Me-nikah

Satu dari sekian fase-fase kehidupan (dunia). Ada orang yang menapaknya lebih awal pun ada juga yang terlambat jika dibandingkan dengan rata-rata (dan dalam kaca mata kita manusia).

Tepat tadi malam, mengetahui salah seorang yang aku cukup hormati akan menikah. Akhirnya Alhamdulillah. Sangat bahagia sekali sebab banyak hal yang menuntutnya untuk segera menikah dan akhirnya.

Kabar tadi hanya sebagai pembuka saja. Kali ini aku ingin melanjutkan refleksi #1 lalu yang dijanjikan bersambung namun tak kunjung disambung-sambung. Awalnya sedikit malu-malu (hueek) melanjutkannya, namun sebagai pemenuhan janji pada diri sendiri dan rasa-rasanya juga tidak aku sendiri saja yang mengalami (barangkali ada yang senasib). Tidak semengiba itu pula lah ya. Namannya juga refleksi, perenungan yang membuahkan sebuah pemikiran.

Membahas pernikahan bagiku pribadi adalah sebuah hal yang sedapat mungkin dihindari, dahulunya, tak lama sebelum ini. Pernikahan bagiku kala itu merupakan sesuatu beban berat yang ku tak ijinkan memasuki pikiran. Beberapa tahun lalu, saat teman-teman seusiaku sangat antusias membahas tema ini hingga berjam-jam lanjut jam-jam berikutnya hingga selalu menjadi bahasan seru pembangkit semangat, pengalih fokus mengerjakan tugas kuliah. Saat teman-teman seusiaku ada yang mulai rajin mengikuti seminar-seminar atau kelas-kelas pra nikah, membeli buku-buku terkait ataupun mengikuti sosial media sosok-sosok vokal dan update membahas pernikahan entah itu dari kaca mata psikologi, Islam atau hanya sekedar cerita-cerita receh bagaimana pasangan yang diidolakan bermula hingga menikah. Di saat-saat seperti itu, aku masih saja sedapat mungkin menolak dan menutup diri. Hingga beberapa bulan belakangan, baru pikiranku dibukakan melalui celotehan seorang bapak yang tak sengaja ku dengar. Uh

Entah apapun yang menjadi penyebabku berpikir demikian yang jelas sesuatu di masa lalu berkontribusi besar atas itu. Tak usah diurai dan rasanya kurang pantas. Menekankan pada refleksi kembali, satu dua kalimat dari celotehan si bapak terbawa pulang olehku, tak kunjung menghilang berhari-hari. Itu awal mulanya. “Kenapa sih pemuda pemudi kita memilih untuk menunda menikah?”, beliau bertanya sebagai kalimat pemancing pada lawan bicaranya. Namun aku tertusuk, parah. “Kenapa ya”, pikirku. Seharusnya aku sudah beranjak dari sana, tapi ku ingin jawaban. “Ya, ada yang barangkali memang jodohnya belum ketemu, ada yang takut, ada yang nunggu lulus kuliah dulu, ada yang nunggu mapan dulu dan sebagainya”. “Masuk aku satu tu”, batinku. Singkat cerita, si bapak berpesan bagi mereka yang menunda menikah karena takut, “Cobalah pelajari ilmunya (fikih nikah), baca kisah-kisah rumah tangga ideal seperti Rasulullah saw, sahabat sahabiyah, lihat orang-orang yang rumah tangganya berhasil. Tidakkan sempurna ndaklah, tapi berhasil dan harmonis (disebutkanlah beberapa hal pokok) ya yang tenang dan biyati kita melihat rumah tangganya. Ketakutan itu bisa saja karena punya skema pernikahan yang negatif. Coba perbaiki itu. Dan yang paling penting, berdoa”. Panjang lagi celoteh si bapak, hanya kalimat tersebut yang teringat jelas.

Kupatut-patutkan kalimat tersebut, semoga Allah berkahi beliau dimanapun berada. Dalam refleksi sunyi, aku menangis berjilid-jilid. Benarlah nasihat lepas beliau. Skema negatif yang selama ini ku bawa kemana-mana dan tanpa sadar ku amin-i untuk waktu yang cukup lama.

Semenjak itu, banyak kebaikan-kebaikan pada keluarga orang lain yang memang dari lama sudah kukagumi namun tak kunjung ku mengerti harus diapakan dan dibawa kemana kekaguman tersebut. Dari dulu, sedari dulu aku tahu banyak orang-orang baik nan keren bertebaran di muka bumi ini, namun ku tak kunjung memanfaatkannya untuk memperbaiki diri, memberiku energi positif. Mereka hanya berlalu dalam sekedar kekaguman ini dan itu. Kini, MasyaaAllah hatiku lebih lapang. Perlahan berangsur-angsur ku pelajari ilmunya, kucari dan kuamati orang-orang baik nan keren sekaligus keluarganya jika ada dari mereka yang belum menikah maka keluarga asalnya yang menjadi target observasiku. Creepy? Semoga tidak ya. Sekarang, saat aku menulis “Me-nikah” ini, bukannya skemaku sudah positif total, tidak seinstan itu ya dalam kasusku. Namun Alhamdulillah sangat jauh kelapangan hati dan pikirannku setelah berjalan dengan mematrikan nasihat lepas si Bapak. Skemaku perlahan berubah. Tidak lagi melihat pernikahan seagai suatu yang menakutkan, hanya saja perasaan was-was yang kutahu karena kurang ilmu dan wasangka yang terkadang dibisikan membuat bertanya, “Kalau…..”.

Nah, sekian saja refleksi permukaanku, yang mendalamnya cukup ku bagi dengan Pemilik hati saja. Tentu masing-masing kita juga punya kan? Aku sangat ingin menyebarkan nasihat lepas si bapak ini kemana-mana. Jadi untuk teman-teman yang memiliki pemikiran serupa, bisa perlahan berbenah. Tak apa perlahan, asal terus berbenah. Menikah itu satu dari sekian banyak ibadah, dan ibadah memang sebaiknya dilakukan dengan berilmu. Perkara kapan menikahnya, biarlah Pengatur Skenario Terbaik yang tentukan. Perkara jadi atau tidak, biarlah jangan pusingkan. Untuk yang sudah menikahpun sangat tak apa jika ingin belajar lagi dan lagi, semoga setiap harinya selalu berpijak pada tujuan dasar ibadah. Untuk yang akan menikah, semoga dimantapkan hati dan pikirannya, Barakallah. Untuk yang belum menikah, yuk ilmui dulu, lagi dan lagi. Perbaiki diri, niatkan juga untuk ibadah karena memang seharusnya begitu. Jadi tidak akan tagageh untuk menikah dan tak akan kecewa jika ada halang rintang.

2 thoughts on “Me-nikah

  1. dindhaprimadini says:

    Kalau aku lebih takut kalau nantinya tidak bisa membangun hubungan yang deep as spiritual like elevating faith and capacity together.

    1. Anisa Fadilah says:

      Another level of my fear Din. Salah dua dr antisipasinya menurutku adl belajar ilmunya dan cr pasangan yg se visi. Klise yak. Moga Allah mudahkan kamu yaaa dear

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s