Tita Di Suatu Senja

Punggungnya telah tampak mengecil di ujung sana. Tak sekali juga ia melihat ke belakang. Seakan aku bukanlah hal yang dengan berat hati ia tinggalkan. Sedari ia membalik badan tadi, aku diam-diam berharap ia membatalkan atau setidaknya mengajakku serta. Aku diam-diam berdoa. Hingga dirinya hanya tampak setitik hitam, tidak terkabul. Aku membalik badan. Mataku panas. Aku tidak suka dengan perasaan seperti ini. Aku benci perasaan seperti ini. Tidak ada permen atau jajanan di warung depan yang bisa mengobatinya. Uangku telah habis namun rasa itu masih tak berkurang, bahkan mungkin bertambah.
Aku tidak suka dibohongi. Dan baru ku tahu itu sekarang. Berjanji, tidak akan membohongi (walau di kemudian hari ini bisa dikembangkan buku besarnya). Tidak ingin memberi rasa yang dirasa sekarang dengan sengaja pada orang lain. Aku tak pernah memintanya untuk berjanji, aku tidak. Dia yang dengan sendirinya berjanji padaku seminggu yang lalu. Berjanji akan membawaku ke pasar. Sebenarnya bukan ke pasarnya yang membuatku girang, seminggu lalu itu. Tidakkah dia tahu, pergi dengannyalah yang membuatku girang. Kemanapun dia membawaku, asalkan dengan dia, aku girang, aku senang. Sebab jarang sekali aku bisa pergi berdua dengannya. Sembari berjalan, memegang jari tangannya, menggenggam tangannya yang hangatnya berbeda dengan tangan-tangan lain. Aku merasa tegang di dekatnya namun juga merasa paling aman di saat bersamaan. Sensasi yang demikian yang membuatku girang pergi dengannya. Bukan ke pasar dan bisa membeli ini itu, bukan. Taukah dia itu? Ku rasa tidak. Makanya ia seperti tadi.
Aku tak memintanya berjanji. Aku tak meminta. Makanya berkali-kali di minggu lalu kutanyakan, “benarkah”? berkali-kali pula ia meyakinkan, “benar”. Seminggu ku persiapkan semuanya. Seminggu ku nantikan hari ini. Setiap bangun pagi betapa senangnya hari ini kian dekat. Kemarin malam telah ku pilih baju gaun yang pernah ia katakan cantik saat dikenakan olehku. Sebelum tidur ku taruh di kursi di samping meja belajar, lengkap dengan aksesoris yang pernah ia katakan cantik saat dikenakan olehku. Jepit rambut, cincin dan gelang. Walaupun aku tidak suka dengan style yang ia katakan aku cantik, tapi aku akan kenakan style itu karena menurutku saat dengan itu ia melihatku penuh, memujiku dan itu membuat perutku mangaranyam yang ku ingin rasakan lagi dan lagi.
Sebenarnya aku tidak masalah jika tidak jadi, hanya saja ia perlu dan sangat perlu menjelaskan padaku alasannya. Agar aku dapat mengerti dan tidak merasakan rasa yang ku benci ini. Merasa terkhianati, dibohongi. Aku rasa aku tidak begitu kecil untuk dapat memahami keadaan orang lain. Aku telah bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Aku tidak seegois itu untuk hanya memaksakan kehendakku meski tahu alasannya kenapa. Usia sembilan tahun tidak begitu bayi untuk bisa mendengar dan mencerna alasan mengapa dia tidak jadi mengajakmu ke pasar kan?
Ia hanya perlu memberi tahuku, aku cukup besar untuk mengerti. Jika ia pikir tak apa membatalkan sepihak janji yang seminggu lalu telah dibuat bagi anak usia sembilan tahun tanpa memberitahu alasannya, ia salah besar dan sangat salah. Mataku sangat panas hingga tak tertahan butiran air panasnya jatuh, dan aku benci menangis. Aku pada diriku berpesan agar tidak mudah percaya lagi.

Tita, gadis kecil sembilan tahun di suatu senja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s