Kita yang Sama Berbeda

Malam hampir larut, telah dua setengah jam setelah adzan Isya. Telah lama sekali rasanya tidak seperti ini, lama sekali. Seperti ini saja lebih sering adalah rasanya akan lebih berharga dari makanan lezat apapun, sejumlah uang berapapun. Hanya membayangkan yang seperti ini saja terjadi lebih sering bahagia sekali rasanya. Tersenyum.

Berjalan berdampingan dengan sejuta bahan cakap dibenakku. Seperti ini dengannya membuatku merasa haru. Setidaknya membenarkan dia masih ada untukku, sekarang di sini. Dapat sementara terkesampingkan bahwa dia tak (lagi) hanya untukku, tak lagi sering bertanya tentangku, tak lagi sering rela bercerita denganku tentang topik apapun. Apapun hal berat yang pernah ia transfer padaku dalam bentuk nasihat, pertanyaan pemantik, narasi, kisah hidup, apapun. Aku rindu, sangat.

Berjalan berdampingan seperti ini terasa sangat intimate bagiku. Jika ada orang yang bertanya apakah pernah dating? Jelas tanpa panjang pikir kujawab, “iya, pernah”. Ya, yang seperti ini cukup intimate.

Banyak hal yang berubah, entah ini entah itu, pun banyak yang tidak. Banyak yang masih terasa sama walau kini di sini sudah nyata berubah. Aku tak lagi anak kecil yang bebas kian kemari saat berdua keluar rumah menggenggam tangan kokoh, tebal dan hangat seorang dia. Namun saat kini berjalan di sini dengannya tanganku masih sama, masih terasa ingin menggenggam tangannya yang walaupun tidak, kokoh tebal dan hangatnya masih jelas terasa. Dia tak lagi berjalan selincah dulu, bisa sejauh dulu, sesantai dulu. Dia yang sekarang yang berjalan di sampingku tiap jarak persekian harus rehat sejenak, namun masih sefokus dulu jika ku banyak bertanya. Dia yang dulu selalu punya banyak cadangan bahan ketika berdua yang tak pernah mati kutu, sekarang tak lagi banyak mengumpan hanya merespon secukupnya, sebijaknya.

AF

Aku rindu dia yang dulu, tentu. Teramat sangat tentu. Namun tak bisa juga tak kusyukuri kesempatan yang masih diberi untuk masih bisa di sini dengan dia bersamaku. Meski tak lagi sama, meski tak lagi hanya aku, dia dan kita. Terima dan harus terima. Perjalanan waktu dan kita di masingnya membuat masing-masing kita perlahan berubah. Sunnatullahnya memang demikian, walau tak menjadi saksi mata untuk tiap perubahan di masing-masingnya namun tentu ada yang tak luput disaksikan. Terima dan harus terima bahwa kita yang berjalan berdampingan sekarang ini telah berubah dan berbeda. Namun harus disyukuri, kita yang berbeda ini, walau jauh tersembunyi, walau bisu tak terungkapkan, masih kita yang dulu. Kita yang sama-sama saling mencintai. Kita yang sama-sama tetap berharap bisa saling menjaga walau tak berdekatan. Kita yang sama-sama tetap saling mendoakan. Aku yang tetap pengagum setianya dan dia laki-laki tak sempurna yang selalu sempurna bagiku. Aku yang tetap gadis kecilnya dan dia yang tetap ayah terbaikku.

One thought on “Kita yang Sama Berbeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s