(Jika) Inilah Saatnya

Matahari telah meninggi. Rambutnya sesekali menutupi pandangannya, diterbangkan angin. Pemandangan lepas seperti ini telah menjadi satu dari sekian cara bisa menemukan dirinya yang tenang, yang tak lagi ketakutan, tak lagi mendendam tak lagi sedih dan tak lagi insecure. Meski ketidaksengajaan bertemu dengannya namun rasanya tak ada yang namanya ketidaksengajaan dalam kamus hidup yang sebenarnya. Hanya dalam pengertian dan pemahaman kita. Kita yang ilmunya sangat sedikit.

Dia yang sekarang telah dewasa dan secara fisik tumbuh menjadi seorang lelaki gagah, di tempat seperti ini dan pada pemandangan lepas ini dapat leluasa bahkan tanpa sadar meneteskan air mata. Air mata sedih, marah, kecewa, takut dan nano-nano lainnya. Bukan tipe yang banyak bicara di keseharian. Terlihatlah misterius salah satunya karena itu. Namun salah satu yang diingat orang jika mendengar namanya adalah senyuman(nya). Tak banyak bicara namun murah senyum. perpaduan mantap. Kata orang, wajahnya tampan. kulitnya kecoklatan bersih. Posturnya tergolong tinggi terlihat sehat tidak berlebih tak berkurang. Dia tahu Allah karuniakan dia fisik yang sehat, wajah yang elok yang tak lama sebelum ini ia baru berkeyakinan tak boleh menyalahgunakannya.

Siluet man

Usia 28 menjelang 29 tahun bukanlah usia yang sedikit, cukup panjang saat dijalani perharinya, perdetiknya. Seorang yang insecure dalam beberapa hal yang sebenarnya cukup besar. Telah ia terima kenyataan itu, tak bisa dan tak boleh denial lagi. Sebab akan mengaburkan untuk melihat dia sebagaimana adanya dia. Butuh waktu memang untuk dapat berlapang dada menerima diri sebagaimana adanya kita. Tak mudah, tentu. Manusia bukankah seringnya selalu menuntut yang sempurna? Manusia bukankah seringnya kurang bersyukur? Entah bagaimana cara Tuhan membukakan hati dan pikirannya untuk mulai mengakui bahwa ia tidak baik-baik saja. Dia selalu dengan cara-Nya yang misterius dan ajaib membolak-bolakan hati, sebab memang Dia penguasanya. Dirinya yang sekarang adalah dia yang menerima siapa dia sebagaimana dia dan bersungguh-sungguh memperbaiki yang harus dan bisa diperbaiki.

Bertemu dengannya dalam bentuk ketidaksengajaan barangkali adalah satu dari sekian banyak caraNya menegur. Tak jarang orang hanya melihat apa yang tampak, mendengar apa yang terucapkan kemudian menyimpulkan dengan lancang dan tampaklah semuanya baik-baik saja. Dan tampaklah semuanya sempurna, sebagaimana semestinya. Namun dia, melihatnya lebih dari itu. Meski tak banyak bertukar cerita, ia tahu ada yang lain. Awalnya dia merasa ditelanjangi, dikasihani dan dikritisi. Namun hati terdalam tahu, bukan itu maksudnya.

Di usia segitu, bukan dia hendak mengabaikan bukan ia hendak pura-pura tak tahu tuntutannya. Ia tahu dan sangat tahu betul. Hanya saja hati dan pikirannya tak pernah bertemu pada satu titik perbincangan. Tiap kali pertanyaan itu dikedepankan, hati dan pikiran bersikeras dengan jawaban masing-masing. Terlalu complicated di dalam, namun di luar terlihat masa bodoh. Dan bertemulah dengan dia, yang dengan perlahan membantunya melihat dengan lebih terang, mendeteksi dengan lebih akurat dan merasa dengan lebih sensitif terhadap apa adanya dia. Tak terasa ingin menghakimi, berbagi energi positifnya.

Mungkinlah benar apa yang orang-orang katakan. Jika waktunya sudah datang, dengan cara bagaimanapun, dalam keadaan bagaimanapun yang didatangi dan mendatangi akan tahu bahwa inilah dia dan inilah saatnya.

 

 

 

*Gambar diambil dari unsplash.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s