi rasanya kok ya masih gantung puasnya. Manusia.. Manusia.. Jadilah besoknya dibeli lagi dan puasnya sangat terpuaskan sampai demam. Memang ya, durian Kamang tu MasyaaAllah. Dak do lai!

Bagi yang ke atau di Bukittinggi, jalan-jalanlah ke Kamang. Apalagi saat musim durian ini. Langsung beli ke pohonnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s